Wahai Para Pendidik Bercandalah Bersama Anak Didikmu

Sudah diketahui bersama mayoritas materi pelajaran memiliki ciri, yaitu membosankan dalam muatannya, dimana para peserta didik harus mengkonsentrasikan pikiran dan hati mereka. Walaupun guru atau seorang dosen memiliki kemampuan atau bakat mahir dalam mengelola kelas, menyampaikan pelajaran dan menyajikan materi, namun tetap saja peserta didik memiliki kemampuan terbatas dalam menerima materi. Oleh karena itu sebagai bentuk penyegaran atau agar tidak monoton maka diselingi atau diselipkan candaan candaan yang baik, hal ini akan mengobati kebosanan dan kejemuan di suasana pembelajaran.

Namun hanya harus kita perhatikan bahwa setiap candaan kita hendaklah bukan suatu celaan atau penghinaan atau candaan yang berlebihan, sebagaimana Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “

Ketahuilah canda yang dilarang adalah yang berlebihan dan yang terus menerus, karena melahirkan banyak tawa dan menyebabkan kerasnya hati serta menyibukan diri dari mengingat Allah dan memikirkan perkara-perkara penting agama, dan seringkali berhujung menyakiti, melahirkan dendam, menjatuhkan wibawa dan harga diri. Adapun yang selamat dari perkara-perkara tersebut, maka merupakan canda yang boleh, yang Rasulullah shallallahu’alahi wa sallam pernah melakukannya sesekali waktu untuk suatu kemaslahatan, yaitu membuat lawan bicara merasa nyaman dan akrab dan merupakan sunnah yang dianjurkan. Camkanlah hal ini, karena ia merupaka perkara yang sangat dibutuhkan.” [Tuhfah al-Ahwadzi bi Syarh Jami’ at-Tirmidzi, al-Mubarakfuri bab al-Birr wa ash-Shilah , no 56]

Contohlah Nabi Shallallahu’alahi wa sallam dalam hal bercanda yang diperbolehkan ini, karena dahulupun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bercanda. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, para sahabat pernah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

( يَا رَسُولَ اللهِ ، إِنَّكَ تُدَاعِبُنَا )

Ya Rasulullah! Sesungguhnya engkau sering mencandai kami.

Namun beliau pun berkata:

(( إِنِّيْ لاَ أَقُوْلُ إِلاَّ حَقًّا.))

Sesungguhnya saya tidaklah berkata kecuali yang haq (benar).” [HR At-Tirmidzi no. 1990]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan beberapa nasihat kepada Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, di antara nasihat tersebut adalah perkataan beliau:

(( وَلاَ تُكْثِرِ الضَّحِكَ, فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ.))

Janganlah banyak tertawa! Sesungguhnya banyak tertawa akan mematikan hati.” [HR At-Tirmidzi no. 2305]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas melarang seseorang untuk banyak tertawa dan bukan melarang seseorang untuk tertawa. Tertawa yang banyak dan berlebih-lebihanlah yang mengandung celaan.

Hindari sikap seorang pendidik yang terlalu serius dan selalu terlihat tegang dan kaku. Sebaliknya hindari menjadi sesorang yang terlalu sering bercanda, maka sebaiknya dia belajar untuk dapat melatih lisannya agar bisa terbiasa diam dan hanya berbicara pada hal-hal yang bermanfaat saja.

Seorang penyair terkenal, Abul-Fath Al-Busti rahimahullah pernah mengatakan:

أَفْدِ طَبْعَك الْمَكْدُودَ بِالْجِدِّ رَاحَةً يُجَمُّ وَعَلِّلْهُ بِشَيْءٍ مِنْ الْمَزْحِ

وَلَكِنْ إذَا أَعْطَيْتَهُ الْمَزْحَ فَلْيَكُنْ بِمِقْدَارِ مَا تُعْطِي الطَّعَامَ مِنْ الْمِلْحِ

Berikanlah istirahat pada tabiat kerasmu yang serius

Dirilekskan dulu dan hiasilah dengan sedikit canda

Tetapi jika engkau berikan canda kepadanya, jadikanlah ia

Seperti kadar engkau memasukkan garam pada makanan.

[Adabud-Dunya wad-Din hal. 319 dan Al-Bidayah wan-Nihayah XI/316]

Layaknya makanan, apabila tidak diberi garam maka dia akan terasa hambar. Akan tetapi, jika terlalu banyak diberikan garam, maka tidak akan enak untuk dimakan.

Sesuatu yang berlebih-lebihan, kebanyakan akan membawa dampak buruk. Sama halnya dengan bercanda dan tertawa. Apabila terlalu sering bercanda dan tertawa, maka akan mengakibatkan banyak keburukan.

Semoga bermanfaat.

Referensi tambahan :

[1] Judul Asli : Al-Mu’allim al-Awwal (Qudwah Likulli Mu’allim wa Mu’allimah), Fu’ad bin Abdul Aziz asy-Syalhub,(Begini Harusnya Menjadi Guru, Panduan Lengkap Metodologi Pengajaran Cara Rasullullah Shallahu’alahi wa Sallam)

[2] Tulisan Al Ustadz Sa’id Yai, Lc., Bercanda dan Tertawa Tidak Boleh?, Muslim.Or.id

Leave a Reply

Kajian Islam Ilmiah Syarah Kitab Arbai’n An’Nawawi 13 Desember 2017
Kajian Islam Ilmiah Syarah Kitab Arbai’n An’Nawawi 29 Nov 2017
Daftar Kajian Tashfiyah
PENDAFTARAN PESERTA WISMA MUSLIM UPI BANDUNG