Berbakti kepada Orang Tua

Birrul walidain atau Berbakti kepada Orang tua merupakan amalan yang mulia dan besar dalam agama islam dan ia juga merupakan hak manusia yang diutamakan diatas semua hak setelah Rosululloh, para nabi dan rosul adalah orang-orang yang paling mulia di muka bumi mereka sangat  berbakti kepada orang tua mereka.

Diantaranya kisah ibrahim dengan bapaknya, ibrahim sangat berbakti kepada bapaknya terbukti dengan dakwahnya beliau kepadanya, beliau kawatir dan tidak ingin  bapaknya mendapatkan siksaan dari Allah, sebagaimana firman allah dalam surat maryam ayat 42-45.

إِذْ قَالَ لأَبِيهِ يَآأَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَالاَيَسْمَعُ وَلاَيُبْصِرُ وَلاَيُغْنِي عَنكَ شَيْئًا {42}يَآأَبَتِ إِنِّي قَدْ جَآءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَالَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا {43}يَآأَبَتِ لاَتَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا {44}يَآأَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَن يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِّنَ الرَّحْمَـنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا 45

42. Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya:”Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak medengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun 43.Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus 44. Wahai bapakku, janganlah kamu meyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Yang Maha Pemurah. 45. Wahai bapakku, sesungguhnya aku kawatir bahwa kamu akan ditimpa azab oleh Yang MahaPemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan
Demikian juga ismail dengan ibrohim bapaknya, ketika ibrahim bapaknya di perintah untuk menyembelihnya, ismail pun taat kepadanya.

Sebagaimana firmanNya dalam surat ash shoffat ayat 102.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَاتُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَآءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

102. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata:”Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab:”Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.
Demikian juga nabi Isa bin mariyam juga seorang yang sangat berbakti kepada ibunya.sebagaimana dalam surat mariyam ayat 30-32.

30.Berkata Isa:”Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia manjadikan aku seorang nabi. 31. dan dia menjadikan aku seorang yang berbakti di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup,  32. dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.

Demikian pula nabi kita Muhammad, dari abu huroiroh dari nabi :
beliau ziaroh kubur ibunya lalu menangis dan menangis pula orang yang disekitarnya, lalu beliau berkata : aku minta ijin rabbku untuk memintakan ampunan baginya tapi dia tidak mengijinkanku, dan aku minta ijin  untuk menziarohi kuburnya dan aku di beri ijin.
( HR Muslim no : 976.)
Tangisan di sertai ketundukan kepada Allah demikianlah bakti dengan ibunya.

Kedudukan birrul walidain
Semua punya hak, Allah punya hak dan makhluk pun punya hak, dan hak Allah adalah di esakan dalam beribadah dan tidak disekutukan dengan suatu apapun, diantara makhluk allah adalah kedua orang tua kita, mereka berdua punya hak yaitu di perlakukan dengan baik, ditaati segala perintah nya selagi tidak dalam maksiat oleh anak-anaknya dan tidak disakiti,
Birrul walidain adalah hak yang tinggi dan besar,dikarenakan allah menyebutkan hak kedua orang tua setelah hakNYA, banyak dalam Al Quran disebutkan  hak kedua orang tua setelah hak Allah.

Diantaranya firman allah dalam surat al baqoroh ayat 83

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِى إِسْرَاءِيلَ لاَ تَعْبُدُونَ إِلاَّ اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُو الصَّلاَةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلاَّ قَلِيلاً مِّنكُمْ وَأَنتُم مُّعْرِضُونَ


Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu):”Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak
yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. (QS. 2:83)

Ibnu katsir ketika mentafsirkan ayat ini berkata :
“ini adalah hak yang paling tinggi dan agung yaitu hak Allah, berupa di ibadahi dan tidak disekutukan,kemudian setelah nya adalah hak makhluk dan yang ditekankan dan utama adalah hak kedua orang tua, oleh karena itu Allah menggandengkan hakNya dengan hak kedua orang tua”.

Hukum berbakti kepada kedua orang tua ( bapak ibu ).
Hukumnya wajib berdasarkan ayat-ayat diatas dan hadts-hadits berikutnya yang akan disebutkan disini dan juga berdasarkan ijma’ ,
ibnu hazem berkata : mereka sepakat berbakti kepada bapak ibu wajib hukumnya.
Al qodhi berkata: berbakti kepada bapak ibu adalah wajib.(ghodaul albaab 1/382)

Mau’idhoh hasanah      Mau’idhoh hasanah adalah bimbingan, nasehat dan arahan dengan suatu yang melembutkan hati berupa mengingatkan akibat-akibat, pahala dan hukuman.
Tentu kita tahu bahwa birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) hukumnya wajib, tapi terkadang sulit untuk istiqomah atau mungkin masih enggan untuk melaksanakannya, oleh karena itu disini akan disebutkan mau’idhoh agar hati kita menjadi lunak dan bisa melaksanakan hukum yang diketahui dan istiqomah.
Di antaranya  :

1.  Berbakti kepada kedua orang tua  termasuk amal yang paling dicintai oleh Allah.
Dari ibnu masud berkata: aku bertanya kepada nabi , amalan apa yang paling dicintai Allah?, beliau menjawab: “sholat pada waktunya”, ia berkata: kemudian apa lagi? Beliau menjawab: “berbakti kepada kedua orang tua”, ia berkata: kemudian apa lagi? Beliau menjawab: “jihad di jalan Allah”,
(HR Bukhori no: 5970)

2.  Berbakti kepada kedua orang tua sebab masuk surga.
Dari ‘Aisyah berkata:” Rasulullah bersabda: aku tidur lalu mimpi melihat aku sendiri di sorga , aku mendengar suara orang yang sedang membaca, aku bertanya : siapa ini? Mereka menjawab: ini harits bin an nu’man”, lalu Rasulullah berkata kepada ‘Aisyah: demikianlah berbakti , demikianlah berbakti,dan dia(harits bin an nu’man ) adalah manusia yang paling berbakti kepada ibunya.
(HR Ahmad, dalam musnadnya 6/152 dan Hakim, dalam al musdadrok 3/208 dan disohihkan oleh Al Albani dalam silsilah shohihah no 913).
Dari abu huroiroh berkata: Rosulullah bersabda: “celakalah seseorang, celakalah seseorang, celakalah seseorang”,beliau di tanya : siapa wahai Rosululloh? Beliau mejawab: orang yang mendapati kedua orang tuanya sudah tua atau salah satunya kemudian tidak masuk surga.
(HR Muslim dalam kitab al birr wal silah no 2 dan Bukhori dalam adabul mufrad no16)

3.  Berbakti kepada kedua orang tua sebab mendapatkan ridho allah.
Abdullah bin amer berkata: keridhoan Allah pada keridhoan bapak ibu dan kemurkaan allah pada kemurkaan bapak ibu,
(HR tirmidzi no: 1899, ibnu Hibban 2026, dan Bukhori dalam adabul mufrod no 2 ,dan di shohihkan Al Albani dalam silsilah shohihah no 516)

Bentuk-bentuk berbakti kepada kedua orang tua
Al Hasan berkata : berbakti kepada kedua orang tua adalah  memberi apa yang engkau miliki  kepada keduanya dan mentaati apa yang keduanya peritahkan kepadamu selagi bukan maksiat. ( Ad durorul mantsur  5/259 ).
Imam Nawawi berkata dalam “syarhu Muslim” ( 2/67 ) : adapun berbakti kepada kedua orang tua adalah berbuat baik kepada keduanya, berlaku baik bersama keduanya dan melakukan sesuatu yang meyenangkan keduanya dan termasuk berbakti kepada kedua orang tua adalah  berbuat baik kepada teman keduanya.
Ibnul jauzi Al Baghdadi dalam “kitabul birri wash shilah” (hal:57) : berbakti kepada orang tua adalah dengan mentaati perintah keduanya selama tidak memerintahkan larangan ,mendahulukan perintah keduanya atas amalan sunnah, menjauhi apa yang keduanya melarang, berinfak kepada keduanya, menuruti kemauan keduanya, semangat membantu keduanya, beradab baik kepada keduanya dan memberi keduanya. maka seorang anak tidak boleh mengangkat suara kepada keduanya, tidak memanggil dengan nama keduanya, berjalan di belakang keduanya dan bersabar atas apa yang ia benci dari keduanya.
Dari keterangan di atas bahwa  berbakti kepada orangtua sangatlah luas dan hanya dibatasi dengan perkara yang dilarang oleh syariat dan kemampuan saja, maka selagi  kita mampu dan tidak di larang dalam syariat kerjakanlah perintah keduanya.
Ibnu sholah berkata : durhaka yang haram adalah setiap perbuatan yang bisa menyakiti orang tua atau semisalnya selagi perbuatan itu bukan amalan yang wajib.        (fathul barri 10/406 )

Hukum durhaka kepada kedua orang tua
Para ulama sepakat durhaka kepada kedua orang tua atau salah satunya termasuk dosa besar. ( al zawajir hal : 460 ).

Dari Abu Bakroh berkata : kami di sisi Rasulluloh lalu beliau bersabda : maukah kalian aku kabarkan dosa yang paling besar? syirik kepada Allah , durhaka kepada kedua orang tua …… ( HR Bukhori no : 5976 dan Muslim no : 87 ).
Dan Haditsnya Ali, riwayat Muslim : Allah melaknat orang yang melaknat kedua orang tua nya.
Dan hadits nya Abu Huroiroh : “celakalah seseorang, celakalah seseorang, celakalah seseorang”, beliau di tanya : siapa wahai rosululloh? Beliau mejawab: orang yang mendapati kedua orang tuanya sudah tua atau salah satunya kemudian tidak masuk sorga.
(HR Muslim dalam kitab al birr wal silah no 2 dan Bukhori dalam adabul mufrad no16)

Bentuk – bentuk durhaka kepada kedua orang tua
Berkata Ibnu Hajar dalam ( “fathul barri” 10/420 ) : durhaka adalah memutus, dan yang dimaksud adalah muncul nya sesuatu dari seorang anak berupa perbuatan atau perkataan yang menyakiti orang tua kecuali dalam kesyirikan atau kemaksiatan,…….
Berkata al Qurtubi ketika menafsirkan ayat 23 dalam surat al isro’ : durhaka kepada orang tua adalah menyelisihi keinginan mereka yang dibolehkan, sebagaimana berbakti kepada mereka adalah menyetujui keinginan –keinginan mereka, berdasarkan ini apabila salah seorang atau keduanya memerintahkan anaknya maka ia wajib mentaati mereka apabila perintah itu  bukan maksiat.

Penutup
Oleh karena itu wajib mentaati keduanya dalam perkara yang mubah dengan melaksanakan atau meninggalkan perintah keduanya dan kalau perkara yang sunnah atau fardlu kifayah bertemu dengan birrul walidain maka disukai mentaati keduanya walaupun harus meninggalkan sunnah atau fardlu kifayah, seperti orang yang di panggil ibunya untuk menemaninya yang kalau seandainya ia terus di sisi ibunya maka ia akan kehilangan melak sanakan kewajiban seperti sholat jamaah dan di awal waktu.
Dan kebalikannya  mentaati kedua orangtua sampai melakukan kemaksiatan kepada allah maka ini haram hukumnya, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam rangka memaksiati allah.
Allah u a’lam bissowwab

Penulis : Abu Ubaidah
Maraji’: Thalabul ‘Ilmi wa Birul Walidain, Abu ‘Abdillah Kamal bin Tsabit Al ‘Adani.

Leave a Reply

Kajian Islam Ilmiah Syarah Kitab Arbai’n An’Nawawi 13 Desember 2017
Kajian Islam Ilmiah Syarah Kitab Arbai’n An’Nawawi 29 Nov 2017
Daftar Kajian Tashfiyah
PENDAFTARAN PESERTA WISMA MUSLIM UPI BANDUNG