Adab Ke Kamar Kecil – Tidak Boleh Menghadap dan Membelakangi Kiblat (Bagian 3)

Para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah, ada sebuah adab yang mungkin bagi sebagian kaum muslimin mungkin lupa yaitu adanya adab tidak boleh menghadap dan membelakangi kiblat, baik di lapangan terbuka maupun dalam bangunan ketika buang hajat di kamar kecil, untuk mengingatkan kembali mari kita simak uraian kenapa kita tidak diperbolehkan mengahadap dan membelakangi kiblat. Dari Abu Ayyub al-Anshari Radhiyallahu’anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِذَا أَتَيْتُمُ الْغَائِطَ فَلاَ تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلاَ تَسْتَدْبِرُوْهَا، وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوْا.

“Jika kalian hendak buang hajat, janganlah menghadap dan membelakangi kiblat. Tapi, menghadaplah ke timur atau ke barat.” [Mukhtashar Shahiih Muslim no. 109 dan Shahiih Sunan Abi Dawud no. 7]

Abu Ayyub Radhiyallahu’anhu berkata, “Dulu kami pernah tinggal di Syam. Kami mendapati jamban kami dibangun menghadap ke arah kiblat. Kami pun mengubah arah tempat tersebut dan kami memohon ampun (beristighfar ) pada Allah Ta’ala.”[Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) I/498 no. 394, Shahiih Muslim I/224 no. 264, Sunan at-Tirmidzi I/8 no. 8]

Para bembaca yang budiman, yang dimaksud dengan “hadaplah arah barat dan timur” adalah ketika kondisinya di Madinah. Namun kalau kita berada di Indonesia, maka berdasarkan hadits ini kita dilarang buang hajat dengan menghadap arah barat dan timur, dan diperintahkan menghadap ke utara atau selatan.

Namun apakah larangan menghadap kiblat dan membelakanginya ketika buang hajat berlaku di dalam bangunan dan di luar bangunan? Jawaban yang lebih tepat, hal ini berlaku di dalam dan di luar bangunan berdasarkan keumuman hadits Abu Ayyub Al Anshori di atas serta pendapat para ulama, dan pendapat ini dipilih oleh Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad, Ibnu Hazm, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah [Shahih Fiqh Sunnah, 1/94], Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani [Ad Daroril Madhiyah Syarh Ad Duroril Bahiyah] dan pendapat terakhir dari Syaikh Ali Basam [Taisirul ‘Alam].

Adapun hadits dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma yang mengatakan,

ارْتَقَيْتُ فَوْقَ ظَهْرِ بَيْتِ حَفْصَةَ لِبَعْضِ حَاجَتِى ، فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقْضِى حَاجَتَهُ مُسْتَدْبِرَ الْقِبْلَةِ مُسْتَقْبِلَ الشَّأْمِ

Aku pernah menaiki rumah Hafshoh karena ada sebagian keperluanku. Lantas aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam buang hajat dengan membelakangi kiblat dan menghadap Syam.”[HR. Bukhari no. 148, 3102 dan Muslim no. 266]

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membelakangi kiblat ketika buang hajat. Maka mengenai hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu ini kita dapat memberikan jawaban sebagai berikut.

  1. Pelarangan menghadap dan membelakangi kiblat lebih kita dahulukan daripada yang membolehkannya.
  2. Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melarang menghadap dan membelakangi kiblat ketika buang hajat lebih didahulukan dari perbuatan beliau.
  3. Hadits Ibnu ‘Umar Radhiyallahua’nhu tidaklah menasikh (menghapus) hadits Abu Ayyub Al Anshori Radhiyallahu’anhu karena apa yang dilihat oleh Ibnu ‘Umar Radhiyallahu’anhu hanyalah kebetulan saja dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memaksudkan adanya hukum baru dalam hal ini.[Ad Daroril Madhiyah hal. 36-28, Taisir ‘Alam footnote  hal 30-31, dan Shahih Fiqh Sunnah 1/94]

Simpulannya, pendapat yang lebih tepat dan lebih hati-hati adalah haram secara mutlak menghadap dan membelakangi kiblat ketika buang hajat.

Semoga bermanfaat dan mari kita mengamalkannya.

Referensi:

Kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Tim Tashfiyah LIPIA

[Artikel] 10 Adab Ketika Buang Hajat, Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc

Leave a Reply

Kajian Islam Ilmiah Syarah Kitab Arbai’n An’Nawawi 13 Desember 2017
Kajian Islam Ilmiah Syarah Kitab Arbai’n An’Nawawi 29 Nov 2017
Daftar Kajian Tashfiyah
PENDAFTARAN PESERTA WISMA MUSLIM UPI BANDUNG