kegembiraan yang terpuji & kegembiraan yang tercela

Barangkali terjadi perbedaan di antara kita tentang sesuatu yang seharusnya kita gembira karenanya. Sebagian kita mungkin mengatakan, bahwa karena harta, ketenaran, serta kedudukanlah yang seharusnya membuat kita bergembira. Akan tetapi, dalam waktu yang sama sebagian kita tidak mengatakan demikian. Kesimpulannya, tidak ada kata sepakat tentang sesuatu yang dapat membuat kita gembira, karena akan berbeda antara satu orang dengan yang lainnya. Jika kita kembalikan masalah ini kepada manusia, maka tidak akan terselesaikan dengan baik, karena masing-masing menyatakan pendapatnya yang beraneka ragam.
Sebagai seorang mukmin, tentu kita kembalikan segala perselisihan kepada Allah dan Rasul-Nya, termasuk dalam hal ini, sebagaimana firman Allah,

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ

Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur-an) dan Rasul-Nya (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah.” (QS. An Nissa’, 59)
Alhamdulillah, kita jumpai jawaban dari pertanyaan yang tercantum dalam Al Qur-an, yaitu firman Allah,

يَآأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَآءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ – قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ


Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabb-mu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk, serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.  Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan“. (QS. Yunus, 57-58)

Tafsir Ayat
Pada ayat yang ke 57 Allah berfirman dalam rangka memberi dukungan kepada manusia agar mereka menerima kitab yang mulia ini (Al Qur-an) dengan menyebutkan sifat-sifat Al Qur-an yang baik yang sangat dibutuhkan para hamba, Allah berfirman,

(يَآأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَآءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ)

Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu nasihat (Al-Qur’an) dari tuhanmu..”

Yaitu, (nasehat) yang menasihati kamu, memperingatkan kamu dari perbuatan-perbuatan yang mendatangkan kemurkaan Allah, serta mengharuskan datangnya siksaan Allah. Dan (nasehat) yang menakut-nakuti kamu darinya dengan menjelaskan dampak-dampak dan keburukan-keburukan perbuatan tersebut.
(وَشِفَآءٌ لِّمَا فِي الصُّدُور) .. penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada …”
Yaitu, Al Qur-an ini adalah penyembuh (obat) bagi penyakit-penyakit yang ada dalam dada,  berupa penyakit-penyakit syahwat yang menghalangi ketundukan terhadap syari’at, serta penyakit-penyakit syubhat yang merusak ilmu yakin (keyakinan).
Karena apa-apa yang ada di dalam Al Qur-an, berupa nasehat-nasehat, motivasi, janji dan ancaman, semua ini memunculkan rasa cinta pada kebaikan dan benci kepada keburukan pada diri seorang hamba.

Ketika di jumpai pada jiwa seseorang rasa cinta pada kebaikan dan benci pada keburukan, serta jiwa tumbuh di atas makna-makna ayat Al Qur-an yang diulang-ulang yang datang dalam Al Qur-an, ini semua membuat seorang hamba mendahulukan keinginan Allah di atas keinginan jiwanya. Begitu juga apa-apa yang ada di dalam Al Qur-an, berupa keterengan-keterangan dan dalil-dalil yang Allah edarkan dengan sebaik-baik pengedaran dan yang Allah jelaskan dengan sebak-baik penjelasan, merupakan perkara yang bisa menghilangkan syubhat-syubhat yang bisa merusak kebenaran. Dengannya hati bisa sampai kepada derajat keyakinan yang tertinggi.

Firman Allah,

(وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينِ),”

…. dan petunjuk serta rahmat  bagi orang  yang  beriman.”

Yang dimaksud petunjuk adalah mengetahui kebenaran dan mengamalkan atau mempraktekkan kebenaran itu.
Yang dimaksud rahmat adalah apa saja yang didapat bagi seseorang yang mengambil manfaat dari kebenaran, berupa kebaikan-kebaikan, ihsan, pahala yang sekarang dan yang akan datang.
Maka, “petunjuk” merupakan wasilah (sarana) yang paling mulia, sedangkan “rahmat” merupakan sesempurna-sempurnanya keinginan dan cita-cita. Akan tetapi tidak akan bisa mengambil manfaat alqur’an, begitu juga Al Qur’an tidak bisa menjadi rahmat kecuali bagi orang-orang beriman saja.
Dan ketika petunjuk telah didapatkan serta rahmat yang muncul dari petunjuk itupun telah turun, maka didapatkanlah; kebahagiaan,kesuksesan, keberuntungan, kemenangan dan kegembiraan.
Oleh karena itu (pada ayat yang ke-58) Allah ta’ala memerintahkan untuk bergembira dengan hal tersebut, Allah berfirman,
“katakanlah (Muhammad), “dengan karunia Allah…”) yaitu karunia tersebut adalah Al Qur’an yang merupakan nikmat dan karunia terbesar, serta karunia yang Allah berikan kepada para hamba Nya(“…dan rahmatnya…”), yaitu: agama, iman, beribadah kepada Allah, mencintai dan mengenal Allah (…”hendaknya dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik dari pada apa-apa yang mereka kumpulkan…”); baik berupa, kesenangan dunia dan kelezatannya.
Maka kenikmatan agama yang bersambung dengan kebahagiaan dunia dan akhirat, tidak bisa dibandingkan antaranya (nikmat agama) dengan apa saja yang ada di dunia yang akan sirna dan hilang dalam waktu yang dekat.

Adapun mengapa Allah Ta’ala memerintahkan untuk bergembira dengan sebab karunia dan rahmat-Nya adalah karena hal tersebutlah yang mewujudkan lapangnya jiwa, giatnya, bersyukur kepada Allah serta kuatnya jiwa, dan sangat cintanya kepada ilmu dan iman yang mengajak.
Ini adalah kegembiraan yang terpuji.
Berbeda dengan kegembiraan dengan syahahwat (hawa nafsu) dunia, dan kelezatannya atau kegembiraan dengan kebatilan (kesesatan). Karena sesungguhnya ini adalah tercela.
Sebagaimana firman Allah tentang Qoum Qorun yang menasihati Qorun:

لاَتَفْرَحْ إِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ الْفَرِحِينِ

Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri“. (QS. Al Qoshosh, 76)

Begitu juga seperti firman Allah tentang orang-orang yang bergembira dengan kebatilan yang ada pada merka, yang menentang ajaran yang di bawa para Rosul,

فَلَمَّآ جَآءَتْهُمْ رُسُلُهُم بِالْبَيِّنَاتِ فَرِحُوا بِمَا عِندَهُم مِّنَ الْعِلْمِ

Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan.” (QS. Al Mu’min: 83)

Selesai penjelasan Imam Abdurohman bin Nashir As Sa’dy terhadap surat Yunus: 57-58.

KEGEMBIRAAN YANG TERPUJI DAN TERCELA

Dari tafsiran di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa kegambiraan ada 2:

Kegembiraan Yang Terpuji
yaitu yang disebabkan karunia dan rahmat Allah. Seseorang merasa gembira, bahagia, sukses dan senang dengan sebab karunia Allah yaitu Al Qur’an dan rahmat-Nya yaitu: nikmat agama, bukan selainnya.
Bahkan kegembiraan inilah yang  Allah perintahkan.
Dengan ayat inilah kita menjawab seruan-seruan yang menyatakan, “Kenapa kita sibuk mendalami agama sedangkan orang  kafir telah maju dalam hal dunia?”
Ini merupakan seruan-seruan batil yang tidak pantas dikatakan oleh orang islam yang mengaku berpegang teguh dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Sekaligus menunjukkan kejahilan dia terhadap Al Qur’an dan Sunnah itu sendiri. Karena pernyataan tersebut bertentang dengan ayat-ayat Al Qur’an salah satu contohnya 2 ayat di atas.
Seruan di atas secara kandungannya menunjukkan bahwa dia merasa kecil, hina, rendah dan rugi dengan nikmat agama. Sehingga mencela orang-orang yang berpegang teguh terhadap islam dan lebih merasa bahagia, bangga, gembira dan mulia dengan nikmat dunia yang semu.
Tentu yang seperti ini adalah yang fatal yang bertentangan dengan Al Qur’an beserta tafsirnya yang shohih.

Kegembiraan Yang Tercela
Berdasarkan tafsiran di atas kegembiraan yang tercela ada 2 bentuk:
Gembira dengan kenikmatan-kenikmatan dunia yang menyebabkan lalai terhadap Akhirat
Contohnya adalah Qorun yang bergembira dengan harta kekayaannya yang membawanya lalai terhadap akhirat. Bahkan dia kufur tidak mentauhidkan Allah, dan tidak taat kepada Nabi Musa.
Maka kaumnya menasihatinya agar tidak bergembira dengan kegembiraan yang terlarang. Sebagaimana Allah Ta’ala firmankan didalam Al Qur’an:

إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لاَتَفْرَحْ إِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ الْفَرِحِينِ

(ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya :”janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri“.(Al Qoshos:76)

TAFSIR AYAT:
Makna firman Allah, “(ingtlah) ketika kaumnya berkata kepadanya…” yaitu,
kaumnya Qorun berkata kepada Qorun dalam rangka menasihati dan menakut-nakutinya dari kesesatan,”… janganlah terlalu bangga sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang terlalu membanggakan diri”.(yaitu), jangan bergembira dengan dunia yang besar ini serta membanggakan diri dengannya (sehingga) melalaikan kamu dari akhirat. Karena sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang bergembira karenanya dan menyandarkan kecintaannya pada dunia(Taisirul Karimir Rohman).
Maka yang benar seseorang boleh menikmati dunia dengan syarat tidak membahayakan akhirat dan tidak merusak agama. Sebagaimana firman Allah

فَلَمَّآ جَآءَتْهُمْ رُسُلُهُم بِالْبَيِّنَاتِ فَرِحُوا بِمَا عِندَهُم مِّنَ الْعِلْمِ

Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan.” (QS. Al Mu’min, 83)

Bahkan ayat ini menjelaskan agar kita memanfaatkan dunia secara maksimal untuk mendapatkan akhirat. Sehingga dunia bukanlah tujuan karena yang menjadi tujuan adalah akhirat. Maka dunia merupakan sarana untuk mendapatkan akhirat.
Gembira dengan penyimpangan dan kesesatan.

Inilah bentuk gembira yang tercela yang kedua yaitu merasa bangga dan gembira dengan penyimpangan dan kesesatan yang ada pada dirinya. Tidak mau kembali kepada kebenaran setelah kebenaran itu jelas baginya. Justru dia bangga dan bergembira dalam menolak kebenaran. Dan yang seperti inilah kesombongan yang sesungguhnya, sebagaimana Nabi jelaskan didalam hadits riwayat muslim, yaitu(kesombongan adalah): menolak kebenaran dan meremehkan manusia.
Adapun diantara dalil yang menunjukkan dilarangnya bergembira dengan kesesatan dan penyimpangan adalah firman Allah tentang orang-orang yang mendustakan para Rosul

وَابْتَغِ فِيمَآءَاتَاكَ اللهُ الدَّارَ اْلأَخِرَةَ ولاَتَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS. Al Qoshosh, 77)

TAFSIR AYAT:
Berkata Syeikh Abdurrohman Bin Nashir As Sa’diy, “Kemudian Allah (dalam surat Al Ghofir: 83) menyebutkan kejahatan besar mereka (para penentang Rosul); Allah berfirman : “maka ketika para Rosul datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata…”, baik berupa kitab-kitab Ilahy (kitab yang turun dari langit), kejadian-kejadian luar biasa di luar kebiasaan, serta ilmu yang bermanfaat yang menjelaskan petunjuk dari kesesatan, dan kebenaran dari kebatilan;…mereka(orang-orang yang mendustakan para Rosul) merasa senang dengan ilmu yang ada pada mereka. (yaitu) ilmu yang menentang agama para Rosul” “…dan yang paling berhak untuk masuk kedalam hal ini(yaitu ilmu yang dilarang) adalah ilmu filsafat dan ilmu mantiq yunani, yang dengan ilmu-ilmu tersebut banyak ayat Al Qur’an yang ditolak,berkurang nilai Al Qur’an di hati, menjadikan dalil-dalil yang telah pasti dan yakin menjadi dalil yang hanya bersifat lafdziyah(hanya perkataan) yang tidak memberi faedah berupa keyakinan sedikitpun. Dan lebih di dahulukan akal-akalnya orang yang bodoh dan ahli kebatilan.”
(Taisirul Karimir Rohman)
Ayat di atas sebagai peringatan keras bagi siapa saja yang dengan sengaja menolak kebanaran setelah kebenaran itu jelas baginya,serta merasa bangga dan gembira dengan kesesatan yang ada pada dirinya.
Dari ayat ini kita juga dapat mengmbil faedah bahwa kebenaran tidaklah ditandai dengan banyaknya orang yang mengikutinya. Bahkan telah datang ayat yang sangat tegas menyatakan bahwa jika kita mengikuti kebanyakan manusia kita akan tersesat.

Allah berfirman:

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي اْلأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللهِ إِن يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَخْرُصُونَ

Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(QS. Al An’am, 116)

Berkata Syeikh Abdurrohman Bin Nashir As Sa’die dalam tafsir beliau, “Ayat ini menunjukkan bahwa, banyaknya pengikut tidak bisa dijadikan dalil terhadap kebenaran. Begitu juga sedikitnya pengikut suatu perkara tidak bisa dijadikan dalil bahwa hal tersebut salah(tidak benar). Bahkan kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya; para pengikut kebenaran mereka paling sedikit jumlahnya akan tetapi paling besar kedudukannya dan pahalanya di sisi Allah, Bahkan (yang benar) untuk mengikuti suatu kebenaran dan kebatilan, wajib berdalil dengan sarana-sarana(jalan) yang bisa menyampaikan kepada kebenaran tersebut.”
(Taisirul Karimir Rohman Fi Tafsiri Kalaami ‘ l Mannan halaman: 353)
Ya Allah, tunjukkanlah jalan kebenaran dan berilah kekuatan kepada kami untuk mengikutinya dan membelanya dan tunjukkanlah jalan kesesatan dan berilah kekuatan pada kami untuk meninggalkannya, Amiien
wallahu a’lam bi `sh shawwab

penulis : fajri nur


Leave a Reply

Daftar Kajian Tashfiyah
PENDAFTARAN PESERTA WISMA MUSLIM UPI BANDUNG
Dauroh Kitab Bulughul Maram: “Peringatan Terhadap Akhlak Yang Buruk” Al-Dauroh Kitab Bulughul Maram: “Peringatan Terhadap Akhlak Yang Buruk” Bersama Al-Ustadz Firanda Andirja, M.A
INFO KAJIAN GEGERKALONG (Sabtu 24 SAFAR & Ahad 25 Safar 1437)