Ketika Dosen Melakukan Kesalahan

Apa yang kita harus lakukan ketika seorang Dosen salah atau keliru?

Al-Allamah Asy Syaikh Al-Utsaimin berkata,

Jika tampak di matamu Syekh/Guru melakukan kesalahan, atau kekeliruan, maka janganlah hal itu menjatuhkan nilainya di matamu, karena hal itu menjadi sebab kamu terhalang untuk mendapatkan ilmunya. Dan siapakah gerangan yang bisa selamat dari kesalahan? [1]

Akan tetapi jika tampak ada kesalahan atau kekeliruan dari seorang Dosen, apakah kita harus diam atau mengingatkannya? jika kita mengingatkannya apakah harus di kelas pada saat pelajaran berlangsung atau di tempat lain? sangat penting ikhwah, untuk berlaku adab dalam masalah ini. Benar kita tidak boleh berdiam diri dari kesalahan, karena itu akan membahayakan dirimu dan juga beliau. Jika kita mengingatkan atas kesalahannya, kemudian beliau tersadar, maka berarti kamu telah melakukan islah atas kelasahan. Demikian pula kekeliruan, terkadang seorang Dosen mengucapkan kata-kata yang sebenarnya tidak ingin ia ucapkan, maka wajib saat itu untuk diingatkan. Akan tetapi, persoalanya sama, apakah ia harus ditegur ketika pada saat proses pembelajaran berlangsung atau saat keluar? Hal ini tergantung situasi. Terkadang situasi mengharuskan kita untuk mengingatkannya di tempat belajar berlangsung, karena jika kita tidak melakukan islah pada saat itu juga, maka ilmu yang keliru ini akan tersebar luas. Namun tetap penuhilah semua adab terhadapnya.

Adapun jika beliau tidak hadir, atau tidak mendengar kekeliruan itu, atau kekeliruan itu tidak sampai kepada para pelajar, maka yang lebih layak adalah tidak mengingatkannya di tempat belajar. Saat beliau keluar dari kelas, penuhilah semua adab terhadapnya. Misal kita berjalan bersamanya dan berkata, “Mohon maaf Bapak/Ibu, Saya mendengar ini dan ini, saya tidak tahu, apakah saya salah mendengar atau mohon maaf Bapak/Ibu keliru”.

Dimanakah sebaiknya peneguran dilakukan? Hal itu sesuai keadaan. Karena Bagaimanapun, seperti kata Syekh Bakr,

Seorang pelajar tidak layak menjatuhkan gurunya hanya karena satu kesalahan dari seribu kebenaran.[1]

Hiasi dengan semua adab dan kelemah lembutan pribadi seorang mukmin, Dari Aisyah Radhiallahu’anha  bahwa Rasulullah Shallallahu’alahi wa Sallam bersabda.

يَاعَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيْقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِيْ الأَمْرِ كُلِّهِ

“Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha lembut dan mencintai kelembutan di dalam semua urusan”[2]

Dalam riwayat lain dengan lafaz.

يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيْقٌ يُحِبُ الرِّفْقَ وَيُعْطِى عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعطِِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَالاَ يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ

“Wahai Aisyah, sesunguhnya Allah itu Mahalembut dan mencintai kelembutan. Allah memberi kepada kelembutan hal-hal yang tidak diberikan kepada kekerasan dan sifat-sifat lainnya”[3]

Dan hadits lainya  dari Aisyah Radhiallahu’anha, Nabi Shallallahu’alahi wa Sallam bersabda.

إِنَّالرِّفْقَ لاَيَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَ عُ مِنْ شَيءٍ إِلاَّ شَانَهُ

“Sungguh, segala sesuatu yang dihiasi kelembutan akan nampak indah. Sebaliknya, tanpa kelembutan segala sesuatu akan nampak jelek”[4]

Dalam riwayatlainya  dari Jabir bin Abdullah bahwa Nabi Shallallahu’alahi wa Sallam bersabda.

مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ يُحْرَمِ الْخَيْرَ

“Barangsiapa yang tidak memiliki sifat lembut, maka tidak akan mendapatkan kebaikan”. [5]

Hakikatnya tidak ada yang bisa selamat dari kesalahan baik para Dosen atau para Mahasiswanya sendiri, namun ketika salah satunya dalam kesalahan atau kekeliruan hendaklah oleh siapapun luruskan dengan adab yang baik dan penuh kelembutan.

Referensi :

[1]Al Allamah Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, “Syarah Hilyah Thalibil Ilmi,  p136-137” . Akbar Media :Jakarta.2013.

[2] HR.Al-Bukhari no.6927

[3] HR.Muslim no. 2593

[4] HR. Muslim dalam kitab Shahihnya no.2594

[5] HR. Muslim no. 2592

Leave a Reply

Kajian Islam Ilmiah Syarah Kitab Arbai’n An’Nawawi 13 Desember 2017
Kajian Islam Ilmiah Syarah Kitab Arbai’n An’Nawawi 29 Nov 2017
Daftar Kajian Tashfiyah
PENDAFTARAN PESERTA WISMA MUSLIM UPI BANDUNG