Manajemen Marah

Saudara-saudariku yang Allah rahmati, marah, siapa yang tidak pernah mengalami hal ini?, sebagaimana kita ketahui marah adalah suatu keadaan yang terkadang ada dalam diri kita, tak terkecuali Rasulullah pun mengalaminya sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku ini hanya manusia biasa, aku bisa senang sebagaimana manusia senang, dan aku bisa marah sebagaimana manusia marah”[HSR Muslim no. 2603].

Namun tentu saja yang membedakan dari tiap orang adalah penyebab kemarahan, cara dalam mengatasinya atau mengelola serta menyikapinya, oleh karena itu, hamba-hamba Allah Ta’ala yang bertakwa, meskipun mereka tidak luput dari sifat marah, akan tetapi kerena mereka selalu berusaha melawan keinginan hawa nafsu, maka mereka pun selalu mampu meredam kemarahan mereka karena Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala memuji mereka dengan sifat ini dalam firman-Nya,

{الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ}

Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang menafkahkan (harta mereka) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” [QS Ali ‘Imran:134].

Tentu saja dalam menahan amarah atau rasa marah tidaklah cukup mudah bagi sebagian kita, kita perlu mengelola dengan baik agar tidak terjadi hal yang malah berdampak buruk bagi kita sendiri, berikut sedikit cara bagaimana kita dapat mengelola amarah atau rasa marah agar berdampak baik kepada diri kita dan menggapai ridho Allah,

Langkah pertama, yang harus kita lakukan adalah segera mungkin kita memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan ketika marah, dengan membaca ta’awudz:

أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ

A-‘UDZU BILLAHI MINAS SYAITHANIR RAJIIM

Karena sumber marah dari setan, sehingga godaannya bisa diredam dengan memohon perlindungan kepada Allah. Sebagaimana dari sahabat Sulaiman bin Shurod radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan, “Suatu hari saya duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada dua orang yang saling memaki. Salah satunya telah merah wajahnya dan urat lehernya memuncak. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِني لأعلمُ كَلِمَةً لَوْ قالَهَا لذهبَ عنهُ ما يجدُ، لَوْ قالَ: أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ، ذهب عَنْهُ ما يَجدُ

Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang. [HR. Bukhari dan Muslim]

Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang marah, kemudian membaca: A-‘udzu billah (saya berlindung kepada Allah) maka marahnya akan reda.” [Hadis shahih – silsilah As-Shahihah, no. 1376]

Langkah kedua, diam, sebagaimana dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

عَلِّمُوا وَيَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا ، وَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُت

“Ajarilah, mudahkanlah dan jangan mempersulit, dan apabila seorang dari kalian marah hendaklah ia diam.” [HR. Ahmad , Ash-Shahihah: 1375]

Karena dalam kondisi marah terkadang kita dalam hal ucapan dan tindakan tidak terkendali dalam kesadaran kita, maka jagalah lisan kita, dan ingatlah setiap apa yang kita ucapkan dicatat dan akan di pertanggungjawabkan kelak, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan kita,

إِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ، مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ المَشْرِقِ

Sesungguhnya ada hamba yang mengucapkan satu kalimat, yang dia tidak terlalu memikirkan dampaknya, namun menggelincirkannya ke neraka yang dalamnya sejauh timur dan barat. [HR. Bukhari dan Muslim]

Langkah ketiga, merubah posisi, maksudnya bila kita terkena marah dalam posisi berdiri maka hendaklah ia duduk hal ini sebagaimana dari Abu Dzar radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلاَّ فَلْيَضْطَجِعْ

“Apabila seorang dari kalian marah dan ia dalam keadaan berdiri hendaklah ia duduk, jika kemarahannya belum mereda maka hendaklah ia berbaring.” [HR. Abu Daud , Al-Misykaah: 5114]

Langkah keempat, senantiasa mengingat hal ini ketika marah dan bagaimana keutamaan menahan marah. Allah ta’ala telah mengabarkan kepada kita bahwa menahan marah dan memaafkan adalah akhlak yang utama, berikut beberapa keutamaannya:

  • Dalam sebuah hadits yang shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ »

Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah” [HSR al-Bukhari no. 5763 dan Muslim no. 2609]

Terkait makna hadits ini, Imam al-Munawi berkata,“Orang kuat (yang sebenarnya) adalah orang yang (mampu) menahan emosinya ketika kemarahannya sedang bergejolak dan dia (mampu) melawan dan menundukkan nafsunya (ketika itu). Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini membawa makna kekuatan yang lahir kepada kekuatan batin. Dan barangsiapa yang mampu mengendalikan dirinya ketika itu maka sungguh dia telah (mampu) mengalahkan musuhnya yang paling kuat dan paling berbahaya (hawa nafsunya)”[Kitab “Faidhul Qadiir” 5/358].

  • Memaafkan adalah sifat orang-orang yang beriman. Allah ta’ala berfirman,

وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ

“Dan apabila mereka marah maka mereka memberi maaf.” [Asy-Syuro: 37]

  • Menahan marah dan memaafkan adalah sifat orang-orang yang bertakwa. Allah ta’ala berfirman,

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” [Ali Imron: 134]

  • Sebab meraih ampunan. Allah ta’ala berfirman,

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ  

“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [An-Nur: 22]

  • Meraih surga, dari sahabat yang mulia Abu Ad-Darda radhiyallahu’anhu, ia berkata, aku pernah berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ، دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ، قَالَ:”لا تَغْضَبْ، وَلَكَ الْجَنَّةُ

“Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku satu amalan yang dapat memasukkan aku ke surga. Beliau bersabda: Jangan marah, dan bagimu surga.” [HR. Ath-Thabrani, Shahihut Targhib: 2749]

  • Memilih bidadari sesuai selera. dari Mu’adz bin Anas radhiyallahu’anhu,Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا – وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ – دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ مَا شَاءَ

“Barangsiapa yang menahan marah, padahal ia mampu untuk melampiaskannya, maka Allah akan menyerunya di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, hingga ia dipersilahkan oleh Allah ta’ala untuk memilih bidadari mana saja yang ia kehendaki.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi , Shahihut Targhib: 2753]

  • Meraih keridhaan Allah ta’ala, sebagaimana dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

ومن كظم غيظا ولو شاء أن يمضيه أمضاه ملأ الله قلبه رضى يوم القيامة

“Dan barangsiapa menahan marah, yang apabila ia mau untuk melampiaskannya niscaya ia mampu melakukannya, maka Allah akan memenuhi hatinya dengan keridhoaan pada hari kiamat.” [HR. Ibnu Abid Dunya dalam Qodho Al-Hawaaij , Shahihul Jaami’: 176]

Langkah Kelima, Segera berwudhu, meskipun hadits ini didha’ifkan oleh sejumlah ulama, namun  maknanya shahih, dari ‘Athiyah radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shallalhu’alahi wa sallam,

إِنَّ الْغَضَبَ مِنَ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنَ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Sesungguhnya kemarahan itu dari setan, dan sesungguhnya setan tercipta dari api, dan hanyalah api itu dapat dimatikan dengan air, maka jika seorang dari kalian marah, hendaklah ia berwudhu.” [HR. Ahmad dan Abu Daud , didha’ifkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Adh-Dha’ifah: 582]

karena kemarahan itu dari setan (sebagaimana dalam hadits Sulaiman bin Shurod di atas) dan dengan berwudhu dapat menghilangkannya. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

وأن يستعيذ من الشيطان كما تقدم في حديث سليمان بن صرد وأن يتوضأ كما تقدمت الإشارة إليه في حديث عطية والله أعلم

“Dan hendaklah orang yang marah memohon perlindungan dari setan sebagaimana telah berlalu dalam hadits Sulaiman bin Shurod, dan hendaklah ia berwudhu sebagaimana telah berlalu isyarat kepadanya dalam hadits ‘Athiyyah, wallahu a’lam.”[Fathul Bari, 10/521]

Langkah Keenam, ingatlah dampak buruk kemarahan. Orang yang marah terkadang tidak terkontrol dan hilang akal sehatnya, sehingga ia dapat saja  mengatakan atau melakukan perbuatan-perbuatan tercela yang kelak ia sesali. Oleh karena itu dari Ammar bin Yasir radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah berdoa,

وَأَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ

“Dan aku memohon kepadaMu ya Allah untuk dapat mengucapkan kalimat yang benar ketika ridho maupun marah.” [HR. An-Nasai, Shahih Al-Kalim Ath-Thayib: 105]

Sahabat yang mulia Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu’anhuma,

أوّلُ الغضبِ جنون، وآخره ندم، وربما كان العطب في الغضب

“Awal kemarahan adalah kegilaan dan akhirnya adalah penyesalan, dan bisa jadi kehancuran itu karena kemarahan.” [Al-Aadaab Asy-Syar’iyyah, 1/205]

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,

دخل الناسُ النارَ من ثلاثة أبواب: باب شبهة أورثت شكاً في دين الله، وباب شهوة أورثت تقديم الهوى على طاعته ومرضاته، وباب غضب أورث العداون على خلقه

“Manusia masuk neraka dari tiga pintu: Pintu syubhat yang memunculkan keraguan terhadap agama Allah, pintu syahwat yang menyebabkan ia mendahulukan hawa nafsu daripada ketaatan kepada Allah dan keridhaan-Nya, dan pintu kemarahan yang melahirkan permusuhan terhadap makhluk.” [Al-Fawaaid: 58]

Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

ويترتب على الغضب تغير الظاهر والباطن كتغير اللون والرعدة في الأطراف وخروج الأفعال عن غير ترتيب واستحالة الخلقة حتى لو رأى الغضبان نفسه في حال غضبه لكان غضبه حياء من قبح صورته واستحالة خلقته هذا كله في الظاهر وأما الباطن فقبحه أشد من الظاهر لأنه يولد الحقد في القلب والحسد وإضمار السوء على اختلاف أنواعه بل أولى شيء يقبح منه باطنه وتغير ظاهره ثمرة تغير باطنه وهذا كله أثره في الجسد وأما أثره في اللسان فانطلاقه بالشتم والفحش الذي يستحي منه العاقل ويندم قائله عند سكون الغضب ويظهر أثر الغضب أيضا في الفعل بالضرب أو القتل وإن فات ذلك بهرب المغضوب عليه رجع إلى نفسه فيمزق ثوب نفسه ويلطم خده وربما سقط صريعا وربما أغمى عليه وربما كسر الآنية وضرب من ليس له في ذلك جريمة

“Kemarahan dapat mengakibatkan perubahan zahir dan batin, seperti perubahan warna (kulit wajah memerah), gemetar pada kaki dan tangan, kehilangan kendali dan perubahan diri, sehingga orang yang marah tersebut apabila ia menyadari keadaan dirinya ketika marah maka ia akan malu karena kejelekan rupanya dan perubahan dirinya, ini semuanya pada zahir.

Adapun batin maka kejelekannya lebih parah daripaza zahir, karena kemarahan itu melahirkan kedongkolan di hati, hasad, merencanakan kejelekan dalam berbagai bentuknya, dan memang yang lebih jelek adalah keadaan batinnya, sebab perubahan zahirnya adalah buah perubahan batinnya. Dan ini semuanya adalah pengaruh jelek kemarahan bagi tubuh.

Adapun pengaruh jeleknya bagi lisan, maka akan memunculkan cacian, ucapan keji yang malu diucapkan oleh seorang yang berakal dan ia akan menyesalinya ketika kemarahannya telah mereda.

Dan juga nampak pengaruh jelek kemarahan dalam perbuatan, yaitu dengan memukul atau membunuh, namun apabila ia tidak dapat melakukannya karena orang yang ia marahi itu telah lari, maka ia akan menyakiti dirinya sendiri, yaitu dengan merobek pakaiannya, manampar pipinya, dan bisa jadi ia jatuh dalam keadaan kesurupan, bisa jadi pula ia jatuh pingsan, dan bisa pula ia memecahkan priring dan gelas, bahkan memukul orang yang tidak bersalah (demi melampiaskan amarah).”[Fathul Bari, 10/520]

Semoga beberapa langkah dalam rangka meredam dan mengelola amarah agar tidak berdampak buruk bagi kita sendiri dapat bermanfaat bagi saya dan rekan-rekan sekalian.

Saudara-Saudariku yang Allah rahmati, artikel ini akan di akhiri oleh sebuah wasiat dari Rasulullah, dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasullullah Shallallahu’alahi wasallam bersabda,

أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَوْصِنِي قَالَ : لاَ تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ : لاَ تَغْضَبْ

“Bahwasannya seseorang berkata kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam: Berilah aku wasiat. Beliau bersabda: Jangan marah. Orang tersebut meminta wasiat sampai beberapa kali. Beliau pun bersabda: Jangan marah.” [HR. Al-Bukhari]

Terkait hadits diatas para ulama menjelaskan maknanya, berikut beberapa maknanya:

Pertama, menghilangkan amarah dengan memaafkan. Ibnu Baththol rahimahullah, beliau berkata ketika menjelaskan hadits ini,

مدح الله تعالى الذين يغفرون عند الغضب وأثنى عليهم، وأخبر أن ماعنده خير وأبقى لهم من متاع الحياة الدنيا وزينتها، وأثنى على الكاظمين الغيظ والعافين عن الناس، وأخبر أنه يحبهم بإحسانهم فى ذلك

“Allah telah memuji orang-orang yang memaafkan ketika marah dan menyanjung mereka, dan Dia mengabarkan bahwa apa yang ada di sisi-Nya lebih baik dan lebih kekal bagi mereka dibanding kesenangan dunia dan perhiasannya. Dan Allah telah menyanjung orang-orang yang menahan marah serta memaafkan manusia, dan Dia mengabarkan bahwa Dia mencintai mereka disebabkan perbuatan baik mereka dalam hal tersebut.” [Syarhu Shahihil Bukhari, 9/296]

Kedua, jangan mudah marah. Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata,

والمعني لا تكن سريع الغضب يستثيرك كل شيء بل كن مطمئنا متأنيا لأن الغصب جمرة يلقيها الشيطان في قلب الإنسان حتى يغلي القلب ولهذا تنتفخ الأوداج – عروق الدم – وتحمر العين ثم ينفعل الإنسان حتى يفعل شيئا يندم عليه

“Makna hadits ini adalah, janganlah engkau cepat marah, yaitu janganlah segala sesuatu dapat membuatmu marah, akan tetapi jadilah orang yang tenang serta menahan diri, sebab kemarahan adalah bara api yang dilemparkan oleh setan ke hati manusia agar agar hati menjadi panas, oleh karena itu urat-urat leher pun mengembang dan mata memerah, pada akhirnya manusia kehilangan kendali hingga ia melakukan sesuatu yang kelak ia sesali.” [Syarah Riyadhis Shalihin]

Ketiga, menjauhi sebab-sebab kemarahan. Al-Khattabi rahimahullah berkata

معنى قوله لا تغضب اجتنب أسباب الغضب ولا تتعرض لما يجلبه

“Makna ucapan beliau “Jangan marah” adalah, jauhilah sebab-sebab kemarahan, dan jangan mendekati sesuatu yang dapat memunculkannya.” [Fathul Bari, 10/520]

Keempat, tidak menuruti amarah. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

وقيل معناه لا تفعل ما يأمرك به الغضب

“Dan dikatakan maknanya, janganlah engkau menuruti perintah amarahmu.” [Fathul Bari, 10/520]

Tidak lupa, mari kita ingat selalu dua nasihat dari dua ulama ini yaitu:

Bakr bin Abdullah rahimahullah berkata,

أطفئوا نار الغضب بذكر نار جهنم

“Padamkanlah api kemarahan dengan mengingat api neraka jahannam.” [Syarhul Bukhari libni Baththol, 9/297]

dan dari Syaikh As Sa’di rahimahullah berkata,

“Sebaik-baik orang ialah yang keinginannya tunduk mengikuti ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang menjadikan murka dan pembelaannya dilakukan demi mempertahankan kebenaran dari rongrongan kebatilan. Sedangkan sejelek-jelek orang ialah yang suka melampiaskan hawa nafsu dan kemarahannya. Laa haula wa laa quwwata illa billaah” [lihat Durrah Salafiyah]

Leave a Reply

Daftar Kajian Tashfiyah
PENDAFTARAN PESERTA WISMA MUSLIM UPI BANDUNG
Dauroh Kitab Bulughul Maram: “Peringatan Terhadap Akhlak Yang Buruk” Al-Dauroh Kitab Bulughul Maram: “Peringatan Terhadap Akhlak Yang Buruk” Bersama Al-Ustadz Firanda Andirja, M.A
INFO KAJIAN GEGERKALONG (Sabtu 24 SAFAR & Ahad 25 Safar 1437)