//
you're reading...

Bahasa Arab

Bahasa Arab (2) – AlKalam

AL-KALAAM

Berkata Mushonnif: Dan beliau adalah Abu ‘Abdillah bin Muhammad bin Dawud Ash-Shonhaaji yang dikenal dengan Ibnu Aajurruum, dilahirkan pada tahun 672 H dan wafat tahun 723 dari hijrah nabawiyyah – rohimahullohu Ta’ala.

Beliau berkata:

اَلْكَلَامُ : هو اَللَّفْظُ اَلْمُرَكَّبُ, اَلْمُفِيدُ بِالْوَضْعِ

(Kalam adalah lafazh yang tersusun dan memberikan arti dengan tata bahasa arab).

Beliau rohimahulloh memulai dengan Al-Kalaam; karena sesungguhnya nahwu untuk menegakkan/meluruskan kalam (perkataan), maka haruslah kita memahami apa itu kalam.

Berkata Muhammad Muhyiiddiin bin ‘Abdul Hamid[1] hafizhohullohu Ta’ala: Lafazh “Al-Kalaam” mempunyai dua makna; yang pertama lughowi (secara bahasa) dan yang kedua nahwi (secara nahwu).

Adapun kalam lughowi yaitu suatu ungkapan dari apa yang mengasilkan faedah dengan sebabnya, baik secara lafazh ataupun bukan seperti garis, tulisan dan isyarat anggota badan.

Adapun kalam nahwi, maka harus terkumpul padanya empat perkara: Pertama harus berupa lafazh, kedua harus murokkab (tersusun), ketiga harus mufid (memberikan arti), dan keempat bahwa materinya harus dengan tata bahasa orang Arab.

Dan yang dikehendaki disini adalah kalam menurut ishthilah para ahli nahwu yaitu yang disebut dengan kalam nahwi.

Makna keadaannya berupa lafazh: yaitu bahwasanya harus berupa bunyi yang mengandung kepada sebagian huruf-huruf hijaiyyah yang dimulai dengan alif dan berakhir dengan ya. Atau menurut syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rohimahullohu Ta’ala maknanya adalah pengucapan dengan lisan. Misalnya “Ahmadu”, “yaktubu” dan “Sa’iidun” maka setiap dari ketiga kata ini ketika diucapkan adalah berupa bunyi yang mengandung kepada empat huruf hijaiyyah[2]. Maka dengan batasan ini (yaitu harus berupa lafazh) tidak termasuk ke dalamnya kitaabah (tulisan)[3] walaupun secara syar’i dan menurut para ahli fuqoha dinamakan sebagai kalam. Dan juga tidak termasuk ke dalamnya isyarat[4] walaupun difahami, juga walaupun menurut para ahli bahasa dinamakan sebagai kalam.

Makna keadaannya murokkab (tersusun): yaitu bahwasanya harus disusun dari dua kata atau lebih, baik secara Tahqiiqon (hakekatnya) atau taqdiiran (perkiraannya). Maka jika kamu berkata: Hal (apakah), ini adalah lafazh tapi tidak murokkab sehingga tidak dinamakan kalam menurut para ahli nahwu. Contoh murokkab secara tahqiiqon (hakekatnya): Qooma Zaidun (Zaid berdiri), kalimat ini tersusun dari “Qooma” dan “Zaidun” secara hakekatnya. Dan contoh murokkab secara taqdiiron (perkiraannya): Qum (berdirilah kamu!), maka kalimat ini tidak tersusun dari dua kata secara hakekatnya tetapi secara  taqdiiron (perkiraannya), karena pada “Qum” ada dhomir yang tersembunyi yaitu “anta”, maka perkiraan kalimat ini ialah Qum anta dan ini disusun dari dua kata. Misal-misal lain yang disusun dari dua kata atau lebih: “Muhammadun musaafirun”, “Al-‘ilmu Naafi’un”, “Yablughul mujtahidu Al-majda”, “Likulli mujtahidin nashiibun”, dan “Al-‘Ilmu khoiru maa tas’aa ilaihi”, dan semua kalimat tersebut dinamakan kalam.

Dan makna keadaannya mufiid (memberikan faedah atau arti): yaitu kalimat yang memberikan faedah kepada yang mendengarnya, sehingga ia tidak menoleh kepada selain faedah itu atau dikatakan bahwa diamnya orang yang berbicara itu baik baginya, dimana orang yang mendengar tidak menunggu lagi untuk sesuatu yang lain. Maka kalau kamu berkata: “Idzaa hadhorol ustaadzu” (Apabila ustadz hadir) tidak dinamakan kalam walaupun disusun dari tiga kata; karena orang yang diajak berbicara menunggu apa yang akan dikatakannya setelah ini dari apa yang terjadi dengan kehadiran ustadz itu. Tapi kalau kamu berkata: “Idzaa hadhorol ustaadzu Anshotat talaamiidzu” (Apabila ustadz hadir maka murid-murid diam mendengarkan) maka menjadilah kalimat ini sebagai kalam karena menghasilkan faedah atau arti, dan orang yang mendengar tidak menoleh atau menunggu kepada selain faedah itu. Dan tidak ada perbedaan antara faedah yang baru ataupun faedah yang sebelumnya sudah maklum/diketahui oleh orang yang mendengar. Kalau kamu katakan: As-samaa-u fauqonaa (langit di atas kita) maka adalah suatu kalam padahal bahwasanya faedah/arti kalimat tersebut sudah maklum.

Dan makna keadaan materinya dengan tata bahasa orang Arab: Berkata syaikh Muhammad bin Sholih Al-“Utsaimin rohimahullohu Ta’ala bahwasanya bilwadh’i (dengan pentataan bahasa) membawa kemungkinan dua makna:

1-    Dengan pentataan bahasa dari orang yang berbicara, bahwa harus ada maksud terhadap pentataan bahasanya. Maka oleh karena ini, tidaklah dinamakan kalam dari pembicaraan orang yang mabuk, orang gila, orang yang tidur dan orang yang menggigau, karena orang yang mentatakan bahasanya itu tidak bermaksud untuk mentatakan bahasanya.

2-    Dengan pentataan bahasa dari sisi bahasa arab, bahwa harus sesuai dengan tata bahasa orang arab. Maksudnya adalah bahwa lafazh-lafazh yang digunakan pada kalam haruslah dari lafazh-lafazh yang orang Arab mentatakannya untuk menunjukkan kepada satu makna dari makna-maknanya. Misalnya “hadhoro” adalah satu kata yang orang Arab mentatakannya untuk satu makna, yaitu terjadinya kehadiran pada waktu yang lampau. Dan kata “Muhammadun” ditatakan oleh orang Arab untuk satu makna, yaitu zat seseorang yang disebut dengan nama ini. Maka jika kamu berkata: “hadhoro Muhammadun” kamu telah menggunakan dua kata yang masing-masing merupakan kata yang ditatakan oleh orang Arab, berbeda apabila kamu berbicara dengan kalam yang ditatakan oleh orang ‘ajam (orang non Arab): seperti Persia, Turki, Bar-bar, dan Perancis, maka ini tidak dinamakan kalam menurut kebiasaan ulama bahasa arab walaupun oleh ahli bahasa lain dinamakan sebagai kalam.

Maka syarat-syarat kalam ada empat:

1-    Harus berupa lafazh, maka keluar dengannya tulisan dan isyarat walaupun difahami.

2-    Harus murokkab (tersusun), yaitu dari dua kalimat atau lebih baik secara tahqiq maupun taqdir. Maka keluar dengannya kalimat yang tidak tersusun.

3-    Harus mufid (memberikan arti), maka keluar dengannya kalimat yang tidak memberikan arti walaupun tersusun dari sejuta kata.

4-    Dengan tata bahasa, yaitu:

–      Dari orang yang berbicara, harus mempunyai maksud.

–      Dari segi bahasa Arab, harus selaras terhadap bahasa arab.

Contoh-contoh kalam yang syaratnya terpenuhi:

Al-jawwu shohwun, al-bustaanu mutsmirun, laa yuflihul kasuulu, laa ilaaha Illalloh, Alloh robbunaa, Muhammadun nabiyyunaa.

Apabila ada orang yang berkata: Bismillaahirrohmaanirrohiim. Apakah ini kalam atau bukan?

Jawabnya: Kalam.

Apakah tersusun dari dua kata atau lebih yang tahqiq atau taqdir?

Jawab: Taqdir, karena taqdirnya “Bismillah Aqro” , kalau tidak ditaqdirkan “Aqro” maka bukanlah kalam.

Disusun oleh: Djeni Setiadji (Abu Abdirrohman).

Sumber pustaka:

1-    At-Ta’liiqootul Jaliyyah ‘Alaa Syarhil Muqoddimah Al-Ajruumiyyah, oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rohimahullohu Ta’ala.

2-    At-Tuhfatus Saniyyah Bisyarhil Muqoddimah Al-Ajruumiyyah, oleh Muhammad Muhyiiddiin bin ‘Abdul Hamid.


[1] Penulis kitab At-Tuhfatus Saniyyah Bisyarhil Muqoddimah Al-Ajruumiyyah.

[2] Ahmad terdiri dari huruf alif, ha, mim dan dal. Yaktubu mengandung huruf ya, kaf, tad an ba. Sa’iidun mengandung huruf syin, ‘ain, ya dan dal.

[3] Seandainya kamu melihat orang yang sedang berdiri lalu kamu menulis di sehelai kertas: “Duduklah kamu!”. Maka ini tidak dinamakan kalam menurut para ahli nahwu; karena bukan dengan lafazh.

[4] Oleh karena ini seandainya kamu memberi isyarat kepada seseorang yang berdiri agar duduk, maka ini tidak dinamakan kalam. Tapi kalau kamu berkata kepadanya: “Duduklah kamu!” maka ini adalah kalam.


Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/tasfyhor/public_html/wp-content/themes/themorningafter/comments.php on line 13

Discussion

No comments yet.

Post a Comment

Radio Online…