Dua Rakat Qobliyah Subuh, Lebih Baik Daripada Dunia dan Seisinya.

Saudara-saudariku yang Allah rahmati, segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu’alahi wa salam, keluarga dan para sahabatnya. Dalam artikel ini sebuah untaian nasihat yang secara khusus ditujukan kepada diriku sendiri dan umumnya bagi para pembaca semua untuk mari berupaya dan berusaha untuk tidak melewatkan shalat sunnah qobliyah subuh ini.

Sebelum kita membahas keutamaan shalat ini yang menjadikan kita jangan melewatkan kesempatan untuk melaksanakan amalan ini, hendaknya mari kita ketahui terlebih dahulu apakah itu shalat sunnah qobliyah subuh ini?

Shalat sunnah qobliyah shubuh atau shalat sunnah fajar yaitu shalat dua raka’at sebelum pelaksanaan shalat wajib shubuh.

Kenapa kita harus berupaya dan berusaha untuk tidak melewatkan shalat sunnah ini?

Maka jawabanya, karena shalat qobliyah subuh ini mempunyai keutamaan yang sangat besar, sebagaimana secara khusus disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Dua rakaat shalat sunnah subuh lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya.”[HR. Muslim725].

Dan dalam riwayat lainnya,

لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْرِأخرجه الشيخان

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan satu pun shalat sunnah yang kontinuitasnya (kesinambungannya) melebihi dua rakaat (shalat rawatib) Shubuh.” ([HR. Bukhari no. 1169 dan Muslim no. 724]

Perihal ini Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah berkata, “Kesinambungan dan penjagaan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap sunnah Rawatib Subuh melebihi seluruh shalat sunnah. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan sunnah Rawatib Subuh dan shalat Witir dalam safarnya maupun saat muqim. Dalam safar, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa disiplin melaksanakan sunah Rawatib Subuh dan Witir melebihi seluruh shalat-shalat sunnah dan Rawatib lainnya. Tidak ada dinukilkan dari beliau dalam safarnya melakukan shalat Rawatib selain Rawatib Subuh. Oleh karena itu, dahulu Ibnu ‘Umar tidak menambah dari dua raka’at, dan ia berkata,’Saya telah bepergian bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Abu Bakar dan ‘Umar. Mereka semua dalam safarnya tidak melebihi dua raka’at’.”[Zadul-Ma’ad 1/305]

Bagaimana terkait hukum shalat sunnah qobliyah subuh ini ?

Shalat sunnah qobliyah subuh ini atau shalat sunnah fajar merupakan sunnah muakkadad, dan termasuk rawatib yang sangat dianjurkan untuk dirutinkan.

Bagaimana tata cara pelaksanaan shalat sunnah qobliyah subuh ini?

Shalat sunnah ini dilakukan setelah memasuki waktu subuh dan dilakukan secara ringan dan tidak memanjangkan bacaannya, dengan syarat tidak melanggar perkara-perkara yang wajib dalam shalat dan yang dimaksud meringankan shalat di sini yaitu tetap menjaga rukun dan hal-hal yang wajib dalam shalat. Hal ini sebagaimana ditunjukan dalam beberapa hadits berikut ini,

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ حَفْصَةَ أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا سَكَتَ الْمُؤَذِّنُ مِنْ الْأَذَانِ لِصَلَاةِ الصُّبْحِ وَبَدَا الصُّبْحُ رَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ تُقَامَ الصَّلَاةُ

Dari Ibnu Umar, beliau berkata bahwasanya Hafshah Ummul Mukminin telah menceritakan kepadanya bahwa dahulu bila muadzin selesai mengumandangkan adzan untuk shalat subuh dan telah masuk waktu subuh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat sunnah dua rakaat dengan ringan sebelum melaksanakan shalat subuh. [HR Bukhari 583]

Dan juga dalam lafazh lain juga,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ بَيْنَ النِّدَاءِ وَالْإِقَامَةِ مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ

“Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua rakaat ringan antara adzan dan iqamat shalat subuh.”[HR. Bukhari 584]

Ibunda ‘Asiyah radhiyallahu ‘anha juga menjelaskan betapa ringannya shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana berikut,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَفِّفُ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ حَتىَّ إِنِّيْ لأَقُوْلُ : هَلْ قَرَأَ بِأُمِّ الْكِتَابِ؟

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meringankan dua rakaat shalat sunnah subuh sebelum shalat fardhu Subuh, sampai-sampai aku bertanya : “Apakah beliau membaca surat Al-Fatihah?” [HR Bukhari 1095 dan Muslim 1189]

Dalam lafazh lain juga menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat sunnah fajar atau shalat sunnah qobliyah subuh dengan raka’at yang ringan.

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا طَلَعَ الْفَجْرُ لاَ يُصَلِّى إِلاَّ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ

“Ketika terbit fajar Shubuh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah shalat kecuali dengan dua raka’at yang ringan” [HR. Muslim no. 723].

Dan dalam lafazh lain juga menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat shalat sunnah fajar atau shalat sunnah qobliyah subuh ketika telah masuk waktu shalat subuh,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ إِذَا سَمِعَ الأَذَانَ وَيُخَفِّفُهُمَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah mendengar adzan, beliau melaksanakan shalat sunnah dua raka’at ringan” [HR. Muslim no. 724].

Dari hadits-hadits di atas ditunjukan bahwa sunnahnya memperingan shalat ketika melaksanakan shalat sunnah qobliyah subuh atau shalat sunnah fajar ini dan dilakukan setelah masuk waktu shalat subuh.

Saudara-saudariku yang dirahmati oleh Allah, setelah kita mengetahui bagaimana keutamaan dan sedikit tata cara pelaksanaanya maka mari kita jangan lewatkan kesempatan ini, berusaha dan berupaya melaksanakannya dengan sepenuh hati mengharap ridho-Nya. Semoga dengan upaya dan usaha kita untuk merutinkan atau menjaganya menjadi salah satu penyebab kita dicintai oleh Allah sebagaimana Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

 أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinyu, walaupun sedikit.” [HR. Muslim 783]

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Kajian Islam Ilmiah Syarah Kitab Arbai’n An’Nawawi 13 Desember 2017
Kajian Islam Ilmiah Syarah Kitab Arbai’n An’Nawawi 29 Nov 2017
Daftar Kajian Tashfiyah
PENDAFTARAN PESERTA WISMA MUSLIM UPI BANDUNG