<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tashfiyah UPI &#187; Biografi</title>
	<atom:link href="http://tashfiyah.or.id/category/artikel/biografi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tashfiyah.or.id</link>
	<description>Tashfiyah UPI Bandung - Forum Studi Islam</description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Apr 2013 15:26:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Bagaimana Asy-Syaikh Muqbil Mendidik Putri Beliau?</title>
		<link>http://tashfiyah.or.id/bagaimana-asy-syaikh-muqbil-mendidik-putri-beliau/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=bagaimana-asy-syaikh-muqbil-mendidik-putri-beliau</link>
		<comments>http://tashfiyah.or.id/bagaimana-asy-syaikh-muqbil-mendidik-putri-beliau/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Apr 2011 10:07:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tashfiyah.or.id/?p=853</guid>
		<description><![CDATA[Pernah membaca buku Nashihati lin Nisa? Buku yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Nasehatku bagi Para Wanita ini ditulis oleh seorang aalimah (ulama wanita) dari negeri Yaman yang bernama Ummu Abdillah Al-Wadi’iyah. Beliau hafizhahallah adalah putri dari ulama ahlul hadits di masa kita, yaitu Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wad’i rahimahullah. Ummu Abdillah adalah seorang aalimah yang memiliki banyak keutamaan. Menurut Al-Ustadz Muhammad Barmim dalam biografi Syaikh Muqbil, Ummu Abdillah mengajar di madrasah nisa’ (khusus wanita) dan memiliki beragam karya tulis ilmiyah. Di antaranya: - Shahihul Musnad fis Syamail Muhammadiyah (tentang kesempurnaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dicetak dalam dua jilid) - Jamius Shahih fi ilmi wa Fadhlihi (tentang keutamaan ilmu) - Tahqiq kitab As-Sunnah Ibnu Abi Ashim - Nasehati lin Nisa - dan sekarang beliau masih mengerjakan Shahihul Musnad min Sirah Nabawiyah Yang ingin saya angkat dalam artikel ini adalah bagaimana cara Syaikh mendidik putrinya sehingga tumbuh menjadi seorang aalimah. Tema ini mungkin jarang diangkat karena biasanya yang dipersiapkan sebagai seorang alim atau ulama adalah anak laki-laki saja. Pernahkah kita bercita-cita putri kita menjadi seorang aalimah? Kalau memang ada keinginan tersebut, mungkin kita bisa bercermin terlebih dahulu dengan metodologi Asy-Syaikh dalam mendidik putrinya. Ummu Abdillah berkisah tentang bagaimana ayahanda beliau –Syaikh Muqbil- mendidik putri-putrinya, … Ayahanda tidak pernah menyia-nyiakan kami, betapa pun sibuknya beliau. Oleh karena itulah beliau sangat perhatian terhadap kami dalam mempelajari Al-Quran. Beliau selalu menuntun kami dalam membaca Al-Quran. Kadang beliau rekam agar hapalan kami semakin kokoh. Suatu ketika saudari saya menghapal, dan ayahanda sedang berada di perpustakaan. Saudariku tadi mencari beliau, ingin direkamkan hapalannya. Beliau pun meninggalkan risetnya, merekam hapalan saudariku lalu kembali lagi ke perpustakaan. Begitu kami mengetahui qiraah yang baik, beliau membeli kaset qiraah Syaikh Al-Husari untuk kami. Beliau juga membelikan untuk masing-masing putrinya satu tape recorder tanpa radio. Ini bentuk penjagaan beliau agar kami tidak mendengar nyanyian. Setelah kami mengerti lebih banyak, kami dibelikan masing-masing sebuah tape recorder dengan radionya, namun beliau tetap memperingatkan kami terhadap nyanyian dengan keras. Dan alhamdulillah, kami menerima peringatan tersebut. Kami tidak mendengarkan nyanyian sama sekali, seiring dengan rasa tidak senang terhadap nyanyian. Dalam menghapal, beliau memerintahkan kami untuk hanya menggunakan satu mushaf dari satu penerbit karena itu akan membantu memperkokoh hapalan. Kalau beliau melihat di tangan kami ada mushaf yang berbeda, beliau akan memberi peringatan keras dan sangat marah. Di antara murid beliau ada orang-orang Sudan dan Mesir yang datang beserta istri-istrinya. Di antara istri-istri mereka ada yang mengajar kami dengan diberi imbalan jasa oleh ayah sebagai bentuk perhatian beliau terhadap pendidikan. Dan apabila di buku-buku yang dipergunakan oleh para guru wanita tersebut ada gambar makhluk bernyawanya, beliau memerintahkan kami untuk menghapusnya. Kami pun menghapus gambar-gambar tersebut disertai dengan kebencian yang sangat terhadap gambar-gambar itu. Lalu setelah itu kami pun diajari ilmu-ilmu syar’i Al Kitab dan As-Sunnah, sehingga kami pun menghafal bersama para guru tersebut dan kami pun hapal beberapa hadits walhamdulillah. Beliau rahimahullah terkadang bersenang-senang dan bergurau bersama kami, dalam perkara yang diizinkan oleh Allah. Berbeda dengan kebanyakan kaum muslimin –kecuali yang dirahmati oleh [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah membaca buku <a href="http://tashfiyah.or.id/jadwal-kajian/">Nashihati lin Nisa</a>? Buku yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Nasehatku bagi Para Wanita ini ditulis oleh seorang aalimah (ulama wanita) dari negeri Yaman yang bernama Ummu Abdillah Al-Wadi’iyah. Beliau hafizhahallah adalah putri dari ulama ahlul hadits di masa kita, yaitu Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wad’i rahimahullah.</p>
<p>Ummu Abdillah adalah seorang aalimah yang memiliki banyak keutamaan. Menurut Al-Ustadz Muhammad Barmim dalam biografi Syaikh Muqbil, Ummu Abdillah mengajar di madrasah nisa’ (khusus wanita) dan memiliki beragam karya tulis ilmiyah. Di antaranya:</p>
<p>- Shahihul Musnad fis Syamail Muhammadiyah (tentang kesempurnaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dicetak dalam dua jilid)<br />
- Jamius Shahih fi ilmi wa Fadhlihi (tentang keutamaan ilmu)<br />
- Tahqiq kitab As-Sunnah Ibnu Abi Ashim<br />
- Nasehati lin Nisa<br />
- dan sekarang beliau masih mengerjakan Shahihul Musnad min Sirah Nabawiyah</p>
<p>Yang ingin saya angkat dalam artikel ini adalah bagaimana cara Syaikh mendidik putrinya sehingga tumbuh menjadi seorang aalimah. Tema ini mungkin jarang diangkat karena biasanya yang dipersiapkan sebagai seorang alim atau ulama adalah anak laki-laki saja. Pernahkah kita bercita-cita putri kita menjadi seorang aalimah? Kalau memang ada keinginan tersebut, mungkin kita bisa bercermin terlebih dahulu dengan metodologi Asy-Syaikh dalam mendidik putrinya.</p>
<p>Ummu Abdillah berkisah tentang bagaimana ayahanda beliau –Syaikh Muqbil- mendidik putri-putrinya,</p>
<p>… Ayahanda tidak pernah menyia-nyiakan kami, betapa pun sibuknya beliau. Oleh karena itulah beliau sangat perhatian terhadap kami dalam mempelajari Al-Quran. Beliau selalu menuntun kami dalam membaca Al-Quran. Kadang beliau rekam agar hapalan kami semakin kokoh. Suatu ketika saudari saya menghapal, dan ayahanda sedang berada di perpustakaan. Saudariku tadi mencari beliau, ingin direkamkan hapalannya. Beliau pun meninggalkan risetnya, merekam hapalan saudariku lalu kembali lagi ke perpustakaan.</p>
<p>Begitu kami mengetahui qiraah yang baik, beliau membeli kaset qiraah Syaikh Al-Husari untuk kami. Beliau juga membelikan untuk masing-masing putrinya satu tape recorder tanpa radio. Ini bentuk penjagaan beliau agar kami tidak mendengar nyanyian.</p>
<p>Setelah kami mengerti lebih banyak, kami dibelikan masing-masing sebuah tape recorder dengan radionya, namun beliau tetap memperingatkan kami terhadap nyanyian dengan keras. Dan alhamdulillah, kami menerima peringatan tersebut. Kami tidak mendengarkan nyanyian sama sekali, seiring dengan rasa tidak senang terhadap nyanyian.</p>
<p>Dalam menghapal, beliau memerintahkan kami untuk hanya menggunakan satu mushaf dari satu penerbit karena itu akan membantu memperkokoh hapalan. Kalau beliau melihat di tangan kami ada mushaf yang berbeda, beliau akan memberi peringatan keras dan sangat marah.</p>
<p>Di antara murid beliau ada orang-orang Sudan dan Mesir yang datang beserta istri-istrinya. Di antara istri-istri mereka ada yang mengajar kami dengan diberi imbalan jasa oleh ayah sebagai bentuk perhatian beliau terhadap pendidikan. Dan apabila di buku-buku yang dipergunakan oleh para guru wanita tersebut ada gambar makhluk bernyawanya, beliau memerintahkan kami untuk menghapusnya. Kami pun menghapus gambar-gambar tersebut disertai dengan kebencian yang sangat terhadap gambar-gambar itu.</p>
<p>Lalu setelah itu kami pun diajari ilmu-ilmu syar’i Al Kitab dan As-Sunnah, sehingga kami pun menghafal bersama para guru tersebut dan kami pun hapal beberapa hadits walhamdulillah.</p>
<p>Beliau rahimahullah terkadang bersenang-senang dan bergurau bersama kami, dalam perkara yang diizinkan oleh Allah. Berbeda dengan kebanyakan kaum muslimin –kecuali yang dirahmati oleh Allah- yang bersenang-senang bersama anak-anak mereka dengan televisi, nyanyian, permainan-permainan gila, serta kerusakan lainnya. Padahal nabi kita bersabda, “Kamu sekalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban tentang apa yang dipimpinnya.”</p>
<p>Beliau selalu melarang kami terlalu banyak keluar, dan beliau selalu mengharuskan kami untuk tidak keluar kecuali seizin beliau.</p>
<p>Ini apa yang dijalankan beliau semasa kami kecil.</p>
<p>Ada pun tentang pendidikan kami, beliau sangat ingin kami mendalami agama Allah dan mencari bekal ilmu syar’i. Sebab itulah, beliau mencurahkan kemampuan beliau untuk membantu kami menuntut ilmu dan membuat kami menggunakan kesempatan kami dengan sebaik-baiknya. Beliau selalu menyediakan waktu khusus untuk mendidik kami. Setiap hari kedua, beliau menanyakan pelajaran yang telah lalu. Jika pelajaran itu terlalu berat, maka beliau berikan dengan cara yang jauh lebih ringan.</p>
<p>Di antara pelajaran yang khusus kami pelajari di rumah adalah:<br />
- Qatrun Nada sampai dua kali<br />
- Syarh Ibnu Aqil sampai dua kali juga<br />
- Tadribur Rawi<br />
- Mushilut Thullabi ila Qowaidil I’rab (namun tidak selesai karena beliau sakit)</p>
<p>Majelis beliau senantiasa penuh dengan kebaikan, diskusi, dan pengarahan, sampai pun di atas hidangan makan atau via telepon.</p>
<p>Ketika beliau di Saudi sebelum berangkat ke Jerman, ayahanda mengucapkan salam lewat telepon kepada saya, “Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh”. Saya menjawab tanpa mengucapkan, “Wabarakatuh”. Beliau bertanya (menegur), “Mengapa tidak engkau balas dengan yang lebih utama?” sebagai isyarat pengamalan ayat ke 86 dari surat An-Nisa.</p>
<p>Terkadang beliau sengaja salah memberikan pertanyaan untuk menguji pemahaman kami, sebagaimana itu beliau lakukan juga kepada murid laki-laki. Kadang beliau bertanya tentang soal yang cukup berat, untuk memberikan faedah namun disuguhkan dengan pertanyaan terlebih dahulu. Metode ini pun diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana di dalam hadits Muadz.</p>
<p>Kadang ketika kami menemui kesulitan dalam pelajaran atau riset kami, beliau memerintahkan kami untuk meneruskan riset tersebut, atau beliau mengikuti kami ke perpustakaan dan membantu kami. Inilah yang menyebabkan kami begitu berduka karena kehilangan beliau rahimahullah. Siapa yang akan memperhatikan kami sepeninggal ayahanda?</p>
<p>Beliau selalu mendidik dan mengarahkan kami dengan lemah lembut. Dan dengan karunia Allah, kami tidak terdorong sedikit pun untuk menentang beliau, karena semua itu adalah demi kemaslahatan dan keuntungan kami juga. Semuanya adalah mutiara yang diuntai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah.</p>
<p>Di antara yang mengagumkan pada diri beliau adalah tidak pernah memaksakan kepada kami dalam perkara ijtihad kami yang memiliki sisi pandang lain. Kalau kami sudah memahami suatu masalah yang berbeda dengan pemahaman beliau maka beliau tidak memaksa kami, seperti juga kebiasaan beliau bersama murid-muridnya yang laki-laki. Beliau tidak pernah menekan mereka untuk memahami sesuatu yang masih perlu dipertimbangkan. Ini, sebagaimana para pembaca lihat, adalah kemuliaan yang sangat jarang ditemukan.</p>
<p>Beliau rahimahullah juga memperingatkan kami dari masyarakat, karena masyarakat kami adalah masyarakat yang rusak, bersegera dalam kesesatan dan hal-hal yang tidak berguna, kecuali yang dirahmati Allah.</p>
<p>Beliau juga memperingatkan kami dari sikap sombong. Beliau sangat benci kepada wanita yang sombong terhadap suaminya, beliau mengatakan, “Tidak ada kebaikan wanita yang seperti ini.”</p>
<p>Beliau mendorong kami untuk bersikap zuhud terhadap dunia yang rendah ini. Beliau bimbing kami untuk meniatkan apa yang kami makan dan minum untuk menguatkan kami dalam bertakwa, agar memperoleh pahala dari Allah. Beliau katakan, “Janganlah kamu sibukkan dirimu menyiapkan berbagai hidangan makanan. Apa yang mudah diolah, kita makan.”</p>
<p>Beliau bangkitkan semangat kami. Beliau bukan termasuk orang yang suka meruntuhkan semangat keluarga dan anak-anak perempuannya. Beliau membentuk kami dengan sebaik-baiknya, agar kami mudah dan bersemangat untuk bersungguh-sungguh dalam memperoleh ilmu yang bermanfaat.</p>
<p>Di antara ucapan beliau kepada saya, “Saya berharap agar kamu menjadi wanita yang faqih.” Ya Allah, wujudkanlah harapan ayahanda, duhai Zat yang tidak diharap kecuali kepada-Nya, tempatkanlah beliau di surga firdaus yang tinggi.</p>
<p>(Diringkas dari buku “Secercah Nasehat dan Kehidupan Indah Ayahanda Al-Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’I”, terbitan pustaka Al-Haura Jogjakarta).</p>
<p>Silakan dicopy dengan mencantumkan sumber:</p>
<p>http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/02/05/bagaimana-asy-syaikh-muqbil-mendidik-putri-beliau/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tashfiyah.or.id/bagaimana-asy-syaikh-muqbil-mendidik-putri-beliau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Zaid bin Tsabit</title>
		<link>http://tashfiyah.or.id/zaid-bin-tsabit/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=zaid-bin-tsabit</link>
		<comments>http://tashfiyah.or.id/zaid-bin-tsabit/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Dec 2010 00:21:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tashfiyah.or.id/?p=509</guid>
		<description><![CDATA[Nama lengkapnya adalah Zaid bin Tsabit bin Adh-Dhahak bin Zaid Ludzan bin Amru, dia masuk islam ketika umur 11 tahun ketika perang Badar terjadi. Perjalanan hidupnya. Nabi menyerahkan bendera Bani Malik bin an-Najjar kepada ‘Imarah sebagai komandan perang Tabuk, lalu Nabi mengambilnya dan diserahkan kepada Zaid bin Tsabit. Ketika beliau memintanya, maka Imarah bertanya,” Ya Rasulullah, apakah engkau akan menyerahkan sesuatu yang engkau berikan kepadaku?. Beliau menjawab,” Tidak, tetapi al-Quran harus didahulukan, dan Zaid bin Tsabit lebih banyak menguasai bacaan Al-Quran daripadamu”. Zaid juga sebagai penulis wahyu bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Saat Umar menjadi Khalifah dia diangkat sebagai amir (gubernur) Madinah sebanyak 3 kali di ibukota atau di wilayah pusat kekuasaan, dan dia juga ditugaskan untuk mengumpulkan al-Quran atas perintah Abu Bakar dan Umar sebagai mana dijelaskan dalam riwayat yang diriwayatkan oleh Bukhari : “Zaid bin Tsabit berkata” Aku disuruh menghadap Abu Bakar berkenaan dengan pembunuhan yang dilakukan penduduk Yamamah, dan ketika itu dihadapan nya ada Umar bin al-Khaththab. Lalu Abu Bakar berkata, “Jika perang terus berkecamuk banyak memakan korban jiwa kaum muslimin, banyak para penghapal al-Quran di negeri ini terbunuh, dimana akhirnya banyak bagian al-Quran yang hilang maka agar al-Quran dibukukan, aku berpandangan sama dengan Umar, engkau laki laki yang cerdas dan masih muda, maka cari dan kumpulkanlah (Mushaf) al-Quran”. Zaid bin Tsabit adalah seorang ulama yang kedudukannya sama dengan para ulama dari kalangan sahabat lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,” Umatku yang paling menguasai ilmu Faraidh adalah Zaid bin Tsabit”. Riwayat lain yang senada terdapat dalam riwayat Imam an-Nasa’I dan Ibnu Majah, dimana nabi bersabda,” Umatku yang paling penyayang adalah Abu Bakar, yang paling kuat kesaksiannya dihadapan Allah adalah Umar, yang paling diakui perasaan malunya adalah Utsman dan yang paling menguasai faraidh adalah Zaid bin Tsabit.”. Ketika Zaid bin Tsabit wafat maka Abu Hurairah berkata,” Telah wafat orang terbaik dari umat ini semoga Allah menjadikan Ibnu abbas sebagai penggantinya”. Wafatnya Ia wafat di Madinah pada tahun 45 H dalam usia 56 tahun (dalam riwayat lain ia wafat tahun 51 H atau 52 H) Disalin Zaid bin Tsabit dalam dari biografi Shafwah ash shafwah ibnu Jauzi, Al-Istia’aab Ibn Al-Barr sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=441225840601]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Nama lengkapnya adalah <strong>Zaid bin Tsabit bin Adh-Dhahak bin Zaid Ludzan bin Amru</strong>, dia masuk islam ketika umur 11 tahun ketika perang Badar terjadi.</p>
<p><strong>Perjalanan hidupnya.</strong></p>
<p>Nabi menyerahkan bendera Bani Malik bin an-Najjar kepada ‘Imarah sebagai komandan perang Tabuk, lalu Nabi mengambilnya dan diserahkan kepada Zaid bin Tsabit. Ketika beliau memintanya, maka Imarah bertanya,” Ya Rasulullah, apakah engkau akan menyerahkan sesuatu yang engkau berikan kepadaku?. Beliau menjawab,” Tidak, tetapi al-Quran harus didahulukan, dan Zaid bin Tsabit lebih banyak menguasai bacaan Al-Quran daripadamu”.</p>
<p>Zaid juga sebagai penulis wahyu bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam.</p>
<p>Saat Umar menjadi Khalifah dia diangkat sebagai amir (gubernur) Madinah sebanyak 3 kali di ibukota atau di wilayah pusat kekuasaan, dan dia juga ditugaskan untuk mengumpulkan al-Quran atas perintah Abu Bakar dan Umar sebagai mana dijelaskan dalam riwayat yang diriwayatkan oleh Bukhari : “Zaid bin Tsabit berkata” Aku disuruh menghadap Abu Bakar berkenaan dengan pembunuhan yang dilakukan penduduk Yamamah, dan ketika itu dihadapan nya ada Umar bin al-Khaththab. Lalu Abu Bakar berkata, “Jika perang terus berkecamuk banyak memakan korban jiwa kaum muslimin, banyak para penghapal al-Quran di negeri ini terbunuh, dimana akhirnya banyak bagian al-Quran yang hilang maka agar al-Quran dibukukan, aku berpandangan sama dengan Umar, engkau laki laki yang cerdas dan masih muda, maka cari dan kumpulkanlah (Mushaf) al-Quran”.</p>
<p>Zaid bin Tsabit adalah seorang ulama yang kedudukannya sama dengan para ulama dari kalangan sahabat lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,” Umatku yang paling menguasai ilmu Faraidh adalah Zaid bin Tsabit”. Riwayat lain yang senada terdapat dalam riwayat Imam an-Nasa’I dan Ibnu Majah, dimana nabi bersabda,” Umatku yang paling penyayang adalah Abu Bakar, yang paling kuat kesaksiannya dihadapan Allah adalah Umar, yang paling diakui perasaan malunya adalah Utsman dan yang paling menguasai faraidh adalah Zaid bin Tsabit.”.</p>
<p>Ketika Zaid bin Tsabit wafat maka Abu Hurairah berkata,” Telah wafat orang terbaik dari umat ini semoga Allah menjadikan Ibnu abbas sebagai penggantinya”.</p>
<p><strong>Wafatnya</strong></p>
<p>Ia wafat di Madinah pada tahun 45 H dalam usia 56 tahun (dalam riwayat lain ia wafat tahun 51 H atau 52 H)</p>
<p><em>Disalin Zaid bin Tsabit dalam dari biografi Shafwah ash shafwah ibnu Jauzi, Al-Istia’aab Ibn Al-Barr</em></p>
<p>sumber: <a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=441225840601" rel="nofollow" >http://www.facebook.com/note.php?note_id=441225840601</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tashfiyah.or.id/zaid-bin-tsabit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seorang Guru Wanita di Masa Rasulullah – Asy-Syifa’ binti ‘Abdullah</title>
		<link>http://tashfiyah.or.id/guru-wanita-di-masa-rasulullah-asy-syifa%e2%80%99-binti-abdullah/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=guru-wanita-di-masa-rasulullah-asy-syifa%25e2%2580%2599-binti-abdullah</link>
		<comments>http://tashfiyah.or.id/guru-wanita-di-masa-rasulullah-asy-syifa%e2%80%99-binti-abdullah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Nov 2010 07:43:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tashfiyah.or.id/?p=396</guid>
		<description><![CDATA[Asy-Syifa’ binti  ‘Abdullah “Seorang Guru Wanita di Masa Rasulullah” NAMA DAN NASAB Dia adalah Asy-Syifa binti Abdullah bin Abdu Syams bin Khalaf bin Saddad bin ‘Abdullah bin Qarth bin Razzah bin ‘Adi bin Ka’ab dari suku Quraisy Al-Adawiyah. KEISLAMAN Asy- Syifa binti ‘Abdullah masuk islam sebelum hijrah. Ia termasuk muhajirah angkatan pertama yang berbaiat kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Dia termasuk wanita yang disebut di dalam firman Allah: “Wahai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk berbai’at bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Allah, tidak akan mencuri, tidak berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuatg dusta yang mereka ada-adakan antara tanagn dan kaki mereka,  dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang ma’ruf, maka terimalah bai’at mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (QS: Al-Mumtahanah [60] :12) SIFAT BELIAU Asy- Syifa binti ‘Abdullah adalah wanita yang cerdas, memiliki banyak kelebihan, merupakan salah satu tokoh islam yang menonjol, dan di dalam dirinya terhimpun pengetahuan keimanan dan keimanan. Dia merupakan sedikit di antara wanita Makkah yang pandai membaca dan menulis pra-Islam. Setelah masuk islam, dialah yang mengajari para wanita muslimah dengan tujuan agar mendapat balasan dan pahala dari Allah. Sejak itulah ia menjadi guru di zaman Rasulullah. Di antara muridnya adalah Hafshah binti ‘Umar bin Khaththab, istri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. AKTIFITAS BELIAU Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam meminta Asy-Syifa untuk mengajarkan Hafshah tulis menulis dan pengobatan dengan ruqyah. Ia berkata: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah datang menemaniku saat aku sedang bersama Hafshah, lalu beliau berkata kepadaku: الا تعلمين هذه رقية النملة كما علمتيها الكتابة “Tidakkah engkau mengajarinya cara meruqyah penyakit namlah sebagaimana engkau mengajarinya tulis menulis? [1] Asy-Syifa adalah wanita beruntung karena mendapat perhatian dari Rasulullah. Beliau memberinya sebuah rumah khusus di Madinah yang berdekatan dengan para penderita penyakit gatal. Dia menempati rumah tersebut bersama anaknya Sulaiman. Asy-Syifa juga banyak belajar hadits dari beliau untuk memahami masalah-masalah agama dan keduniaan. Dengan berbekal pengetahuan inilah, ia mendakwahkan islam dan memberi nasihat kepada masyarakat. Asy-Syifa tidak pernah mengenal lelah dalam memperbaiki kesalahan. Sepeninggal Rasulullah, Asy-Syifa tetap memperhatikan keadaan kaum muslimin dan memuliakan mereka sampai ia wafat pada tahun ke-20 Hijriyah. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada AsySyifa’ binti ‘Abdullah, seorang wanita yang telah mempersembahkan yang terbaik kepada masyarakat berupa ilmu dan pengetahuan agama. Dia merupakan teladan yang baik bagi muslimah. Asy-Syifa tidak bakhil membagi pengetahuan dan lainnya dalam rangka menegakkan aqidah dengan niat semata-mata mengharap ridha dari Allah. Bandung, 22 Dzulhijjah 1431 Maraji: Wanita Teladan, penerbit IBS dengan beberapa perbaikan ahlulhadits.wordpress.com [1] Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam kitab Pengobatan bab Ruqyah Hadits no.3887 dengan sanad Hasan. Namlah adalah sebuah istilah untuk sejenis penyakit bisul yang keluar di kening atau lambung.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Asy-Syifa’ binti  ‘Abdullah</strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>“Seorang Guru Wanita di Masa Rasulullah”</em></p>
<p><strong>NAMA DAN NASAB</strong></p>
<p>Dia adalah Asy-Syifa binti Abdullah bin Abdu Syams bin Khalaf bin Saddad bin ‘Abdullah bin Qarth bin Razzah bin ‘Adi bin Ka’ab dari suku Quraisy Al-Adawiyah.</p>
<p><strong>KEISLAMAN</strong></p>
<p><strong> </strong> Asy- Syifa binti ‘Abdullah masuk islam sebelum hijrah. Ia termasuk muhajirah angkatan pertama yang berbaiat kepada Nabi <em>shalallahu ‘alaihi wasallam</em>. Dia termasuk wanita yang disebut di dalam firman Allah:</p>
<p>“<em>Wahai </em><em>Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk berbai’at bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Allah, tidak akan mencuri, tidak berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuatg dusta yang mereka ada-adakan antara tanagn dan kaki mereka,  dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang ma’ruf, maka terimalah bai’at mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (</em>QS: Al-Mumtahanah [60] :12)</p>
<p><strong>SIFAT BELIAU</strong></p>
<p>Asy- Syifa binti ‘Abdullah adalah wanita yang cerdas, memiliki banyak kelebihan, merupakan salah satu tokoh islam yang menonjol, dan di dalam dirinya terhimpun pengetahuan keimanan dan keimanan. Dia merupakan sedikit di antara wanita Makkah yang pandai membaca dan menulis pra-Islam. Setelah masuk islam, dialah yang mengajari para wanita muslimah dengan tujuan agar mendapat balasan dan pahala dari Allah. Sejak itulah ia menjadi guru di zaman Rasulullah. Di antara muridnya adalah <strong>Hafshah binti ‘Umar bin Khaththab, </strong>istri Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wasallam.</em></p>
<p><strong>AKTIFITAS BELIAU</strong></p>
<p>Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wasallam </em>meminta Asy-Syifa untuk mengajarkan Hafshah tulis menulis dan pengobatan dengan ruqyah. Ia berkata: “Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wasallam </em>pernah datang menemaniku saat aku sedang bersama Hafshah, lalu beliau berkata kepadaku:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: large;">الا تعلمين هذه رقية النملة كما علمتيها الكتابة</span></p>
<p><em>“Tidakkah engkau mengajarinya cara meruqyah penyakit namlah sebagaimana engkau mengajarinya tulis menulis? </em><sup>[1]</sup></p>
<p>Asy-Syifa adalah wanita beruntung karena mendapat perhatian dari Rasulullah. Beliau memberinya sebuah rumah khusus di Madinah yang berdekatan dengan para penderita penyakit gatal. Dia menempati rumah tersebut bersama anaknya Sulaiman. Asy-Syifa juga banyak belajar hadits dari beliau untuk memahami masalah-masalah agama dan keduniaan. Dengan berbekal pengetahuan inilah, ia mendakwahkan islam dan memberi nasihat kepada masyarakat.</p>
<p>Asy-Syifa tidak pernah mengenal lelah dalam memperbaiki kesalahan.  Sepeninggal Rasulullah, Asy-Syifa tetap memperhatikan keadaan kaum muslimin dan memuliakan mereka sampai ia wafat pada tahun ke-20 Hijriyah.  Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada AsySyifa’ binti ‘Abdullah, seorang wanita yang telah mempersembahkan yang terbaik kepada masyarakat berupa ilmu dan pengetahuan agama. Dia merupakan teladan yang baik bagi muslimah. Asy-Syifa tidak bakhil membagi pengetahuan dan lainnya dalam rangka menegakkan aqidah dengan niat semata-mata mengharap ridha dari Allah.  Bandung,  22 Dzulhijjah 1431  Maraji:</p>
<ul>
<li>Wanita Teladan, penerbit IBS dengan beberapa perbaikan</li>
<li><a href="http://www.ahlulhadits.wordpress.com/" rel="nofollow" >ahlulhadits.wordpress.com</a></li>
</ul>
<p>[1] Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam kitab <em>Pengobatan</em> bab <em>Ruqyah</em> Hadits no.3887 dengan sanad Hasan. Namlah adalah sebuah istilah untuk sejenis penyakit bisul yang keluar di kening atau lambung.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tashfiyah.or.id/guru-wanita-di-masa-rasulullah-asy-syifa%e2%80%99-binti-abdullah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Imam Asy Syafi&#039;i</title>
		<link>http://tashfiyah.or.id/imam-syafii/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=imam-syafii</link>
		<comments>http://tashfiyah.or.id/imam-syafii/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Nov 2010 02:16:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tashfiyah.or.id/?p=354</guid>
		<description><![CDATA[Saudaraku, syukur kita kepada Allah Ta&#8217;ala, pada kesempatan yang indah ini, kita masih dapat bertemu kembali, berjalan bersama, melangkahkan hati dan pikiran untuk menambah pundi-pundi &#8216;ilmu kita bersama Imam yang ke-tiga dari Imam yang empat, Imam Asy Syafi&#8217;i rahimahullah, Imam yang tidak asing lagi bagi negeri kita, Imam yang dicintai oleh seluruh umat. Hari ini, detik ini, walau telah lebih dari seribu tahun kita kehilangan beliau, akan tetapi kita masih bisa merasakan kobaran ilmu beliau. Nama dan Nashab Beliau Beliau bernama Muhammad bin Idris bin Al &#8216;Abbas bin &#8216;Ustman bin Syafi&#8217;i bin As Saib bin &#8216;Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim bin Al Muththalib bin Abdi Manaf bin Qusa&#8217;i bin Kilab Al Quraisyi As Asyafi&#8217;i Al Makhi Al Ghasyyi. Maka, dari sini kita ketahui Asy Syafi&#8217;i nishbat kepada kakek beliau yang ke-tiga (Syafi&#8217;i). Selain itu, beliau juga memiliki kebanggaan, karena nashab beliau terhubung dengan nashab Rasulullah, karena Al Muththalib adalah saudara dari Hasyim, orang tua &#8216;Abdul Muththalib, sedang &#8216;Abdul Muththalib adalah kakek Nabi. [Syi'ar A'lam Nubala', Jilid 10, Hal. 4-7] Beliau dilahirkan di Gaza, Palestina pada tahun 150 H bertetapan dengan tahun meninggalnya Imam besar, Imam Abu Hanifah, maka seolah-olah tongkat estafet telah dipindahkan untuk diteruskan oleh Imam Syafi&#8217;ie. Setelah umat ini merasa susah, karena ditimpa musibah dengan wafatnya Imam Abu Hanifah, maka Allah menggantinya dengan Imam Asy Syafi&#8217;i. (( ثُمَّ بَدَّلْنَا مَكَانَ السَّيِّئَةِ الْحَسَنَة )) &#8220;Kemudian Kami ganti kesusahan itu dengan kesenangan.&#8221; (QS. Al A&#8217;raf, 95) Anak Yatim Siapa sangka, bila Imam besar ini adalah anak yatim?? Ayahnya, Idris, meninggal tatkala masih muda, maka ibu beliau mengambil inisiatif untuk berpindah dari Palestina menuju Makkah. Beliau pun tumbuh di Makkah. Beliau berlatih memanah sampai mahir mengungguli teman-temannya. Beliau sangat mahir, sampai-sampai dari sepuluh anak panah yang beliau tembakkan, sembilan di antaranya tepat mengenai sasarannya. Setelah itu, beliau mendalami Bahasa Arab dan sya&#8217;ir, sampai beliau mahir dan mumpuni ilmunya. [Syi'ar A'lam Nubala', Jilid 10, Hal. 6] Cinta Ilmu Imam Asy Syafi&#8217;i adalah orang yang mencintai ilmu, sampai-sampai beliau mengatakan, &#8220;Maka dijadikan kelezatanku ada pada ilmu.&#8221; [Adabu `sy Syafi’i, oleh Ibnu Abi Hatim (21-22)] Beliau pun merealisasikan keinginannya tersebut, beliau belajar di Al Kuttab (sekolah menghafal Al Qur-an), tapi sayang sang ibu yang menjanda tidak mampu membiayainya. Alhamdulillah sang guru rela tidak dibayar, setelah melihat kecerdasan dan kecepatannya dalam menghafal. Sang guru pernah berkata,  &#8220;Tidak halal bagiku mengambil upah sedikitpun darimu.&#8221; [Imam Asy Syafi'ie, Ust. Arif Syarifuddin] Bahkan, segera guru itupun mengangkatnya menjadi pengganti, apabila sang guru berhalangan hadir. Kemudian, beliau menampakkan hasil usahanya pada usia 7 tahun beliau sudah hafal Al Qur-an, usia 10 tahun beliau sudah hafal Kitab Muwatha&#8217; milik Imam Malik (kitab hadits yang berisi kurang lebih 1942 hadits). Imam Asy Syafi&#8217;i pernah berkata, “Aku hafal Al Qur-an ketika aku berumur 7 tahun dan aku hafal Kitab Al Muwatha&#8217; ketika aku berumur 10 tahun.” Pengemberaan Mencari Ilmu Beliau mengawali pengembaraanya dengan menimba ilmu dari ulama&#8217;-ulama&#8217; Mekkah, seperti Muslim bin Khalid, Muhammad Ali bin Syafi&#8217;ie (paman jauh beliau), Sufyan bin Uyainah (ahli hadits Mekkah), Fudhail bin &#8216;Iyyadh, Abdurrahman bin Abu [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Saudaraku, syukur kita kepada Allah Ta&#8217;ala, pada kesempatan yang indah ini, kita masih dapat bertemu kembali, berjalan bersama, melangkahkan hati dan pikiran untuk menambah pundi-pundi &#8216;ilmu kita bersama Imam yang ke-tiga dari Imam yang empat, Imam Asy Syafi&#8217;i rahimahullah, Imam yang tidak asing lagi bagi negeri kita, Imam yang dicintai oleh seluruh umat. Hari ini, detik ini, walau telah lebih dari seribu tahun kita kehilangan beliau, akan tetapi kita masih bisa merasakan kobaran ilmu beliau.</p>
<p><strong>Nama dan Nashab Beliau</strong></p>
<p><strong></strong>Beliau bernama Muhammad bin Idris bin Al &#8216;Abbas bin &#8216;Ustman bin Syafi&#8217;i bin As Saib bin &#8216;Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim bin Al Muththalib bin Abdi Manaf bin Qusa&#8217;i bin Kilab Al Quraisyi As Asyafi&#8217;i Al Makhi Al Ghasyyi. Maka, dari sini kita ketahui Asy Syafi&#8217;i nishbat kepada kakek beliau yang ke-tiga (Syafi&#8217;i). Selain itu, beliau juga memiliki kebanggaan, karena nashab beliau terhubung dengan nashab Rasulullah, karena Al Muththalib adalah saudara dari Hasyim, orang tua &#8216;Abdul Muththalib, sedang &#8216;Abdul Muththalib adalah kakek Nabi. [Syi'ar A'lam Nubala', Jilid 10, Hal. 4-7]</p>
<p>Beliau dilahirkan di Gaza, Palestina pada tahun 150 H bertetapan dengan tahun meninggalnya Imam besar, Imam Abu Hanifah, maka seolah-olah tongkat estafet telah dipindahkan untuk diteruskan oleh Imam Syafi&#8217;ie. Setelah umat ini merasa susah, karena ditimpa musibah dengan wafatnya Imam Abu Hanifah, maka Allah menggantinya dengan Imam Asy Syafi&#8217;i.</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: large;">(( ثُمَّ بَدَّلْنَا مَكَانَ السَّيِّئَةِ الْحَسَنَة ))</span></p>
<p style="text-align: left;"><em>&#8220;Kemudian Kami ganti kesusahan itu dengan kesenangan.&#8221;</em> (QS. Al A&#8217;raf, 95)</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Anak Yatim</strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong></strong>Siapa sangka, bila Imam besar ini adalah anak yatim?? Ayahnya, Idris, meninggal tatkala masih muda, maka ibu beliau mengambil inisiatif untuk berpindah dari Palestina menuju Makkah. Beliau pun tumbuh di Makkah. Beliau berlatih memanah sampai mahir mengungguli teman-temannya. Beliau sangat mahir, sampai-sampai dari sepuluh anak panah yang beliau tembakkan, sembilan di antaranya tepat mengenai sasarannya. Setelah itu, beliau mendalami Bahasa Arab dan sya&#8217;ir, sampai beliau mahir dan mumpuni ilmunya. [Syi'ar A'lam Nubala', Jilid 10, Hal. 6]<br />
<strong></strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong>Cinta Ilmu</strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong></strong>Imam Asy Syafi&#8217;i adalah orang yang mencintai ilmu, sampai-sampai beliau mengatakan, &#8220;Maka dijadikan kelezatanku ada pada ilmu.&#8221; [Adabu `sy Syafi’i, oleh Ibnu Abi Hatim (21-22)]<br />
Beliau pun merealisasikan keinginannya tersebut, beliau belajar di Al Kuttab (sekolah menghafal Al Qur-an), tapi sayang sang ibu yang menjanda tidak mampu membiayainya. Alhamdulillah sang guru rela tidak dibayar, setelah melihat kecerdasan dan kecepatannya dalam menghafal. Sang guru pernah berkata,  &#8220;Tidak halal bagiku mengambil upah sedikitpun darimu.&#8221; [Imam Asy Syafi'ie, Ust. Arif Syarifuddin]</p>
<p style="text-align: left;">Bahkan, segera guru itupun mengangkatnya menjadi pengganti, apabila sang guru berhalangan hadir. Kemudian, beliau menampakkan hasil usahanya pada usia 7 tahun beliau sudah hafal Al Qur-an, usia 10 tahun beliau sudah hafal Kitab Muwatha&#8217; milik Imam Malik (kitab hadits yang berisi kurang lebih 1942 hadits). Imam Asy Syafi&#8217;i pernah berkata, “Aku hafal Al Qur-an ketika aku berumur 7 tahun dan aku hafal Kitab Al Muwatha&#8217; ketika aku berumur 10 tahun.”</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Pengemberaan Mencari Ilmu</strong></p>
<p style="text-align: left;">Beliau mengawali pengembaraanya dengan menimba ilmu dari ulama&#8217;-ulama&#8217; Mekkah, seperti Muslim bin Khalid, Muhammad Ali bin Syafi&#8217;ie (paman jauh beliau), Sufyan bin Uyainah (ahli hadits Mekkah), Fudhail bin &#8216;Iyyadh, Abdurrahman bin Abu Bakr Al Maliki dan masih banyak lagi. Dari Mekkah beliau belajar fiqih, hadits dan lughah, serta Al Muwatha&#8217; milik Iman Malik.</p>
<p style="text-align: left;">Setelah mendapatkan izin dari gurunya untuk berfatwa, timbul keinginan beliau untuk mengembara ke Madinah, terlebih di Madinah ada Imam Malik bin Anas pengarang kitab Al Muwatha&#8217;. Maka, berangkatlah beliau menemui Sang Imam. Di hadapan Imam Malik, beliau membaca Al Muwatha&#8217; dengan hafalan beliau yang membuat Imam Malik kagum dengannya. Maka, Imam Asy Syafi&#8217;i pun menjalani mulazamah dengan Imam Malik untuk mengambil ilmu beliau, sampai Imam Malik wafat pada tahun 179 H.</p>
<p style="text-align: left;">Selain Imam Malik, beliau juga berguru kepada ulama&#8217;-ulama&#8217; Madinah lainnya, seperti Ibrahim bin Abi Yahya, &#8216;Abdul &#8216;Aziz Ad Dawardi, Athaf bin Khalid, Isma&#8217;il bin Ja&#8217;far dan masih banyak lagi. [Asy Syafi'i, Ust. Arif Syarifuddin]<br />
Setelah kembali ke Mekkah, kemudian beliau melanjutkan mencari ilmu ke Yaman. Berawal dari Yaman inilah beliau mendapat cobaan, satu hal yang sering dialami para ulama&#8217;. Sebagaimana hadits Nabi, <em>&#8220;Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian yang setelahnya, kemudian yang setelahnya.&#8221;</em> [HR. Ahmad]</p>
<p style="text-align: left;">Di Yaman beliau menjadi tenar, karena sejumlah kegiatan dan kegigihannya menegakkan keadilan, lalu ketenarannya tersebut sampai kepada penduduk Mekkah. Maka, orang-orang yang tidak senang mengadukannya kepada Khalifah Harun Al Rasyid. Mereka menuduhnya hendak mengobarkan pemberontakan bersama orang-orang dari kalangan &#8216;Alawiyah (orang yang menisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib). Tuduhan dusta yang diarahkan kepada beliau membuat beliau ditangkap, kemudian digelandang ke Baghdad dalam keadaan dibelenggu dengan rantai bersama orang-orang &#8216;Alawiyah.</p>
<p style="text-align: left;">Setelah memeriksa satu demi satu, Khalifah menyuruh pegawainya untuk memenggal kepala mereka. Ketika tiba giliran Imam Asy Syafi&#8217;i, beliau berusaha memberikan penjelasan kepada Khalifah. Dengan pertolongan Allah, kemudian dengan kecerdasan dan ketenangannya, serta pembelaan dari Muhammad bin Al Hasan (ahli fiqih dari Iraq), beliau berhasil meyakinkan Khalifah tentang kedustaan dan tuduhan tersebut. Akhirnya, beliau meninggalkan Majelis Khalifah Harun Al Rasyid dalam keadaan bersih dari tuduhan dan mendapatkan kesempatan untuk tinggal di negeri Baghdad. [Asy Syafi'i, Ust. Arif Syarifuddin]</p>
<p style="text-align: left;">Setelah meraih ilmu dari para ulama&#8217; di Negeri Iraq, beliau kembali mengajar di tempat dahulu beliau belajar (Mekkah). Ketika musim haji tiba, ribuan jama&#8217;ah haji berdatangan ke Mekkah, mereka telah mendengar nama beliau dan ilmunya yang mengagumkan. Mereka bersemangat mengikuti pengajaran, sampai akhirnya nama beliau makin dikenal luas. Salah satu di antaranya adalah Imam Ahmad bin Hambal.</p>
<p style="text-align: left;">Ketika kemasyhurannya sampai ke Kota Baghdad, Imam Abdurahman bin Al Mahdi mengirim surat kepada Imam Asy Syafi&#8217;i, memintanya untuk menulis sebuah kitab yang berisi kabar-kabar yang maqbul (yang diterima), pejelasan tentang nasikh dan mansukh dari ayat-ayat Al Qur-an dan lain-lain. Maka, beliau pun menulis kitabnya yang terkenal yaitu <strong>Ar Risalah</strong>.</p>
<p style="text-align: left;">Setelah lebih dari 9 tahun mengajar di Mekkah. Beliau kembali melakukan perjalanan ke Iraq untuk ke-dua kalinya dalam rangka menolong Ashabul Hadits (orang yang memuliakan hadits). Beliau mendapat sambutan meriah di Baghdad, karena para ulama&#8217; besar menyebut-nyebut namanya. Beliau menetap di Iraq selama dua tahun, kemudian pada tahun 197 H beliau kembali ke Mekkah. Di sana beliau mulai menyebarkan madzhab-nya sendiri. Maka, datanglah para penuntut ilmu kepadanya dan meneguk manisnya ilmu beliau. Tetapi, beliau hanya satu tahun di Mekkah.</p>
<p style="text-align: left;">Pada tahun 198 H beliau berangkat lagi ke Iraq. Namun, beliau hanya beberapa bulan saja di sana, sebab Khalifah Al Makmun, telah dikuasai oleh ahli kalam, padahal kita sudah tahu, bahwa ilmu kalam itu menyimpang  dari Manhaj Ahlis Sunnah  wal Jama&#8217;ah.<br />
Salah satu kekeliruan fatal yang ada pada ahlu kalam adalah mereka berpemahaman, bahwa Al Qur-an itu makhluk, bukan Kalamullah, padahal pemahaman yang benar adalah Al Qur-an Kalamullah, bukan makhluk. Imam Ahmad pernah berkata,</p>
<p style="text-align: left;"><span style="font-size: large;">القرآنُ كَلاَمُ اللهِ لَيْسَ بِمَخْلُوْقٍ</span></p>
<p style="text-align: left;"><em>&#8220;Al Qur-an itu Kalamullah dan bukanlah makhluk.&#8221;</em> [Ushuulu `s Sunnah]</p>
<p style="text-align: left;">Karena sangat berbahayanya ilmu kalam ini (mereka lebih mengutamakan akal dari pada dalil Al Qur-an dan As Sunnah), tidak heran lagi, jika Imam Asy Syafi&#8217;i pernah berkata, <em>&#8220;Hukumanku bagi orang yang belajar ilmu kalam adalah mereka dipukul dengan pelepah kurma dan sandal-sandal, kemudian diarak berkeliling qabilah-qabilah.&#8221;</em> Kemudian dikatakan, <em>&#8220;Inilah balasan bagi orang yang berpaling dari Al Kitab dan As Sunnah dan sibuk dengan ilmu kalam.&#8221; </em>[Manhaj Imam Asy Syafi'ie fie Itsbatil 'Aqiedah]</p>
<p style="text-align: left;">Dan begitulah kenyataanya, provokasi mereka telah membuat Khalifah mendatangkan banyak musibah bagi para ulama&#8217; ahlu hadits. Salah satunya adalah yang dikenal dengan Yaumul Mihnah (Hari Ujian), ketika dia mengumpulkan para ulama&#8217;, kemudian mereka dipaksa untuk berpemahaman &#8216;Al Qur-an itu adalah makhluk&#8217;. Bila menolak, maka dipenggal atau dipenjara, adalah Imam Ahmad bin Hambal, yang akhirnya beliau pun masuk ke dalam penjara. Oleh karena itulah, Imam Asy Syafi&#8217;i akhirnya hijrah ke Mesir. Di Mesir beliau diterima oleh penduduknya. Di Mesir pula beliau meneliti ulang kitab-kitab beliau yang terdahulu, kemudian merevisinya, jika terdapat kesalahan. Beliau tidak malu untuk meralat pendapat beliau yang terdahulu, jika nyata pendapat tersebut salah, kemudian beliau membentuk madzhab beliau yang baru. Sehingga, sering kita dengar ada &#8216;qaul qadim&#8217; (perkataan Asy Syafi&#8217;ie yang terdahulu) dan &#8216;qaul jadid&#8217; (perkataan Asy Syafi&#8217;i yang baru). Hal ini menunjukan, bahwa Imam Asy Syafi&#8217;i adalah seorang imam yang benar-benar tunduk kepada Al Qur-an dan As Sunnah. Beliau tidak bersikeras mempertahankan pendapatnya, jikalau bertentangan dengan Al Qur-an dan As Sunnah. [Manhaj Imam Asy Syafi'ie fie Itsbat `l `Aqiedah]</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Keteguhan Beliau Membela Sunnah</strong></p>
<p style="text-align: left;">Saudaraku, perjalanan yang panjang lagi melelahkan telah melahirkan seorang imam yang kokoh dalam membela sunnah. Dalam menerapkan suatu masalah, beliau selalu menjadikan Al Qur-an dan As Sunnah sebagai landasan dan sumber hukum. Beliau pernah berkata, “Aku beriman kepada Allah dan apa yang datang dari Allah, sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh Allah. Dan aku juga beriman kepada Rasulullah dan apa yang datang dari Rasulullah sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh Rasulullah.&#8221; [Lum'atul I'tiqad]</p>
<p style="text-align: left;">Beliau juga tidak malu untuk kembali ruju&#8217; (merevisi) madzhab beliau, jika ternyata menyelisihi As Sunnah. Beliau pernah berkata, <em>&#8220;Apabila hadits itu shahih, maka itu madzhabku.”</em></p>
<p style="text-align: left;">Beliau juga tidak malu merendahkan diri di hadapan ahli ilmu, walaupun usianya lebih muda dari beliau. Salah satu saksi dari sikap beliau ini adalah ucapan beliau kepada Imam Ahmad bin Hanbal,</p>
<p style="text-align: left;"><span style="font-size: large;">إِذاَ صَحَّ عِنْدَكُمُ الْحَدِيْثُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُوْلُوْا حَتَّى أَذْهَبُ إِلَيْهِ</span></p>
<p style="text-align: left;"><em>“Jika telah sah suatu hadits di sisi Anda, yaitu hadits dari Nabi, maka katakanlah padaku, sehingga aku bisa bermadzhab denganya.”</em><br />
[Al Maraghib li `l Baihaqi (1/471)]</p>
<p style="text-align: left;">Imam Asy Syafi&#8217;i juga berkata kepada Imam Ahmad rahimahullah,<em> “Anda lebih berilmu dariku tentang hadits dan rijal (perowi), maka jika ada hadits yang shahih beritahulah aku dan aku tidak peduli &#8216;apakah riwayat itu penduduk Kufi, Basrah atau Syam, kemudian aku akan bermadzhab dengannya, jika memang benar keshahihannya.”</em> [Thabaqat Abi Ya'la (1/280-281)]</p>
<p style="text-align: left;">Maka, dari penjelasan di atas, tak heran kalau beliau banyak dipuji oleh para ulama, cukuplah pujian satu ulama yang mewakili mereka. Berkata Imam Ahmad bin Hambal,</p>
<p style="text-align: left;"><span style="font-size: large;">ماَ رَأَيْتُ أَفْسَحَ مِنْهُ وَلاَ أَفْهَمَ لِلْعُلُوْمِ عَنْهُ</span></p>
<p style="text-align: left;">“Tidak pernah aku melihat ada orang yang lebih fasih dan yang lebih paham dengan ilmu dari dia (Imam Asy Syafi&#8217;i).”<br />
[Manaqib Imam Asy Syafi'ie, Hal. 45]</p>
<p><strong>Nasehat-nasehat Beliau</strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong></strong>Saudara pembaca yang kami muliakan, sebagaimana kebiasaan para ahli ilmu, mereka senantiasa memberikan nasehat bagi umat, baik secara langsung atau tersirat, dari mutiara yang keluar dari lisan mereka. Maka, demikian juga imam syafi&#8217;i senantiasa memberikan nasehat, serta wasiat kepada kita. Di antara nasehat terpenting yang tersirat dari ucapan beliau adalah:</p>
<ol>
<li>Jangan ta&#8217;klid (membela pendapat seseorang), jika nyata pendapat tersebut menyelisihi Al Qur-an dan As Sunnah!</li>
<p>Beliau pernah berkata, &#8220;Jika kalian dapati di dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi Sunnah Rasulullah, maka berkatalah dengannya (As Sunnah) dan tinggalkan apa yang aku katakan.”<br />
Beliau juga pernah berkata, &#8220;Janganlah kalian bertaqlid kepadaku.&#8221; [Syi'ar A'lam Nubala' (10/33-34)]</p>
<li>Jadikan As Sunnah sebagai madzhabmu, apabi-la haditsnya shahih!</li>
<p>Beliau berkata,<br />
إِذَا صَحَّ الْحَدِيْثُ فَهُوَ مَذْهَبِيْ<br />
&#8220;Apabila hadits itu shahih, maka itu madzhabku.&#8221; [Syi'ar A'lam Nubala' (10/35)]</p>
<li>Jangan melempar kesalah kepada orang lain!</li>
<p>Saudaraku, beliau pernah bersyair,<br />
<em> &#8220;Aku melihat manusia mengeluh tentang jaman kita,<br />
Dan bukanlah jaman itu yang punya aib, tapi kitalah ia,<br />
Kita cela jaman kita, padahal aib itu ada pada kita,<br />
Dan seandainya jaman itu bisa bicara, niscaya ia akan melempari kita.”</em>[Manaqib Asy Syafi'ie (187)]</p>
<li>Manfaatkan waktu muda!</li>
<p>Ketika muda, biasanya jiwa masih bersih pikiran, belum banyak tercampur dengan urusan dunia, maka jangan sia-siakan waktu muda untuk hal-hal yang sia-sia. Jangan malas-malasan, pergunakanlah waktu muda untuk belajar, pergunanakan untuk menghafal Al Qur-an dan ilmu-ilmu yang bermanfaat! Sebagaimana yang dicontohkan oleh Imam Asy Syafi&#8217;i. Sejak usia dini, beliau telah menekuni ilmu agama, mulai dari menghafal Al Qur-an, kemudian hadits dan semua itu dihafal. Beliau berkata, &#8220;Aku hafal Al Qur-an ketika aku berumur 7 tahun dan aku hafal kitab Al Muwatha&#8217; ketika aku berumur 10.”</ol>
<p style="text-align: left;"><strong>Wafatnya Beliau </strong></p>
<p style="text-align: left;">Imam Asy Syafi&#8217;i menghabiskan akhir kehidupanya untuk menebarkan ilmu dan menulis kitab di Mesir. Dalam hidupanya beliau senantiasa mendakwahkan ilmu dan diuji dengan penyakit bawazir. Akan tetapi, karena kecintaanya kepada ilmu, beliau tetap berdakwah sampai akhir Bulan Rajab tahun 204 H ajal menjemput beliau. Berkata Imam Al Muzani, <em>&#8220;Aku datang menemui Imam Syafi&#8217;i, tatkala beliau sakit yang membawa kepada kematian beliau. Aku bertanya kepada Imam Syafi&#8217;i, &#8216;Bagaimana kondisimu, wahai Imam?&#8217; Beliau menjawab,&#8221;Jadilah aku orang yang pergi dari dunia, berpisah dengan saudara-saudara. Meminum segelas rasa kematian. Kepada Allah aku menghadap bertemu dengan buruknya amalanku. Demi Allah, aku tidak tahu apakah ruhku akan ke Surga, sehingga aku akan merasa mudah, ataukah ke dalam Neraka, sehingga aku akan berduka.&#8221; </em>[Manhaj Imam Syafi'i fi Istbat Aqidah, Hal. 39]</p>
<p style="text-align: left;">Semoga Allah merahmati Imam Syafi&#8217;i dan semoga kita bisa bertauladan kepada beliau.<br />
wallahu a’lam bi `sh shawaab<br />
Ust. Agung Abdul Adziem<br />
Maraji&#8217;:<br />
- Asy Syafi&#8217;i (Ust. Arif Syarifudin, Lc.);<br />
- Syi&#8217;ar A&#8217;lam Nubala&#8217; Jilid 10;<br />
- Manaqib Imam Asy Syafi&#8217;i;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tashfiyah.or.id/imam-syafii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bilal bin Rabah -Radhiallahu &#039;anhu-</title>
		<link>http://tashfiyah.or.id/bilal-bin-rabah-radhiallahu-anhu/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=bilal-bin-rabah-radhiallahu-anhu</link>
		<comments>http://tashfiyah.or.id/bilal-bin-rabah-radhiallahu-anhu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 00:00:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tashfiyah.or.id/?p=507</guid>
		<description><![CDATA[<span style="font-size: small;">Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, memiliki kisah menarik tentang sebuah perjuangan mempertahankan aqidah. Sebuah kisah yang tidak akan pernah membosankan, walaupun terus diulang-ulang sepanjang zaman. Kekuatan alurnya akan membuat setiap orang tetap penasaran untuk mendengarnya.</span>

Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah. Karena ibunya itu, sebagian orang]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: small;">Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, memiliki kisah menarik tentang sebuah perjuangan mempertahankan aqidah. Sebuah kisah yang tidak akan pernah membosankan, walaupun terus diulang-ulang sepanjang zaman. Kekuatan alurnya akan membuat setiap orang tetap penasaran untuk mendengarnya.</span></p>
<p>Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah. Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus-Sauda&#8217; (putra wanita hitam).<br />
Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Mekah) sebagai seorang budak milik keluarga bani Abduddar. Saat ayah mereka meinggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir.</p>
<p>Ketika Mekah diterangi cahaya agama baru dan Rasul yang agung Sholallahu ‘alaihi wasallam mulai mengumandangkan seruan kalimat tauhid, Bilal adalah termasuk orang-orang pertama yang memeluk Islam. Saat Bilal masuk Islam, di bumi ini hanya ada beberapa orang yang telah mendahuluinya memeluk agama baru itu, seperti Ummul Mu&#8217;minin Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar ash-Shiddiq, Ali bin Abu Thalib, &#8216;Ammar bin Yasir bersama ibunya, Sumayyah, Shuhaib ar-Rumi, dan al-Miqdad bin al-Aswad.</p>
<p>Bilal merasakan penganiayaan orang-orang musyrik yang lebih berat dari siapa pun. Berbagai macam kekerasan, siksaan, dan kekejaman mendera tubuhnya. Namun ia, sebagaimana kaum muslimin yang lemah lainnya, tetap sabar menghadapi ujian di jalan Allah itu dengan kesabaran yang jarang sanggup ditunjukkan oleh siapa pun.</p>
<p>Orang-orang Islam seperti Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib masih memiliki keluarga dan suku yang membela mereka. Akan tetapi, orang-orang yang tertindas (mustadh&#8217;afun) dari kalangan hamba sahaya dan budak itu, tidak memiliki siapa pun, sehingga orang-orang Quraisy menyiksanya tanpa belas kasihan. Quraisy ingin menjadikan penyiksaan atas mereka sebagai contoh dan pelajaran bagi setiap orang yang ingin mengikuti ajaran Muhammad.</p>
<p>Kaum yang tertindas itu disiksa oleh orang-orang kafir Quraisy yang berhati sangat kejam dan tak mengenal kasih sayang, seperti Abu Jahal yang telah menodai dirinya dengan membunuh Sumayyah. Ia sempat menghina dan mencaci maki, kemudian menghunjamkan tombaknya pada perut Sumayyah hingga menembus punggung&#8230; , dan gugurlah syuhada pertama dalam sejarah Islam.</p>
<p>Sementara itu, saudara-saudara seperjuangan Sumayyah, terutama Bilal bin Rabah, terus disiksa oleh Quraisy tanpa henti. Biasanya, apabila matahari tepat di atas ubun-ubun dan padang pasir Mekah berubah menjadi perapian yang begitu menyengat, orang-orang Quraisy itu mulai membuka pakaian orang-orang Islam yang tertindas itu, lalu memakaikan baju besi pada mereka dan membiarkan mereka terbakar oleh sengatan matahari yang terasa semakin terik. Tidak cukup sampai di sana, orang-orang Quraisy itu mencambuk tubuh mereka sambil memaksa mereka mencaci maki Muhammad.</p>
<p>Adakalanya, saat siksaan terasa begitu berat dan kekuatan tubuh orang-orang Islam yang tertindas itu semakin lemah untuk menahannya, mereka mengikuti kemauan orang-orang Quraisy yang menyiksa mereka secara lahir, sementara hatinya tetap pasrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kecuali Bilal-semoga Allah meridhainya. Baginya, penderitaan itu masih terasa terlalu ringan jika dibandingkan dengan kecintaannya kepada Allah dan perjuangan di jalan-Nya.</p>
<p>Orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal adalah Umayyah bin Khalaf bersama para algojonya. Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad, Ahad &#8230; (Allah Maha Esa).” Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad &#8230;.“ Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad&#8230;.”</p>
<p>Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan &#8216;Uzza, tapi Bilal justru memuji nama Allah dan Rasul-Nya. Mereka terus memaksanya, “Ikutilah yang kami katakan!”<br />
Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.” Jawaban ini membuat siksaan mereka semakin hebat dan keras.</p>
<p>Apabila merasa lelah dan bosan menyiksa, sang tiran, Umayyah bin Khalaf, mengikat leher Bilal dengan tali yang kasar lalu menyerahkannya kepada sejumlah orang tak berbudi dan anak-anak agar menariknya di jalanan dan menyeretnya di sepanjang Abthah(1) Mekah. Sementara itu, Bilal menikmati siksaan yang diterimanya karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ia terus mengumandangkan pernyataan agungnya, “Ahad&#8230;, Ahad&#8230;, Ahad&#8230;, Ahad&#8230;.” Ia terus mengulang-ulangnya tanpa merasa bosan dan lelah.</p>
<p>Suatu ketika, Abu Bakar Rodhiallahu ‘anhu mengajukan penawaran kepada Umayyah bin Khalaf untuk membeli Bilal darinya. Umayyah menaikkan harga berlipat ganda. Ia mengira Abu Bakar tidak akan mau membayarnya. Tapi ternyata, Abu Bakar setuju, walaupun harus mengeluarkan sembilan uqiyah emas(2.<br />
Seusai transaksi, Umayyah berkata kepada Abu Bakar, &#8220;Sebenarnya, kalau engkau menawar sampai satu uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk menjualnya.&#8221;<br />
Abu Bakar membalas, &#8220;Seandainya engkau memberi tawaran sampai seratus uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk membelinya&#8230;&#8221;</p>
<p>Ketika Abu Bakar memberi tahu Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam bahwa ia telah membeli sekaligus menyelamatkan Bilal dari cengkeraman para penyiksanya, Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Abu Bakar, &#8220;Kalau begitu, biarkan aku bersekutu denganmu untuk membayarnya, wahai Abu Bakar.&#8221;<br />
Ash-Shiddiq Rodhiallahu ‘anhu menjawab, &#8220;Aku telah memerdekakannya, wahai Rasulullah.&#8221;</p>
<p>Setelah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam mengizinkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Madinah, mereka segera berhijrah, termasuk Bilal Rodhiallahu ‘anhu.. Setibanya di Madinah, Bilal tinggal satu rumah dengan Abu Bakar dan &#8216;Amir bin Fihr. Malangnya, mereka terkena penyakit demam. Apabila demamnya agak reda, Bilal melantunkan gurindam kerinduan dengan suaranya yang jernih,<br />
<em><br />
Duhai malangnya aku, akankah suatu malam nanti<br />
Aku bermalam di Fakh(3) dikelilingi pohon idzkhir(4) dan jalil<br />
Akankah suatu hari nanti aku minum air Mijannah(5)<br />
Akankah aku melihat lagi pegunungan Syamah dan Thafil(6)<br />
Tidak perlu heran, mengapa Bilal begitu mendambakan Mekah dan perkampungannya; merindukan lembah dan pegunungannya, karena di sanalah ia merasakan nikmatnya iman&#8230;. Di sanalah ia menikmati segala bentuk siksaan untuk mendapatkan keridhaan Allah&#8230;. Di sanalah ia berhasil melawan nafsu dan godaan setan.</em></p>
<p>Bilal tinggal di Madinah dengan tenang dan jauh dari jangkauan orang-orang Quraisy yang kerap menyiksanya. Kini, ia mencurahkan segenap perhatiannya untuk menyertai Nabi sekaligus kekasihnya, Muhammad Sholallahu ‘alaihi wasallam.. Bilal selalu mengikuti Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam ke mana pun beliau pergi. Selalu bersamanyma saat shalat maupun ketika pergi untuk berjihad. Kebersamaannya dengan RasulullahSholallahu ‘alaihi wasallam ibarat bayangan yang tidak pernah lepas dari pemiliknya.</p>
<p>Ketika Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam selesai membangun Masjid Nabawi di Madinah dan menetapkan azan, maka Bilal ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan azan (muazin) dalam sejarah Islam.<br />
Biasanya, setelah mengumandangkan azan, Bilal berdiri di depan pintu rumah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam seraya berseru, “Hayya ‘alashsholaati hayya ‘alashsholaati&#8230;(Mari melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan&#8230;.)” Lalu, ketika Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam keluar dari rumah dan Bilal melihat beliau, Bilal segera melantunkan iqamat.</p>
<p>Suatu ketika, Najasyi, Raja Habasyah, menghadiahkan tiga tombak pendek yang termasuk barang-barang paling istimewa miliknya kepada Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam mengambil satu tombak, sementara sisanya diberikan kepada Ali bin Abu Thalib dan Umar ibnul Khaththab, tapi tidak lama kemudian, beliau memberikan tombak itu kepada Bilal. Sejak saat itu, selama Nabi hidup, Bilal selalu membawa tombak pendek itu ke mana-mana. Ia membawanya dalam kesempatan dua shalat id (Idul Fitri dan Idul Adha), dan shalat istisqa&#8217; (mohon turun hujan), dan menancapkannya di hadapan beliau saat melakukan shalat di luar masjid.</p>
<p>Bilal menyertai Nabi Sholallahu ‘alaihi wasallam dalam Perang Badar. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah memenuhi janji-Nya dan menolong tentara-Nya. Ia juga melihat langsung tewasnya para pembesar Quraisy yang pernah menyiksanya dengan hebat. Ia melihat Abu Jahal dan Umayyah bin Khalaf tersungkur berkalang tanah ditembus pedang kaum muslimin dan darahnya mengalir deras karena tusukan tombak orang-orang yang mereka siksa dahulu.</p>
<p>Ketika Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam menaklukkan kota Mekah, beliau berjalan di depan pasukan hijaunya bersama &#8216;sang pengumandang panggilan langit&#8217;, Bilal bin Rabah. Saat masuk ke Ka&#8217;bah, beliau hanya ditemani oleh tiga orang, yaitu Utsman bin Thalhah, pembawa kunci Ka&#8217;bah, Usamah bin Zaid, yang dikenal sebagai kekasih Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam dan putra dari kekasihnya, dan Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam..</p>
<p>Shalat Zhuhur tiba. Ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, termasuk orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam saat itu, baik dengan suka hati maupun terpaksa. Semuanya menyaksikan pemandangan yang agung itu. Pada saat-saat yang sangat bersejarah itu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memanggil Bilal bin Rabah agar naik ke atap Ka&#8217;bah untuk mengumandangkan kalimat tauhid dari sana. Bilal melaksanakan perintah Rasul Sholallahu ‘alaihi wasallam dengan senang hati, lalu mengumandangkan azan dengan suaranya yang bersih dan jelas.</p>
<p>Ribuan pasang mata memandang ke arahnya dan ribuan lidah mengikuti kalimat azan yang dikumandangkannya. Tetapi di sisi lain, orang-orang yang tidak beriman dengan sepenuh hatinya, tak kuasa memendam hasad di dalam dada. Mereka merasa kedengkian telah merobek-robek hati mereka.</p>
<p>Saat azan yang dikumandangkan Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”. Juwairiyah binti Abu Jahal bergumam, &#8220;Sungguh, Allah telah mengangkat kedudukanmu&#8230;. Memang, kami tetap akan shalat, tapi demi Allah, kami tidak menyukai orang yang telah membunuh orang-orang yang kami sayangi.&#8221; Maksudnya, adalah ayahnya yang tewas dalam Perang Badar.</p>
<p>Khalid bin Usaid berkata, &#8220;Aku bersyukur kepada Allah yang telah memuliakan ayahku dengan tidak menyaksikan peristiwa hari ini.&#8221; Kebetulan ayahnya meninggal sehari sebelum Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masuk ke kota Mekah..</p>
<p>Sementara al-Harits bin Hisyam berkata, &#8220;Sungguh malang nasibku, mengapa aku tidak mati saja sebelum melihat Bilal naik ke atas Ka&#8217;bah.&#8221;<br />
Al-Hakam bin Abu al-&#8217;Ash berkata, &#8220;Demi Allah, ini musibah yang sangat besar. Seorang budak bani Jumah bersuara di atas bangunan ini (Ka&#8217;bah).&#8221;<br />
Sementara Abu Sufyan yang berada dekat mereka hanya berkata, &#8220;Aku tidak mengatakan apa pun, karena kalau aku membuat pernyataan, walau hanya satu kalimat, maka pasti akan sampai kepada Muhammad bin Abdullah.&#8221;<br />
Bilal menjadi muazin tetap selama Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam hidup. Selama itu pula, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sangat menyukai suara yang saat disiksa dengan siksaan yang begitu berat di masa lalu, ia melantunkan kata, &#8220;Ahad&#8230;, Ahad&#8230; (Allah Maha Esa).&#8221;</p>
<p>Sesaat setelah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam mengembuskan napas terakhir, waktu shalat tiba. Bilal berdiri untuk mengumandangkan azan, sementara jasad Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mengharu biru.</p>
<p>Sejak kepergian Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, Bilal hanya sanggup mengumandangkan azan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.</p>
<p>Karena itu, Bilal memohon kepada Abu Bakar, yang menggantikan posisi Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemimpin, agar diperkenankan tidak mengumandangkan azan lagi, karena tidak sanggup melakukannya. Selain itu, Bilal juga meminta izin kepadanya untuk keluar dari kota Madinah dengan alasan berjihad di jalan Allah dan ikut berperang ke wilayah Syam.</p>
<p>Awalnya, ash-Shiddiq merasa ragu untuk mengabulkan permohonan Bilal sekaligus mengizinkannya keluar dari kota Madinah, namun Bilal mendesaknya seraya berkata, &#8220;Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya.&#8221;</p>
<p>Abu Bakar menjawab, &#8220;Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena Allah.&#8221;</p>
<p>Bilal menyahut, &#8220;Kalau begitu, aku tidak akan pernah mengumandangkan azan untuk siapa pun setelah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam wafat.&#8221;</p>
<p>Abu Bakar menjawab, &#8220;Baiklah, aku mengabulkannya.&#8221; Bilal pergi meninggalkan Madinah bersama pasukan pertama yang dikirim oleh Abu Bakar. Ia tinggal di daerah Darayya yang terletak tidak jauh dari kota Damaskus. Bilal benar-benar tidak mau mengumandangkan azan hingga kedatangan Umar ibnul Khaththab ke wilayah Syam, yang kembali bertemu dengan Bilal Rodhiallahu ‘anhu setelah terpisah cukup lama.</p>
<p>Umar sangat merindukan pertemuan dengan Bilal dan menaruh rasa hormat begitu besar kepadanya, sehingga jika ada yang menyebut-nyebut nama Abu Bakar ash-Shiddiq di depannya, maka Umar segera menimpali,</p>
<p>&#8220;Abu Bakar adalah tuan kita dan telah memerdekakan tuan kita (maksudnya Bilal).&#8221;<br />
Dalam kesempatan pertemuan tersebut, sejumlah sahabat mendesak Bilal agar mau mengumandangkan azan di hadapan al-Faruq Umar ibnul Khaththab. Ketika suara Bilal yang nyaring itu kembali terdengar mengumandangkan azan, Umar tidak sanggup menahan tangisnya, maka iapun menangis tersedu-sedu, yang kemudian diikuti oleh seluruh sahabat yang hadir hingga janggut mereka basah dengan air mata. Suara Bilal membangkitkan segenap kerinduan mereka kepada masa-masa kehidupan yang dilewati di Madinah bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam..</p>
<p>BiIal, &#8220;pengumandang seruan langit itu&#8221;, tetap tinggal di Damaskus hingga wafat. Saat menjelang kematiannya, istri Bilal menunggu di sampingnya dengan setia seraya berkata, &#8220;Oh, betapa sedihnya hati ini&#8230;.&#8221;</p>
<p>Tapi, setiap istrinya berkata seperti itu, Bilal membuka matanya dan membalas, &#8220;Oh, betapa bahagianya hati ini&#8230;. &#8221; Lalu, sambil mengembuskan napas terakhirnya, Bilal berkata lirih,<br />
<em>&#8220;Esok kita bersua dengan orang-orang terkasih&#8230;<br />
Muhammad dan sahabat-sahabatnya<br />
Esok kita bersua dengan orang-orang terkasih&#8230;<br />
Muhammad dan sahabat-sahabatnya&#8221;</em></p>
<p>_______<br />
Footnote :<br />
1) Abthah adalah saluran air yang mengering sehingga yang tersisa hanya pasir dan batu kerikil.<br />
2) Satu Uqiyah adalah jenis berat timbangan. Konversi berat Uqiyah di beberapa negara Arab berbeda. Sebagai contoh, di Mesir 1 Uqiyah = 37 gram. Sementara di Halab, 1 Uqiyah = 320 gram. Lihat: Mu&#8217;jam al-Lughah al-&#8217;Arabiyah al-Mu&#8217;aashirah, karya Hans Wehr.<br />
3) Nama suatu daerah dekat Mekah.<br />
4) Idzkhir adalah sejenis tumbuhan yang menyebarkan bau harum.<br />
5) Mijannah adalah salah satu pasar bangsa Arab pada masa Jahiliah. Jaraknya sekitar 12 Mil dari Mekah.<br />
6) Syamah dan Thafil adalah nama gunung di Mekah.</p>
<p>Sumber: Shuwar min Hayaati ash-Shahabah</p>
<p><span style="font-size: small;"><a href="http://www.facebook.com/pages/Biografi-Ulama/246817595834" rel="nofollow"  target="_blank">http://www.facebook.com/pages/Biografi-Ulama/246817595834</a></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tashfiyah.or.id/bilal-bin-rabah-radhiallahu-anhu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
