Prinsip Aqidah Islam

Dasar Aqidah Islam adalah Iman kepada Allah, Iman kepada para Malaikat-Nya, Iman kepada kitab-kitab-Nya, Iman kepada para nabi dan rasul-Nya, Iman kepada hari akhir,serta Iman kepada takdir yang baik dan buruk, sebagaimana telah ditunjukkan dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Allah berfirman dalam kitab suci-Nya,

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ ءَامَنَ باِللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ وَالْمَلَئِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّنَ..

” Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaiakt, kitab-kitab, nabi-nabi …” (QS. Al Baqarah, 177)

Diantara keimanan tersebut yang tertinggi adalah mengimani Allah, karena hal ini sangatlah penting dan wajib hukumnya demi merealisasikan pengesaan terhadap Allah dan menyempurnakan kecintaan kepada Allah, serta merealisasikan ibadah kepada Allah semata.

Iman kepada Allah mengandung empat unsur, yaitu:

1. Mengimani Wujud Allah

Wujud Allah telah dibuktikan oleh fitrah, akal, syara’ dan indera.

Bukti Fithrah tentang wujud Allah adalah, bahwa iman kepada Sang Pencipta merupakan fithrah setiap makhluk, tanpa terlebih dahulu berfikir atau belajar. Tidak akan berpaling dari tuntutan fithrah ini, kecuali orang yang di dalam hatinya terdapat sesuatu yang dapat memalingkannya. Rasulullah e bersabda, “Semua bayi dilahirkan dalam keadaan fithrah, ibu bapaknyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nashrani atau Majusi.” [HR. Al Bukhaari]

Bukti Akal tentang wujud Allah adalah proses terjadinya semua makhluk, bahwa semua makhluk, yang terdahulu, sekarang maupun yang akan datang, pasti ada yang menciptakan. Tidak mungkin makhluk menciptakan dirinya sendiri dan tidak mungkin pula tercipta secara kebetulan. Semua makhluk tidak mungkin tercipta secara kebetulan, karena setiap yang diciptakan pasti membutuhkan pencipta. Adanya makhluk-makhluk tersebut di atas undang-undang yang indah, tersusun rapi dan saling terkait dengan erat antara sebab dan musababnya. Semua itu menolak keberadaan seluruh makhluk secara kebetulan, karena sesuatu yang ada karena kebetulan, pada awalnya tidak teratur. Kalau makhluk tidak dapat menciptakan dirinya sendiri dan tidak tercipta secara kebetulan, maka jelaslah, bahwa makhluk-makhluk itu ada yang menciptakan, yaitu Allah Rabb Semesta Alam.

Allah menyebutkan dalil aqli (akal) dan dalil qath’i di dalam Al Qur-an,

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَىْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ – أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ بَل لاَّيُوقِنُونَ – أَمْ عِندَهُمْ خَزَآئِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun, ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa?” (QS. Ath-Thur, 35-37)

Sebagai contoh, ketika ada orang yang datang kepada Anda dan bercerita tentang istana yang dibangun, dikelilingi kebun-kebun, dialiri sungai-sungai dan dialasi oleh hamparan karpet, serta dihiasi dengan perhiasan yang elok. Lalu, orang itu mengatakan, bahwa istana dengan segala kesempurnaannya tersebut tercipta dengan sendirinya, atau tercipta secara kebetulan tanpa pencipta. Maka, pasti Anda tidak akan percaya dan menganggap perkataan itu adalah perkataan dusta lagi dungu. Kini, kami bertanya pada Anda, “Masih mungkinkah alam semesta yang luas ini beserta apa-apa yang ada di dalamnya yang teratur sedemikian indahnya tercipta dengan sendirinya atau tercipta secara kebetulan?

Bukti Syara tentang wujud Allah, adalah bahwa seluruh kitab langit berbicara tentang hal itu. Seluruh hukum yang mengandung ke-mashlahat-an manusia yang dibawa kitab-kitab tersebut merupakan dalil, bahwa kitab-kitab itu datang dari Rabb Yang Maha Bijaksana dan Mengetahui segala ke-mashlahat-an makhlukNya.

Bukti Indrawi tentang wujud Allah dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

a.     Kita dapat mendengar dan menyaksikan terkabulnya doa orang-orang yang berdoa, serta pertolongan-Nya yang diberikan kepada orang-orang yang mendapatkan musibah.

Hal ini menunjukkan secara pasti tentang wujud Allah. Allah berfirman,

وَنُوحًا إِذْ نَادَى مِنْ قَبْلُ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيم

“Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu, ketika ia berdo’a dan Kami memperkenankan do’anya, lalu Kami selamatkan dia beserta pengikutnya dari bencana yang besar.” )QS. Al-Anbiyaa, 76)

))إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِّنَ الْمَلاَئِكَةِ مُرْدِفِين ((

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu. Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang bertutut-turut.” (QS. Al-Anfaal, 9)

b.     Tanda-tanda para nabi yang disebut mukjizat, yang dapat disaksikan atau didengar oleh banyak orang.

Merupakan bukti yang sangat jelas tentang wujud Yang Mengutus para nabi tersebut, yaitu Allah. Karena hal-hal itu berada di luar kempampuan manusia. Allah melakukannya sebagai pemerkuat dan penolong bagi para rasul.

2. Mengimani Rububiyah Allah

Mengimani rububiyah Allah, maksudnya adalah mengimani sepenuhnya, bahwa Dia-lah Rabb satu-satunya, tiada sekutu dan tiada penolong bagi-Nya.

Rabb adalah Yang berhak menciptakan, memiliki, serta memerintah. Jadi, tidak ada Pencipta selain Allah, tidak ada Pemilik selain Allah dan tidak ada Perintah selain perintah dari-Nya. Tidak ada makhluk yang mengingkari ke-rububyiahan Allah, kecuali orang yang yang congkak, sedang ia tidak meyakini kebenaran ucapannya. Seperti yang dilakukan Fir’aun, ketika berkata kepada kaumnya, “Akulah Tuhanmu yang paling tinggi.” (QS. An-Naazi’aat, 24)

Nabi Musa ‘alaihi `s salaam berkata kepada Fir’aun, “Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mu’jizat-mu’jizat itu, kecuali Rabb yang memelihara langit dan bumi, sebagai bukti-bukti yang nyata. Dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun, seorang yang akan binasa.” (QS. Al-Israa’, 102)

Oleh karena itu, sebenarnya orang-orang musyrik mengakui rububiyah Allah, meskipun mereka menyekutukan-Nya dalam uluhiyah (penghambaan). Allah berfirman,

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ

Dan sungguh, jika kamu bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan mereka?’ Niscaya mereka menjawab, ‘Allah.’ Maka, bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” (QS. Az-Zukhruf, 87)

Perintah Allah mencakup perintah alam semesta (kauni) dan perintah syara’ (syar’i). Dia adalah pengatur alam, sekaligus sebagai pemutus segala perkara, sesuai dengan tuntutan hikmah-Nya. Dia juga pemutus peraturan-peraturan ibadah, serta hukum-hukum muamalat sesuai dengan tuntutan hikmah-Nya. Oleh karena itu, barangsiapa menyekutukan Allah dengan seorang pemutus ibadah atau pemutus muamalat, maka berarti dia telah menyekutukan Allah, serta tidak mengimani-Nya.

3. Mengimani Uluhiyah Alloh

Artinya, benar-benar mengimani, bahwa Dia-lah Ialah yang benar dan satu-satunya, tidak ada sekutu bagiNya. Al Ilaah artinya ‘al ma’luh, yakni sesuatu yang disembah dengan penuh kecintaan, serta pengagungan.

شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لآَإِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُوا الْعِلْمِ قَآئِمًا بِالْقِسْطِ لآَإِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيم

Allah menyatakan, bahwasannya tidak ada Ilaah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Ilaah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Ali Imran, 18)

Allah berfirman tentang Latta, Uzza dan Manat yang disebut Tuhan, namun tidak diberi hak uluhiyah, “Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka. Dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka.” (QS. An Najm, 23)

Orang-orang musyrik tetap saja mengingkarinya. Mereka masih saja mengambil tuhan selain Allah. Mereka menyembah, meminta bantuan dan pertolongan kepada tuhan-tuhan itu dan menyekutukan Allah.

Pengambilan tuhan-tuhan yang dilakukan orang-orang musyrik ini telah dibantah oleh Allah dengan dua bukti, yaitu:

a. Tuhan-tuhan yang diambil itu tidak mempunyai keistimewaan uluhiyah sedikit pun, karena mereka adalah makhluk, tidak dapat menciptakan, tidak dapat menarik kemanfaatan, tidak dapat menolak bahaya, tidak memiliki hidup dan mati, tidak memiliki sedikitpun dari langit dan tidak pula ikut memiliki keseluruhannya;

b. Sebenarnya orang-orang musyrik mengakui, bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb, Pencipta, yang ditangan-Nya kekuasaan segala sesuatu. Mereka juga mengakui,bahwa hanya Dia-lah yang dapat melindungi dan tidak ada yang dapat melindungi-Nya. Ini mengharuskan pengesaan uluhiyah (penghambaan), seperti mereka mengesakan rububiyah Allah.

4. Mengimani Asma dan Sifat Alloh

Iman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah, yakni menetapkan nama-nama dan sifat-sifat yang sudah ditetapkan Allah untuk diri-Nya sendiri dalam kitab suci-Nya, atau sunnah rasul-Nya dengan cara yang sesuai dengan kebesaran-Nya tanpa tahrif (penyelewengan), ta’thil (penghapusan), takyif (menanyakan bagaimana) dan tamsil(menyerupakan). Allah berfirman,

وَللهِ اْلأَسْمَآءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَاكَانُوا يَعْمَلُونَ

Hanya milik Allah Asma-ul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma-ul Husna itu dan tinggalakanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al A’raaf, 180)

Dalam perkara ini ada dua golongan yang tersesat, yaitu:

a.      Golongan Muaththilah

Yaitu, mereka yang mengingkari nama-nama Allah atau mengingkari sebagiannya saja. Menurut perkiraan mereka, menetapkan nama-nama dan sifat itu kepada Allah dapat menyebabkan tasybih (penyerupaan), yakni menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Pendapat itu jelas keliru, karena:

  • Sangkaan itu akan mengakibatkan hal-hal yang bathil atau salah, karena Allah telah menetapkan untuk diri-Nya nama-nama dan sifat-sifat, serta me-nafii-kan sesuatu yang serupa dengan-Nya.
  • Kecocokan antara dua hal dalam nama atau sifatnya tidak mengharuskan adanya persamaan.

Anda melihat dua orang yang keduanya manusia, mendengar, melihat dan berbicara, tetapi tidak harus sama dalam makna-makna kemanusiaannya, pendengarannya, penglihatannya dan pembicaraannya. Apabila antara makhluk-makhluk yang cocok dalam nama dan sifatnya saja jelas memiliki perbedaan, maka tentu perbedaan antara Khaliq (Pencipta) dan makhluk (yang diciptakan) akan lebih jelas lagi.

b.      Golongan Musyabbihah

Yaitu, golongan yang menetapkan nama-nama dan sifat-sifat, tetapi menyerupakan Allah dengan nash-nash-Nya. Hal ini jelas keliru ditinjau dari beberapa hal, antara lain:

  • Menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya jelas merupakan sesuatu yang bathil, menurut akal maupun syaraa’. Padahal, tidak mungkin nash-nash kitab suci Al Qur-an dan Sunnah Rasul menunjukkan sesuatu yang bathil.
  • Allah berbicara dengan hamba-hamba-Nya dengan sesuatu yang dapat dipahami dari segi asal maknanya. Hakekat makna sesuatu yang berhubungan dengan zat dan sifat Allah adalah hal yang hanya diketahui oleh Allah saja.

Apabila Allah memberitakan tentang diri-Nya, bahwa Dia bersemayam di atas Arsy-Nya, maka bersemayam dari segi asal maknanya sudah maklum, tetapi hakekat bersemayam-Nya Allah itu tidak dapat diketahui.

Di antara buah iman kepada Allah:

1.     Merealisasikan pengesaan Allah, sehingga tidak menggantungkan harapan kepada selain Allah, tidak takut kepada yang lain dan tidak menyembah kepada selain-Nya;

2.     Menyempurnakan kecintaan terhadap Allah, serta mengagungkan-Nya sesuai dengan nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang Maha Tinggi;

3.     Merealisasikan ibadah kepada Allah dengan mengerjakan apa yang diperintah, serta menjauhi apa yang dilarang-Nya.

wallahu a’lam bi `sh shawwaab,

Aboe Salman Agung DJ Ath Thorriy

Diambil dari Kitab Syarh Ushuli `l Imaan, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimien

Leave a Reply

Kajian Islam Ilmiah Syarah Kitab Arbai’n An’Nawawi 13 Desember 2017
Kajian Islam Ilmiah Syarah Kitab Arbai’n An’Nawawi 29 Nov 2017
Daftar Kajian Tashfiyah
PENDAFTARAN PESERTA WISMA MUSLIM UPI BANDUNG