Ketika Cinta Menyapa Relung Hati di Kampusku Bagian 2

Langkah selanjutnya ketika cinta menyapa relung hati….

kita harus dapat mengontrol perasaan tersebut…

ingatlah ini baru tahap awal jangan semuanya di tuangkan pada saat itu….

meskipun dan hal ini yang  menjadi masalah ketika seseorang sedang dekat dengan seorang pihak ia merasa nyaman, merasa enjoy, maka dia akan terbawa eforia dan hal ini fatal, dalam Islam ketika jatuh cinta ialah kontrol jangan kebablasan jangan over dosis…

dosis yang harus kita atur ialah harus lebih cintai Allah dan RasulNya…

secantik apapun ia…

setampan apapun ia…

sebijak apapun ia…

sesoleh apapun ia…

sesolehah apapun ia…

kita harus lebih cinta kepada Allah dan RasulNya…

ini kunci sukses dalam menjalin hubungan…

Sebagaimana Allah berfirman,

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ (٢٤

Katakanlah kepada mereka (Wahai Muhammad), “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya[1], maka tunggulah[2] sampai Allah memberikan keputusan-Nya[3].” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik[4]. [QS. At-Taubah 24]

Keterangan :

[1] Sehingga kamu tidak berhijrah dan berjihad karena sebab itu.

[2] Yakni tunggulah hukuman yang akan menimpamu.

[3] Yang tidak dapat ditolak lagi.

[4] Yaitu mereka yang keluar dari ketaatan kepada Allah lagi mengutamakan semua yang disebutkan daripada kecintaan kepada Allah, Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya. Contoh mengutamakan selain Allah dan Rasul-Nya adalah ketika dihadapkan kepadanya dua perkara; perkara yang pertama dicintai Alah dan Rasul-Nya sedangkan hawa nafsunya tidak ingin kepadanya, adapun yang kedua diiinginkan oleh hawa nafsunya, maka jika ia mengutamakan yang kedua, maka berarti ia mengutamakan selain Allah dan Rasul-Nya.

Apalagi yang membuat kita jatuh cinta tersebut belumlah menjadi istri kita atau suami kita… yang sudah jelas saja suami dan istri saja Allah ancam bila cinta itu melupakan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya

dan ingatlah barang siapa yang jatuh cinta kepada seorang wanita atau pria, tidak boleh cintanya melebihi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya…. dan ingatlah ancaman Allah… jangan biarkan bencana dalam hubungan kita…

saudara-saudariku yang dirahmati Allah, seseorang yang mencintai dan over dosis dengan cinta nya sehingga lebih perhatian dan mementingkan, serta lebih mengingat pasangannya dari pada Allah…

ketika pasangannya belum makan, ia nge SMS, ia nge WA atau nge BBM  namun shalat dzuhur ketinggalan, kebablasan dan shalat ashar tidak dilaksanakan… itu tanda lebih perhatikan kepada pasangan dari pada Allah

jangan berharap banyak dengan hubungan seperti ini…

belum menikah saja sudah melalaikan…

ketika pasangannya belum shalat, ia nge WA atau nge BBM namun ianya sendiri telat dalam melaksanakan ibadah

bukankah itu kemaksiatan nyata? meninggalkan hal wajib tanpa udzur!

waspadai terhadap kebahagian semu… istidraj, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ

“Bila engkau melihat Allah Ta’ala memberi hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan) dari Allah.”[HR. Ahmad, lihat Shahihul Jami’ no. 561]

Dan Allah berfirman,

أَفَأَمِنُواْ مَكْرَ اللّهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

“Maka apakah mereka merasa aman dari makar Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan makar Allah kecuali orang-orang yang merugi. [Al-A’raf: 99]

 Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Al-Qar’awi menjelaskan,

مكر الله: هو استدراج العاصي بالنعم… حيث إنهم لم يُقدِّروا الله حق قدره، ولم يخشوا استدراجه لهم بالنعم وهم مقيمون على معصيته حتى نزل بهم سخط الله، وحلت بهم نقمته

“Makar Allah adalah istidraj bagi pelaku maksiat dengan memberikan kenikmatan/kebahagiaan… mereka tidak memuliakan Allah sesuai dengan hak-Nya. Mereka  tidak merasa khawatir [tenang-tenang saja] dengan istidraj [jebakan] kenikmatan-kenikmatan bagi mereka, padahal mereka terus-menerus berada dalam kemaksiatan sehingga turunlah bagi mereka murka Allah dan menimpa mereka azab dari Allah.”[Al-Jadid fii Syarhi Kitabit tauhid hal. 306]

Seseorang yang  kebablasan atau over dosis ketika jatuh cinta maka tunggulah bencana yang akan terjadi…

Ketika kita bisa mengkontrol perasaan kita, kita akan lebihh objektif, kita bisa menilai dengan lebih jernih, kita lebih bisa membaca kekurangan-kekurangannya. Karna hal tersulit ketika jatuh cinta, adalah menilai secara objektif.

Letakan cinta kita dibawah Allah dan RasulNya.

Semoga bermanfaat.

Referensi :

Terinspirasi dari materi kajian yang disampaikan guru kami Al-Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Lc Hafidzahullah dengan penambahan oleh penulis.

Leave a Reply

Kajian Islam Ilmiah Syarah Kitab Arbai’n An’Nawawi 13 Desember 2017
Kajian Islam Ilmiah Syarah Kitab Arbai’n An’Nawawi 29 Nov 2017
Daftar Kajian Tashfiyah
PENDAFTARAN PESERTA WISMA MUSLIM UPI BANDUNG