Ada Apa di Balik Gempa dan Tsunami?

Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan, ampunan dan bertaubat kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri dan kejelekan amalan kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan barangsiapa disesatkan Allah, maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Aku bersaksi, bahwa tidak ada sembahan yang berhak diibadahi selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi, bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, pilihan dan kekasih-Nya, yang Dia percayai untuk menyampaikan wahyu dan syari’at-Nya kepada umat manusia. Semoga shalawat Allah dan salam-Nya senantiasa tercurah kepada Beliau beserta semua keluarga dan sahabatnya.

Kaum mukminin, Jama’ah shalat Idul Adhha yang dirahmati oleh Allah Ta’ala.

Bertaqwalah kepada Allah, karena sesungguhnya orang yang bertaqwa kepada-Nya akan dijaga dan dibimbing oleh-Nya kepada kebaikan urusan dunia dan akhirat.

Belakangan ini, ada beberapa bencana besar yang semestinya menggerakkan hati kita. Seorang mukmin yang dikaruniai taufiq oleh Allah subhanahu wata’ala, dalam musibah gunung meletus dan gempa bumi seperti ini, harus melakukan berbagai renungan keimanan, sehingga akan menambah keshalihan dan kedekatannya kepada Allah subhanahu wata’ala, juga menambah rasa takutnya untuk bertemu dan berhadapan dengan-Nya. Selain itu, ia juga akan mengambil hikmah dan pelajaran dari tanda-tanda kekuasaan Allah subhanahu wata’ala. Sebab itu, setelah peristiwa besar ini kita harus merenungi beberapa hal yang harus senantiasa diingat dan disadari sepenuhnya oleh setiap muslim:

Pertama,

Peristiwa ini dan semisalnya akan membimbing seorang muslim kepada suatu perkara—yang telah dia yakini—yaitu bertambahnya keimanan dia, akan sempurnanya kekuasaan dan kekuatan Allah subhanahu wata’ala, serta meyakini, bahwa Allah-lah yang mengatur alam ini sesuai dengan kehendak-Nya, dan memutuskan apa yang Dia inginkan. Tidak ada seorang pun yang bisa menolak keputusan-Nya. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

“Katakanlah, ‘Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan adzab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu, atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu kepada keganasan sebagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya).” (QS. Al-An’am [6]: 65)

Maksud ‘adzab dari atas’ dalam ayat tersebut adalah seperti petir, halilintar yang menghancurkan dan angin topan. Adapun makna ’adzab dari bawah’adalah seperti gempa dan tanah longsor.

Jabir bin Abdillah radliyallahu anhu berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam membaca ayat, ‘Yang berkuasa untuk mengirimkan adzab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu,’ Beliau bersabda, ‘Aku berlindung dengan wajah Allah yang mulia.’ Dan ketika membaca, ‘atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu kepada keganasan sebagian yang lain,’ Beliau bersabda, ‘Ini lebih ringan.’” (HR. Al Bukhaari) Kemudian, renungkanlah firman Allah subhanahu wata’ala, “Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya).”

Sesungguhnya beraneka-ragamnya tanda-tanda kekuasaan Allah subhanahu wata’ala menuntun kita kepada pemahaman, keimanan, dan kembali kepada Allah subhanahu wata’ala.

“Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya).”

Yakni, agar mereka memahami tujuan yang harus diwujudkan dari penciptaan mereka.

Kedua,
Bencana-bencana ini betul-betul tanda-tanda agung atas kekuasaan Allah subhanahu wata’ala, yang dengannya Dia menumbuhkan rasa takut dalam jiwa hamba-hamba-Nya. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

“Dan tidaklah Kami mengirimkan tanda-tanda itu, kecuali untuk menakuti.”

(QS. Al-Isro‘ [17]: 59)

Maksudnya, Allah subhanahu wata’ala menumbuhkan rasa takut dalam jiwa hamba-hamba-Nya dengan tanda-tanda yang agung itu. Berkata Qatadahrahimahullah“Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala menakut-nakuti manusia dengan tanda-tanda kekuasaan yang Dia kehendaki, agar mereka mengambil pelajaran, ingat, dan kembali (kepada Allah).”

Adapun penisbatan peristiwa ini kepada alam, itu termasuk dalam kejahiliahan. Maka, hendaknya seorang mukmin takut, merenung dan mengambil pelajaran, bahwasanya (Dzat) yang telah menimpakan musibah kepada saudarasaudaranya, Maha Kuasa untuk menimpakan hal yang serupa atau lebih kepada selain mereka. Jatuhnya korban jiwa yang banyak sekali dalam satu waktu! Adakah di antara kita yang mengambil hikmah dan pelajaran?

Ketiga,
Setelah kejadian ini mari kita renungi bersama nikmat Allah subhanahu wata’ala berupa menetapnya bumi, sebagaimana firman-Nya,

”Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kalian tetap.” (QS. Ghafir [40]: 64)

Maksudnya, tidak bergoncang-goncang atau bergetar. Mari kita renungi dari sini, betapa besar Dzat yang memegang bumi ini, sehingga dia menetap dan tidak bergoncang atau bergoyang. Bayangkan, bagaimana jika bumi yang kita berjalan di atas permukaannya selalu bergoncang dan bergetar, bisakah kita hidup di atasnya? Bisakah kita tidur? Bisakah kita bekerja? (Tentu jawabnya adalah tidak, Pent.).

Jadi, Allah subhanahu wata’ala telah melimpahkan karunia-Nya kepada kita berupa ketenangan dan menetapnya bumi ini. Maka, hendaknya kita mengambil pelajaran dari nikmat ini, lantas kita bandingkan dengan gempa yang diciptakan Allah subhanahu wata’ala dari waktu ke waktu, hingga kita bisa mengambil kesimpulan: ‘betapa besar karunia ketenangan bumi dan alangkah sempurnanya nikmat ini. Jika, bumi ini bergoncang dalam sekejap saja, jumlah korbannya 120 ribu jiwa pada Tsunami di Aceh, dan lebih dari 400 jiwa pada Tsunami Mentawai, itupun belum termasuk yang luka parah atau hilang. Lalu, bagaimana jika bergoncang sehari penuh, atau berhari-hari, apa yang akan terjadi dengan manusia di permukaannya???’

Karunia Allah subhanahu wata’ala lainnya adalah tidak meluapnya lautan, hingga menenggelamkan semua daratan. Padahal kita tahu, bahwa luas lautan di muka bumi lebih luas dari pada daratan. Allah-lah yang Maha Kuasa untuk menahan air laut, hingga tidak meluap ke daratan, padahal Dia mampu untuk menenggelamkan seluruh daratan! Kita bisa ambil pelajaran dari sejarah,

“Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa (nenek moyang) kamu ke dalam bahtera.” (QS. Al-Haqqah [69]: 11)

Tidak perlu jauh-jauh, bencana yang baru saja terjadi bisa menggambarkan bagi kita hal itu. Air telah menenggelamkan berbagai daerah secara total, hingga semua yang berada di atasnya mati, tidak tersisa seorang pun jua. Dua karunia ini, yaitu menetapnya bumi dan tidak meluapnya lautan ke daratan, haruslah kita syukuri, sembari kita panjatkan puji kepada-Nya atas segala curahan nikmat-Nya.

Keempat,

Bumi adalah milik Allah subhanahu wata’ala, Dialah yang telah menciptakannya dan menjadikannya ada. Dia pula yang telah menciptakan manusia dia atasnya. Maka, Dia pulalah yang berhak untuk bertindak sekehendak-Nya. Perhatikanlah sebagian perbuatan Allah subhanahu wata’ala terhadap bumi-Nya dalam ayat,

“Dan apakah mereka tidak melihat, bahwa sesungguhnya Kami mendatangi bumi, lalu Kami kurangi bumi itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya. Dialah Yang Maha cepat hisab-Nya.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 41)

Sebagian ahli tafsir menerangkan, bahwa maksud dari ‘Kami kurangi bumi itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya’ adalah dengan tenggelamnya (sebagian bumi, Pent.), gempa dan berbagai macam bencana. Jadi, Allah subhanahu wata’ala mengurangi bumi dari tepi-tepinya sesuai dengan kehendak-Nya, tidak ada yang bisa menolak keputusan-Nya.

Jika kita telah sadar, bahwa bumi ini adalah milik Allah subhanahu wata’ala dan yang berhak untuk bertindak di dalam-Nya adalah Allah subhanahu wata’ala juga, maka mari kita sama-sama merenungi ‘apa hikmah di balik penciptaan kita di muka bumi ini?’ Tidak lain dan tidak bukan adalah dalam rangka menegakkan kalimat tauhid Allah subhanahu wata’ala, menaati perintah-Nya, mengikuti syari’at-Nya, merendahkan diri di hadapan-Nya, patuh kepada perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya shallallahu ‘alahi wasallam. Kita wajib beriman kepada ayat-ayat yang jelas, hujjah-hujjah yang tinggi, serta dalil-dalil agung yang menjelaskan kesempurnaan Allah subhanahu wata’ala dan kewajiban untuk taat kepada-Nya, lantas mengikhlaskan ibadah hanya untuk-Nya. Hingga kita dapat menjalankan tujuan penciptaan kita dengan sempurna, yaitu menjalankan perintah-Nya dan mengikuti Rasul-Nyashallallahu ‘alahi wasallam.

Kelima,

Seorang muslim, seharusnya bersikap tenang dalam menghadapi musibah yang menimpanya atau menimpa saudaranya, yakni dengan mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata’ala, yakin dan bertawakkal kepada-Nya. Sesungguhnya musibah itu akan membuahkan bertambahnya iman seorang mukmin, bertambah baiknya hubungan dia dengan Allah subhanahu wata’ala, serta semakin sempurna kedekatan dia dengan-Nya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda (artinya), “Alangkah mengagumkan kondisi seorang mukmin, seluruh perkaranya adalah kebaikan. Jika dia mendapatkan nikmat, bersyukur dan itu adalah merupakan kebaikan baginya. Dan jika dia tertimpa musibah, bersabar, itu pun merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Dan hal ini tidak akan ada, kecuali dalam diri seorang mukmin.

Keenam,

Sesungguhnya seorang yang beriman akan sadar, bahwa musibah-musibah ini tidak lain dan tidak bukan adalah akibat dosa-dosa. Tidaklah terjadi suatu malapetaka melainkan akibat dari perbuatan dosa dan malapetaka itu tidak akan dicabut (oleh Allah subhanahu wata’ala), kecuali dengan taubat. Allahsubhanahu wata’ala telah menjelaskan,

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya.” (QS. al-Ankabut [29]: 40)

Saat inilah seharusnya seorang mukmin mendekat kepada Alloa subhanahu wata’ala dengan membawa taubat dan berserah diri kepada-Nya, sehingga dia dapat memetik pelajaran dari musibah yang menimpa orang lain. Sesungguhnya orang yang bahagia adalah yang dapat memetik pelajaran dari (apa yang menimpa) saudaranya, kebalikannya orang yang merugi adalah, jika saudaranyalah yang mengambil pelajaran dari apa yang menimpa dirinya.

Ketujuh,

Terakhir, kita memiliki beberapa kewajiban terhadap saudara-saudara kita yang tertimpa musibah-musibah besar ini, di antaranya:

  1. Berdo’a agar Allah subhanahu wata’ala meringankan penderitaan mereka, serta menjadikan musibah ini sebagai titik tolak bagi mereka untuk kembali kepada kebaikan dan bertaubat kepada-Nya. Kita juga memohon agar Allah subhanahu wata’ala menenangkan ketakutan mereka, menutupi aurat mereka dan memberikan rezeki kepada orang-orang yang ditimpa kelaparan;
  2. Juga, kita berkewajiban untuk mengulurkan tangan, membantu mereka semampu kita. Saat ini ribuan orang sama sekali tidak memiliki tempat tinggal, rumah, makanan dan minuman. Sedangkan kita hidup dalam kenikmatan. Bersyukurlah kepada Allah subhanahu wata’ala atas nikmat dan karunia-Nya, kemudian bantulah saudara-saudara kita semampunya!

Kami tutup khuthbah ‘Iedul Adhha ini dengan sebuah do’a yang agung dan berbarokah, yang selalu dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamsetiap malam sebelum merebahkan tubuhnya di peraduan,

“Segala puji bagi Allah Yang telah memberi kita makan, minum dan mencukupi kita, serta memberi kita tempat tinggal. Betapa banyak orang yang tidak mendapatkan yang mencukupi dia, serta memberi dia tempat tinggal.” (HR. Muslim dari Anas bin Malik rodliyallohu anhu)

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin (3 ×), hinakanlah kesyirikan dan kaum musyrikin, serta hancurkanlah musuh-musuh agama kami.

Ya Allah, ringankanlah musibah yang menimpa saudara-saudara kami di mana pun mereka berada, kuatkanlah mereka, wahai Yang Maha Agung lagi Maha Pemurah.

Ya Allah, tenangkanlah rasa takut mereka, obatilah kelaparan dan dahaga mereka, tutupilah aurat mereka, karuniakanlah kepada mereka tempat tinggal yang baik, wahai Yang Maha Agung lagi Maha Pemurah.

Ya Allah, kembalikanlah kami dan mereka kepada-Mu dengan baik, berilah kami taufiq untuk bertaubat kepada-Mu, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang beriman dan mengikuti Rosul-Mu shallallahu ‘alahi wasallam, juga karuniailah kami—wahai Yang Maha Agung lagi Maha Pemurah—taufiq untuk mengerjakan hal-hal yang Engkau cintai dan ridhai, bantulah kami untuk melakukan kebaikan dan ketaqwaan, janganlah Engkau jadikan kami bergantung kepada diri sendiri, meskipun hanya sekejap mata.

Ya Allah, ampunilah segala dosa kami, baik yang kecil, maupun yang besar, yang terdahulu maupun yang akan datang, serta yang tersembunyi maupun yang terlihat.

Ya Allah, sesungguhnya kami telah mendhalimi diri kami, jika Engkau tidak mengampuni dan mengasihi, niscaya kami akan menjadi orang-orang yang merugi.

Demikianlah Khutbah ‘Iedul Adhha pada kesempatan ini, kami mohon ampunan kepada Allah subhanahu wata’ala untuk kita dan seluruh kaum muslimin dari segala dosa.

Mintalah ampun kepada-Nya, niscaya Dia akan mengampuni. Sesungguhnya, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ditranskrip dan diterjemahkan dari khuthbah Jum’at Syaikh Prof. Dr. Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr  oleh Ustadz Anas Burhanuddin dan Ustadz Abdullah Zaen, MA . Dan dikondisikan dengan musibah terkini oleh Redaksi Majalah Al Furqon.

Leave a Reply

Kajian Islam Ilmiah Syarah Kitab Arbai’n An’Nawawi 13 Desember 2017
Kajian Islam Ilmiah Syarah Kitab Arbai’n An’Nawawi 29 Nov 2017
Daftar Kajian Tashfiyah
PENDAFTARAN PESERTA WISMA MUSLIM UPI BANDUNG