Tanda Ilmu yang Bermanfaat

Sudah sepantasnya kita untuk bersyukur kepada Allah, karena begitu banyak nikmatNya yang di berikan kepada kita semua. Padahal, jika kita menghitungnya pasti tidak akan mungkin bisa. Seorang hamba akan menyadari, bahwa kenikmatan apapun, baik  nikmat lahir, maupun batin, yang ada pada dirinya, maupun orang lain, semua adalah karunia Allah semata, yang wajib untuk disyukuri. Allah berfirman,

وَمَابِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya).” (QS. An-Nahl, 53)

Demikianlah sikap seorang hamba yang bersyukur terhadap limpahan nikmat dari Allah, dia tidak menyandarkan nikmat tersebut kepada ilmu, kekuatan, kegigihan, atau keuletan usahanya. Karena, sikap seperti itu adalah sikap seorang yang kufur terhadap nikmat-nikmat Allah, sebagaimana Qarun mengatakan tentang hartanya,

قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ

“Qarun berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.”

(QS. Al Qashash, 78)

Di antara sekian banyak kenikmatan yang Allah limpahkan kepada hambaNya, baik yang lahir, maupun yang batin, urusan dunia, maupun agama, maka yang paling mulia adalah nikmat ilmu yang bermanfaat dan amalan yang shalih, sebagaimana Allah memerintahkan hambaNya melalui lisan Rasulullah, untuk membaca surat Al-Fatihah dalam setiap rakaat shalatnya, dari ‘Ubadah bin Shamit, dia berkata, “Rasulullah bersabda, “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Ummul Qur-an (Al-Fatihah).” [HR. Al Bukhaari dan Muslim]

Sedangkan didalamnya terdapat do’a,

اهد نا الصرط المستقيم – صرط الذين أنعمت عليهم – غير المغضوب عليهم و لا الضالين

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka.” (QS. Al Fatihah, 6-7)

Syaikh As Sa’di rahimahullah berkata dalam tafsirnya, “Bimbinglah kami dan berilah kami hidayah taufiq menuju jalan yang lurus, yaitu jalan yang jelas yang akan menghantarkan kami kepada Allah dan surga-Nya.” [Tafsir Karimir Rahman, hal. 39]

Yang dimaksud dengan ‘nikmat yang telah Allah limpahkan kepada mereka’ adalah ‘mengilmui kebenaran dan mengamalkannya’. Sedang, kata ‘mereka’ adalah ‘beberapa golongan hamba Allah yang disebutkan dalam firmanNya,

وَمَن يُطِعِ اللهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلاَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُوْلاَئِكَ رَفِيقًا

“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: para nabi, para shiddiiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An Nisaa’, 69)

Merekalah hamba-hambaNya yang benar-benar merasakan nikmat syariat dan agama yang sempurna, sebagaimana Allah berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu.” (QS. Al Maa-idah, 3)

Oleh karena itulah Rasulullah berdo’a, “Ya Allah, berikanlah manfaat kepadaku dengan apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku dan ajarilah aku hal-hal yang akan bermanfaat kepadaku dan tambahilah aku ilmu.” [HR. At Tirmidzi (3599), Ibnu Majah (3833); Dihasankan oleh Syaikh Al Albani]

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ , وَ مِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ , وَ مِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ , وَ مِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, nafsu yang tidak pernah puas dan doa yang tidak dikabulkan.” [HR Muslim (2722) dan An-Nasai (8/269) dari Zaid bin Arqam]

Dengan hadits yang agung inilah Nabi e memberitahukan kepada kita sebagian tanda-tanda ilmu yang bermanfaat, di antaranya:

1. Khasyyah

Khasyyah adalah perasaan takut yang dilandasi oleh pengetahuan tentang keagungan siapa yang ditakutinya dan karena kesempurnaan kekuasaannya. Allah berfirman,

إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاؤُا

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Fathir, 28)

[Tsalaatsatul Ushuul, Ibnu ‘Utsaimin, hal. 60]

Dan berkenaan dengan ayat yang mulia ini, Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu berkata, “Maksud ayat tersebut adalah hanya saja yang takut kepada Allah dengan sebenar-benarnya takut adalah para ulma’ yang mengenalnya, karena ketika semakin sempurna pengetahuan dan ilmu terhadap Dzat yang Maha Agung, yang Maha Kuasa, yang Maha Mengetahui yang memiliki sifat-sifat yang sempurna dan nama-nama yang baik, akan semakin sempurna dan semakin besar pula khasyyah (rasa takut)nya.” [Tafsir Ibnu Katsir (6/566)]

Ibnu Mas’ud t berkata, “Bukanlah ilmu itu karena banyak hadits/riwayat, tetapi itu adalah khasyyah (rasa takut).” [Hilyatul Auliyaa’ (3/280)]

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hal itu karena ilmu yang bermanfaat menunjukkan atas:

a. Mengenal Allah dan hak-hakNya

Seperti nama-namaNya yang berada pada puncak kebaikan, sifat-sifatNya yang tinggi, serta perbuatan-perbuatanNya yang mulia. Hal ini berkonsekuensi, agar Allah Ta’ala dimulyakan dan diagungkan, ditakuti dan dicintai, diharap dan di-tawakal-i dan diridhai ketetapan-ketetapanNya, bersabar atas ujian dan cobaan dariNya.

b. Ilmu tentang apa yang Dia cintai, Dia ridhai, Dia benci dan Dia murkai

Berupa berbagai keyakinan, ucapan dan amalan lahir, maupun batin. Hal-hal tersebut menuntut siapa pun yang mengilmui untuk segera melakukan segala hal yang dicintai dan diridhai Allah, serta menjauhi segala apa yang Dia benci dan Dia murkai. Apabila ilmu tersebut membuahkan hasil seperti yang tersebut di atas terhadap pemiliknya, maka itulah ilmu yang bermanfaat. Ketika ilmu itu bermanfaat dan mantap di dalam hati karena Allah, sungguh hati itu akan menjadi khusyuk.” [Bayan Fadli Ilmi As Salaf, hal. 72]

Kemudian Allah Ta’ala menyediakan petunjuk, rahmat, ilmu dan keridhaan bagi hamba yang takut kepadaNya. Allah berfirman,

وَفِي نُسْخَتِهَا هُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلَّذِينَ هُمْ لِرَبِّهِمْ يَرْهَبُونَ

“ .. dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Rabbnya.” (QS. Al A’raaf, 154)

Dan juga firmanNya,

رَّضِىَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْاعَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

“Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (QS. Al Bayyinah, 8)

Allah memerintahkan sekalian hamba agar takut kepadaNya dan menjadikan rasa takut sebagai syarat iman.

Kesimpulannya, tidak mungkin seorang mukmin, selemah apapun imannya hilang rasa takutnya kepada Allah. Kuat lemahnya rasa takut tersebut berbanding lurus dengan kuat lemahnya keimanan yang ia miliki. Rasulullah e bersabda, “Tidak akan masuk Neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah, sampai air susu itu kembali ketempat semula.” [HR. At Tirmidzi (VI/600)]

2. Mengamalkannya

Allah berfirman,

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَـابَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)-mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?” (QS. Al Baqarah, 44)

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Hal ini (mengamalkan ilmu) terjadi setelah beriman. Yaitu, engkau beriman terhadap apa yang engkau ilmui, lalu mengamalkannya. Dimana tidak mungkin beramal (dengan benar), kecuali dengan beriman. Maka, apabila seseorang tidak diberi hidayah untuk mengamalkan ilmu, berarti dia mengilmui berbagai perkara namun tidak mengamalkannya, sehingga ilmunya bukanlah ilmu yang bermanfaat.”[Syarh Hilyah Thalibil ‘Ilmi, hal 163]

Syaikh Shalih Al Fauzan rahimahullah berkata, “Karena seseorang itu tidak cukup dengan belajar dan mengajar, bahkan dia harus mengamalkan ilmunya. Maka, ilmu tanpa amal hanyalah menjadi hujah yang menimpa pemiliknya, sehingga ilmu itu bukanlah ilmu yang bermanfaat, kecuali disertai dengan amalan. Orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkannya, dia adalah orang yang dimurkai, karena dia mengetahui kebenaran, namun meninggalkannya.” [Syarah Al Ushul Ats Tsalatsah, Hal. 19)]

Rasulullah e bersabda, “Dan Al Qur-an itu adalah hujjah bagimu (bila mengamalkannya) atau hujjah yang menimpamu (bila tidak mengamalkannya).” [HR. Muslim (223)]

Dari Usamah bin Zaid t, dia berkata, “Aku mendengar Rasululah e bersabda, ‘Didatangkan seseorang pada hari kiamat, kemudian dilemparkan ke dalam Neraka, maka keluarlah isi perutnya, lalu dia berputar-putar seperti berputarnya keledai di penggilingan gandum, berkumpullah penghuni neraka (mengerumuninya) seraya berkata, ‘Wahai Fulan! Kenapa engkau? Bukankah engkau dahulu (di dunia) memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang munkar?’ Dia menjawab, ‘Benar, aku memerintahkan yang ma’ruf, tetapi aku tidak melaksanakannya dan aku melarang yang munkar, namun aku melakukannya.’” [HR. Al Bukhaari dan Muslim]

3. Tawadhu

Tawadhu’ adalah tunduk dan patuh kepada otoritas kebenaran, serta kesediaan menerima kebenaran itu dari siapapun yang mengatakannya, baik dalam keadaan ridha, maupun marah. Allah berfirman,

وَعِبَادُ الرَّحْمَانِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى اْلأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَاخَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلاَمًا

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik..” (QS. Al Furqan, 63)

Syaikh As Sa’di rahimahullah berkata dalam tafsirnya, “Mereka berjalan dalam keadaan tenang, tawadhu’ (merendahkan diri) terhadap Allah dan terhadap makhluknya (karena Allah). Ini adalah sifat mereka. Mereka memiliki sifat sopan, tenang, tawadhu’ terhadap Allah dan terhadap makhluknya.” [Taisir Karimir Rahman, hal. 586]

Dari Iyadh bin Himar t, dia berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawadhu’, sehingga seseorang tidak merasa bangga dan sombong terhadap orang lain dan tidak pula berlaku aniaya terhadap orang lain.” [HR. Muslim (XVII/200) dalam Syarah Shahih Muslim]

Rasulullah e juga bersabda, “Tidaklah seseorang bertawadhu’ yang ditujukan semata-mata karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat drajatnya.” [HR. Muslim (2588)]

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Tawadhu’ karena Allah memiliki 2 makna, (yaitu):

a. Engkau menundukkan diri terhadap agama Allah, sehingga tidak sombong dan congkak terhadap agama, tidak pila engkau menolak untuk melaksanakan hukum-hukumnya;

b. Engkau merendahkan diri terhadap hamba-hamba Allah karena Allah, bukan karena takut kepada mereka, bukan karena mengharapkan sesuatu yang ada pada mereka, namun hanya karena Allah.

Kedua makna ini benar, barangsiapa yang merendahkan diri karena Allah semata, maka Allah akan meninggikan derajatnya di dunia dan akhirat. Hal ini adalah realita yang bisa disaksikan ketika seseorang bersikap tawadhu’ karena Allah, dia berada pada derajat yang tinggi dalam pandangan manusia, disebut-sebut kebaikannya, mereka pun mencintainya. Perhatikan sikap tawadhu’ Rasulullah e!” [Syarah Riyadhush Shalihin (2/262)]

Namun, untuk bersikap tawadhu’ membutuhkan latihan-latihan, sebagaimana kata Al Imam Al Khaththabi, ”Manusia biasa tidak akan berubah tabiatnya, dia tidak akan meninggalkan berbagai kebiasaan yang dia sukai, kecuali dengan latihan yang keras dan pengobatan yang terus menerus. Maka barangsiapa yang tidak membiasakan jiwanya untuk menerima kebenaran, dia membutuhkan latihan dan pendidikan, sehingga jiwa bisa mencintai Al Haq (kebenaran) dan tunduk kepadanya.” [A’lamul Hadits (1/218)]

4. Qana’ah

Qana’ah adalah ridha dan merasa cukup dengan rizki yang Allah berikan kepadanya. Rasulullah e bersabda, “Sungguh beruntung orang yang masuk islam dan rizki mencukupi kebutuhan hidupnya dan Allah menjadikannya merasa cukup(qona’ah dengan apa yang Allah karuniakan) kepadanya.” [HR. Muslim (1054)]

Oleh karena itu, seorang hamba harus menghiasi dirinya dengan sikap qana’ah terhadap dunia yang fana ini. Syaikh Muhammad Al Imam rahimahullah berkata, “Bila engkau mengerahkan pandanganmu ketengah-tengah kehidupan kaum muslimin, baik dahulu, maupun sekarang, niscaya akan engkau dapati mayoritas orang yang menyimpang dari jalan yang lurus, dikarenakan tamak terhadap harta dan tahta. Maka, barangsiapa yang membukakan pintu ini untuk dirinya niscaya dia akan sering berganti (prinsip), berubah warna dan menganggap ringan urusan agamanya.” [Bidayatul Inhiraf, hal 141]

Al Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,  “Setiap orang yang memilih dan mencintai dunia dari kalangan orang yang berilmu, pasti dia akan berkata tentang Allah (Dzat, Nama, Sifat, perbuatan dan syariatNya) dengan ucapan yang tidak benar dalam fatwa-fatwa, hukum, berita dan konsekuensi-konsekuensinya. Karena, kebanyakan hukum-hukum Allah menyelisihi keinginan-keinginan manusia, lebih-lebih bagi orang yang berambisi mendapatkan kedudukan / jabatan, serta orang yang diperbudakoleh hawa nafsunya. Ambisi-ambisi mereka tidak akan terpenuhi, kecuali dengan menyelisihi Al Haq dan banyak menolaknya. Apabila seseorang berilmu / hakim, lebih mencintai kedudukan, jabatan, atau hawa nafsunya, maka ambisi tersebut tidak akan terpenuhi, kecuali dengan segala kebenaran bertentangan dengannya. Sesungguhnya mengikuti hawa nafsu akan membutakan mata hati. Sungguh dia tak bisa lagi membedakan antara Sunnah dan Bid’ah, atau akan menyebabkan pandangannya terbalik, sehingga dia melihat Bid’ah sebagai Sunnah dan yang Sunnah sebagai Bid’ah. Inilah penyakit orang-orang yang berilmu bila mereka lebih memilih dunia dan hawa nafsunya.” [Al Iqtidha (1/114)]

Al Hafidh Ibnu Rajab Al Hambali rahimallah berkata, “Pokok dari ilmu adalah ilmu tentang Allah, yang mengharuskan untuk takut kepadaNya, mencintaiNya, merasa dekat denganNya, tenang denganNya dan rindu kepadaNya. Setelah itu, adalah ilmu tentang hukum-hukum Allah, hal-hal yang dicintai dan diridhaiNya bagi seorang hamba, baik berupa ucapan, amalan, keadaan, maupun keyakinan. Barang siapa yang telah mewujudkan kedua ilmu ini, dia adalah orang yang ilmunya bermanfaat, hati yang khusyu’, nafsu yang qana’ah dan do’a yang dikabulkan. Namun, barangsiapa yang tidak mendapatkan ilmu yang bermanfaat, dia pasti akan terjaduh pada empat hal yang Rasulullah e senantiasa berlindung darinya. Ilmunya justru menjadi hujjah dan musibah yang akan menimpa dirinya, sehingga dia tidak akan mendapatkan manfaat dari ilmunya, karena hatinya tidak takut kepada Allah, hawa nafsunya tidak puas dengan dunia, bahkan semakin rakus dan serakah terhadap dunia, do’anya pun tidak dikabulkan, karena dia tidak melaksanakan perintah-perintahNya dan tidak menjauhi hal-hal yang dimurkai dan dibenci oleh Allah.” [Bayan Fadhli Ilmi `s Salaf, hal. 79]

Akhir, kita mohon kepada Allah untuk ditambahkan ilmu yang bermanfaat dan juga kita memohon taufiq kepadaNya, agar bisa mengamalkan semua ilmu yang kita miliki.

wallahu a’lam bi `sh shawwaab

oleh : Al-Akh Dedi Irawan

Leave a Reply

Kajian Islam Ilmiah Syarah Kitab Arbai’n An’Nawawi 13 Desember 2017
Kajian Islam Ilmiah Syarah Kitab Arbai’n An’Nawawi 29 Nov 2017
Daftar Kajian Tashfiyah
PENDAFTARAN PESERTA WISMA MUSLIM UPI BANDUNG