Pentingnya Ikhlas Dimiliki Oleh Seorang Guru atau Dosen

إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّـلِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّـتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلاً

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal.”[QS. Al- Kahfi:107]

Semoga kita termasuk orang-orang yang beramal soleh dengan hanya untuk meraih ridho Allah.

Sebuah perkara agung yang dilalaikan banyak kalangan pendidik, yaitu membangun dan menanamkan prinsip mengikhlaskan ilmu dan amal untuk Allah. Demi Allah, berapa banyak ilmu yang bermanfaat dan amal-amalan yang mulia untuk umat, namun pemiliknya tidak mendapat bagian manfaat darinya sedikit pun dan pergi begitu saja bersama hembusan angin bagaiakan debu yang berterbangan, karena disebabkan pemiliknya tidak mengikhlaskan ilmu dan amal mereka serta tidak menjadikannya di jalan Allah. Tujuan mereka bukan untuk memberikan manfaat kepada kaum kaum Muslimin dengan ilmu dan pengetahuan serta amal-amalan tersebut, tujuan mereka hanya semata meraih kehormatan atau kedudukan dan yang sejenisnya, karena itu sangat layak bila amal-amalan tersebut pergi begitu saja bagaikan debu yang berterbangan. Adakalanya mereka mendapatkan manfaat dengan ilmu dan pengetahuan mereka di dunia berupa sanjungan, pujian dan sejenisnya tetapi ujung-ujungnya bermuara kepada kesirnaan [1].

Diriwayatkan dari Amir al-Mukminin (pemimpin kaum beriman) Abu Hafsh Umar bin al-Khattab radhiyallahu’anhu beliau mengatakan: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ مانوي . فمن كانت هجرته الي الله ورسوله فهجرته الي الله ورسوله ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلي ما هاجر إليه

“Sesungguhnya setiap amalan harus disertai dengan niat. Setiap orang hanya akan mendapatkan balasan tergantung pada niatnya. Barangsiapa yang hijrah karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena menginginkan perkara dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (hanya) mendapatkan apa yang dia inginkan.” [Muttafaq’Alahi]

Hadits yang mulia ini menunjukkan bahwa apabila niatnya baik, maka amal menjadi baik. Apabila niatnya jelek, amalnya pun menjadi jelek [Syarh Arba’in li an-Nawawi].

Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah mengatakan, “Bukhari mengawali kitab Sahihnya (Sahih Bukhari) dengan hadits ini dan dia menempatkannya laiknya sebuah khutbah (pembuka) untuk kitab itu. Dengan hal itu seolah-olah dia ingin menyatakan bahwa segala amal yang dilakukan tidak ikhlas karena ingin mencari wajah Allah maka amal itu akan sia-sia, tidak ada hasilnya baik di dunia maupun di akhirat.” [Jami’ al-‘Ulum, hal. 13]

Mutharrif bin Abdullah rahimahullah mengatakan, “Baiknya hati dengan baiknya amalan, sedangkan baiknya amalan dengan baiknya niat.” [Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rajab dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 19]

Ibnu al-Mubarak rahimahullah mengatakan, “Betapa banyak amal kecil menjadi besar karena niat. Dan betapa banyak pula amal besar menjadi kecil gara-gara niat.” [Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rajab dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 19]

Syeikh Prof. Dr. Ibrahim bin Amir bin Ali bin Ruhaili hafizhahullah mengatakan, “Ikhlas dalam beramal karena Allah ta’ala merupakan rukun paling mendasar bagi setiap amal salih. Ia merupakan pondasi yang melandasi keabsahan dan diterimanya amal di sisi Allah ta’ala, sebagaimana halnya mutaba’ah (mengikuti tuntunan) dalam melakukan amal merupakan rukun kedua untuk semua amal salih yang diterima di sisi Allah.” [Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 49]

Para pembaca yang dimuliakan oleh Allah, Allah berfirman,

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (Al-Kahfi :110)

Allah juga berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ

“Artinya : Dan sipakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan?” (An-Nisa’ :125)

Menyerahkan diri kepada Allah artinya memurnikan tujuan dan amal karena Allah. Sedangkan mengerjakan kebaikan ialah mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Allah juga berfirman dan merupakan peringatan keras bagi kita,

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

” Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan”. (Al-Furqan : 23)

Amal yang seperti debu itu adalah amal yang dimaksudkan untuk selain Allah.

Semoga Allah menganugerahi kita sifat ikhlas dalam ucapan dan perbuatan kita.

Referensi lainnya :

[1] Judul Asli : Al-Mu’allim al-Awwal (Qudwah Likulli Mu’allim wa Mu’allimah), Fu’ad bin Abdul Aziz asy-Syalhub,(Begini Harusnya Menjadi Guru, Panduan Lengkap Metodologi Pengajaran Cara Rasullullah Shallahu’alahi wa Sallam, hal 5-6)

[2] Tulisan Al Akh Ari Wahyudi, Ikhlas Dalam Beramal

Leave a Reply

Kajian Islam Ilmiah Syarah Kitab Arbai’n An’Nawawi 13 Desember 2017
Kajian Islam Ilmiah Syarah Kitab Arbai’n An’Nawawi 29 Nov 2017
Daftar Kajian Tashfiyah
PENDAFTARAN PESERTA WISMA MUSLIM UPI BANDUNG