Balas dong, salam ku? Salam Amalan Mulia yang Dilupakan Hakikatnya

Terkadang salam tidak di balas, bales atuh dong? hehe…

Terkadang salam kita kumpilt, eh di bales sedikit…

Terkadang juga kita salam tidak ada respon, (kok di ulang lagi?, mungkin untuk kasus ini mah menjawabnya di dalam hati) hehe…

Terkadang atau sering kita melupakan hakikat dari salam itu sendiri, malahan hanya sesuatu kalimat atau untaian kata yang sudah umum (loh? ) untuk pembuka pembicaraan atau suatu komunikasi tanpa kita memahami salam yang kita sampaikan itu dan tujuanya untuk apa, apa hayo?

Biar sedikit kelihatan adil, sekarang dari sisi yang menjawab…

Terkadang kita yang menjawab juga meremehkan arti dan makna dari salam yang di berikan kepada kita?

Bener ga sih? ya bener.. bener ga bener… hehe…

Oke, kita mulai, sedikit pembahasanya,

Makna dan Hukumnya

Rekan-rekan yang Allah rahmati, salam yang dimakasud dalam artikel ini adalah ucapan   السلام عليكم  . Adapun kalimat  السلام   itu sendiri mempunyai makna tersendiri yang disebutkan oleh para ulama:

  • Sebagian mereka  (para ulama) mengatakan السلام adalah nama Allah Subhanahu wata’ala, jika seseorang mengucapkan السلام عليه  berarti dia mengucapkan  Nama Allah atas kamu” yang bermakna “Semoga kamu berada dalam lindungan Allah Subhanahu wata’ala”
  • Sebagian mereka  (para ulama) juga mengatakan السلام bermakna  السلامه (keselamatan), jadi makna ucapan السلام عليله  adalah “Keselamatan untukmu” [Al Minhaj Syarhu Shohihi Muslim, Jilid 7 hal 262, Kitab As Salam]

Imam Nawawi Rahimahullah menyebutkan “Ketahuilah bahwa memulai salam hukumnya adalah sunnah dan menjawab salam hukumnya adalah wajib. Jika orang yang mengucapkan salam terdiri dari sekelompok orang (jama’ah) maka berlaku bagi mereka hukum sunnah kifayah yang berarti jika salah satu dari mereka mengucapkan salam, maka sunnah salam tersebut  menjadi hak mereka seluruhnya. Jika orang yang disalami adalah satu orang maka wajib  (Fardhu ‘ain) dia untuk menjawab. Jika orang yang disalami adalah sekelompok orang (Jama’ah) maka hukum menjawab salam bagi mereka menjadi Fardhu Kifayah, yang berarti jika salah seorang dari mereka sudah menjawab salam, maka terputuslah dosa / kesalahan bagi yang belum menjawab salam. [Al Minhaj, Jilid 7 hal 261]

Kemudian Imam An Nawawi rahimahullah menyebutkan dalam Shohih Muslim Bab ‘Di antara kewajiban seorang muslim adalah menjawab salam’. Lalu dibawakanlah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ ». قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ ».

Hak muslim pada muslim yang lain ada enam.” Lalu ada yang menanyakan, ”Apa saja keenam hal itu?Lantas beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam padanya, (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya, (3) Apabila engkau dimintai nasehat, berilah nasehat padanya, (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’), (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia, dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” [HR. Muslim no. 2162]

Dalm perihal hukum salam ini, Ash Shon’ani beliau mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa inilah hak muslim pada muslim lainnya. Yang dimaksud dengan hak di sini adalah sesuatu yang tidak pantas untuk ditinggalkan. Hak-hak di sini ada yang hukumnya wajib dan ada yang sunnah mu’akkad (sunnah yang sangat ditekankan) yang sunnah ini sangat mirip dengan wajib.” [Subulus Salam, 7/7]

Ah kan cuman sunnah? di lakukan tidak dapat pahala, di lakukan dapat pahal, eh… tunggu sebentar kalau dari pembaca masih ada yang berpikiran seperti ini, disarankan baca artikel terkait makna sunnah dan istilah (klik disini menuju artikel yang dimaksud). dan ingat! jangan meremehkan atau memperkecil makna sunnah, janganlah sekali-kali menyempitkan sesuatu yang sejatinya luas, ketika kita mendengar kata sunnah, maka sudah selayaknya kita tidak mencukupkan diri dengan memaknainya dengan sempit.

Bagaimana salam itu?

Berkata  Imam Nawawi Rahimahullah, “ Dicintai / Mustahab bagi seorang yang memulai salam dengan mengucapkan

  السلام عليكم ورحمةالله وبركاته  (Assalamu’alykum warahmatullahi wabarakatuh )

dengan menggunakan kata ganti jamak (كم) walaupun yang disalami cuma satu orang, dan orang yang menjawab mengatakan

(Wa’alykumusalam warahmatullahi wabarakatuh)

[Syarh Riyahdush Sholihin Ibnu Utsaimin Jilid 3, hal 10]

Ingat ya, salam bukan sekedar kalimat atau untaian kata tapi itu do’a!

Jangan remehkan Ucapan Salam ya? Dapat Mencapai Kesempurnaan Iman loh dan Berlimpah Pahala.

Kok bisa? dari tadi nanyanya tidak kreatif penulis nih, pakai yang lain mungkin bisa.

Sudahlah, kita kembali ke materi,

Dari ‘Amar bin Yasir, beliau mengatakan,

ثَلاَثٌ مَنْ جَمَعَهُنَّ فَقَدْ جَمَعَ الإِيمَانَ الإِنْصَافُ مِنْ نَفْسِكَ ، وَبَذْلُ السَّلاَمِ لِلْعَالَمِ ، وَالإِنْفَاقُ مِنَ الإِقْتَارِ

Tiga perkara yang apabila seseorang memiliki ketiga-tiganya, maka akan sempurna imannya: [1] bersikap adil pada diri sendiri, [2] mengucapkan salam pada setiap orang, dan [3] berinfak ketika kondisi pas-pasan. ” [Diriwayatkan oleh Bukhari secara mu’allaq yaitu tanpa sanad. Syaikh Al Albani dalam Al Iman mengatakan bahwa hadits ini shohih]

Ibnu Hajar mengatakan, “Memulai mengucapkan salam menunjukkan akhlaq yang mulia, tawadhu’ (rendah diri), tidak merendahkan orang lain, juga akan timbul kesatuan dan rasa cinta sesama muslim.” [Fathul Bari, 1/46)]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا مَرَّ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي مَجْلِسٍ فقَالَ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ ” فقَالَ عَشْرُ حَسَنَاتٍ ثُمَّ مَرَّ رَجُلٌ آخَرَ فقَالَ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ فقَالَ عِشْرُونَ حَسَنَةً فَمَرَّ رَجُلٌ آخَرَ فقَالَ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ فقَالَ ثَلَاثُونَ حَسَنَةً …الخ

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang pemuda melewati Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, sedang dalam keadaan duduk disebuah Majelis. Maka Pemuda ini mengucapkan “Assalamu’alaikum”, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan : “bagi dia 10 kebaikan”. Lalu lewat Pemuda yang lain dan mengatakan : “Assalamu’alaikum wa rahmatullah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan : “Bagi dia 20 kebaikan” kemudian lewat lagi Pemuda yang lainnya mengatakan : “Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuhu” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan :”Bagi dia 30 kebaikkan” [HR. IbnuHibban 493, Abu Daud 5195, Tirmidzi 2689 dan ini adalah lafadz Ibnu Hibban]

Jangan pilih-pilih, salam hanya ke yang kenal saja, seharusnya kepada orang yang tidak dikenal juga, (padahal mah boro-boro pilih-pilih, ke yang kenal saja jarang salam hehe… )

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bahwasanya ada seseorang yang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَىُّ الإِسْلاَمِ خَيْرٌ قَالَ « تُطْعِمُ الطَّعَامَ ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ ، وَعَلَى مَنْ لَمْ تَعْرِفْ »

Amalan islam apa yang paling baik?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Memberi makan (kepada orang yang butuh) dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenali dan kepada orang yang tidak engkau kenali. ” [HR. Bukhari no. 6236]

Ibnu Hajar mengatakan, “Mengucapkan salam kepada orang yang tidak kenal merupakan tanda ikhlash dalam beramal kepada Allah Ta’ala, tanda tawadhu’ (rendah diri) dan menyebarkan salam merupakan syi’ar dari umat ini.” (Lihat Fathul Bari, 17/459)

Catatan, Salam ini hanya berlaku untuk sesama muslim, dan tidak tepat berdalil dengan hadits di atas untuk memulai mengucapkan salam pada orang non muslim karena memulai salam hanya disyari’atkan bagi sesama muslim. Jika kita tahu bahwa orang tersebut muslim, maka hendaklah kita mengucapkan salam padanya. Atau mungkin dalam rangka hati-hati, kita  juga tidak terlarang memulai mengucapkan salam padanya sampai kita mengetahui bahwa dia itu kafir. [Lihat Fathul Bari, 17/459]

Kalau ditanya, siapa yang harus memulai salam? tergantung kondisi.

Sebagaimana berikut penjelasanya,

Kondisi pertama

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلَى الْمَاشِى ، وَالْمَاشِى عَلَى الْقَاعِدِ ، وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ

Hendaklah orang yang berkendaraan memberi salam pada orang yang berjalan. Orang yang berjalan memberi salam kepada orang yang duduk. Rombongan yang sedikit memberi salam kepada rombongan yang banyak.” [HR. Bukhari no. 6233 dan Muslim no 2160]

Kondisi kedua

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُسَلِّمُ الصَّغِيرُ عَلَى الْكَبِيرِ ، وَالْمَارُّ عَلَى الْقَاعِدِ ، وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ

Yang muda hendaklah memberi salam pada yang tua. Yang berjalan (lewat) hendaklah memberi salam kepada  orang yang duduk. Yang sedikit hendaklah memberi salam pada orang yang lebih banyak.” [HR. Bukhari no. 6231]

Ibnu Baththol mengatakan, “Dari Al Muhallab, disyari’atkannya orang yang muda mengucapkan salam pada yang tua karena kedudukan orang yang lebih tua yang lebih tinggi. Orang yang muda ini diperintahkan untuk menghormati dan tawadhu’ di hadapan orang yang lebih tua.” [Subulus Salam, 7/31]

Kondisi ketiga

Jika orang yang bertemu sama-sama memiliki sifat yang sama yaitu sama-sama muda, sama-sama berjalan, atau sama-sama berkendaraan dengan kendaraan yang jenisnya sama, maka di antara kedua pihak tersebut sama-sama diperintahkan untuk memulai mengucapkan salam. Yang mulai mengucapkan salam, itulah yang lebih utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمَاشِيَانِ إِذَا اجْتَمَعَا فَأَيُّهُمَا بَدَأَ بِالسَّلاَمِ فَهُوَ أَفْضَلُ

Dua orang yang berjalan, jika keduanya bertemu, maka yang lebih dulu memulai mengucapkan salam itulah yang lebih utama.” [Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod dan Al Baihaqi dalam Sunannya. Syaikh Al Albani dalam Shohih Adabil Mufrod mengatakan bahwa hadits ini shohih]

Namun jika orang yang seharusnya mengucapkan salam pertama kali tidak memulai mengucapkan salam, maka yang lain hendaklah memulai mengucapkan salam agar salam tersebut tidak ditinggalkan. Jadi ketika ini, hendaklah yang tua memberi salam pada yang muda, yang sedikit memberi salam pada yang banyak, dengan tujuan agar pahala mengucapkan salam ini tetap ada. [Huquq Da’at Ilaihal Fithroh, 47]

Kondisi keempat

Jika yang diberi salam adalah banyak orang), maka hukum menjawab salam adalah fardhu kifayah jika yang lain telah menunaikannya. Jika jama’ah diberi salam, lalu hanya satu orang yang membalasnya, maka yang lain gugur kewajibannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُجْزِئُ عَنِ الْجَمَاعَةِ إِذَا مَرُّوا أَنْ يُسَلِّمَ أَحَدُهُمْ وَيُجْزِئُ عَنِ الْجُلُوسِ أَنْ يَرُدَّ أَحَدُهُمْ

Sudah cukup bagi jama’ah (sekelompok orang), jika mereka lewat, maka salah seorang dari mereka memberi salam dan sudah cukup salah seorang dari sekelompok orang yang duduk membalas salam tersebut.” (HR. Abu Daud no. 5210. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih). Dan sebagaimana dijelaskan oleh Ash Shon’ani bahwa hukum jama’ah (orang yang jumlahnya banyak) untuk memulai salam adalah sunnah kifayah (jika satu sudah mengucapkan, maka yang lain gugur kewajibannya). Namun, jika suatu jama’ah diberi salam, maka membalasnya dihukumi fardhu kifayah. [Subulus Salam, 7/8]

Ini, bagian yang harus benar-benar kita ingat, ingat ya… balaslah salam dengan yang lebih baik atau minimal dengan yang semisal

Maksudnya?

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا

Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).” [QS. An Nisa’: 86]

Jadi begini, dalam perihal bentuk membalas salam boleh dengan yang semisal atau yang lebih baik, dan tidak boleh lebih rendah dari ucapan salamnya tadi. Contohnya nyatanya misal (udah contoh, misal lagi, pemborosan kata ya? ) jika teman kita memberi salam: Assalaamu ‘alaikum, maka minimal kita jawab: Wa’laikumus salam.

Dan lebih keren dan mantap ya dijawab dengan lengkap: Wa’alaikumus salam wa rahmatullah, atau kita tambahkan lagi: Wa’alaikumus salam wa rahmatullah wa barokatuh.

Begitu pula jika kita diberi salam: Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah, maka minimal kita jawab: Wa’alaikumus salam wa rahmatullahi, atau jika ingin melengkapi, kita ucapkan: Wa’alaikumus salam wa rahmatullahi wa barokatuh.

Bentuk lainnya adalah jika kita diberi salam dengan suara yang jelas, maka hendaklah kita jawab dengan suara yang jelas, dan tidak boleh dibalas hanya dengan lirih.

Begitu juga jika saudara kita memberi salam dengan tersenyum dan menghadapkan wajahnya pada kita, maka hendaklah kita balas salam tersebut sambil tersenyum dan menghadapkan wajah padanya. Inilah di antara bentuk membalas. Hendaklah kita membalas salam minimal sama dengan salam pertama tadi, begitu juga dalam tata cara penyampaiannya. Namun, jika kita ingin lebih baik dan lebih mendapatkan keutamaan, maka hendaklah kita membalas salam tersebut dengan yang lebih baik, sebagaimana yang kami contohkan di atas. [Lihat penjelasan ini di Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin pada Bab ‘Al Mubadaroh ilal Khiyarot]

Sunnahnya titip salam,

loh kok sunnah?

ko bisa? ya bisa saja atuh… da tiduna,

Sering kita mengucapkan atau menerima kurang lebih seperti ini,

Eh, aku titip salam dong ke …

Eh, kamu dapat salam dari …

Kamu dapat salam dari Uwa…

Tolong titip salam ke beliau…

dan masih banyak contoh lainya.

(ini bukan teks panduan untuk pacaran ya?, jangan pacaran deh…, nikah lebih baik, kalau mau pacaran silahkan halalkan  (menikah ) dulu, baru setelah halal silahkan mau pacaran mah, lebih barokah dan berlimpah pahala karena ke halalanya plus pacaran versi halal ini mah mendatangkan Ridho-Nya serta menjalankan Sunnah Rasul-Nya, beda dengan versi yang lain hehe… )

Kenapa sunnah?

Begini ceritanya, dulu jauh ke zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ternyata perihal titip salam sudah ada pada masa beliau. Mari kita lihat dari dua hadits berikut,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا عَائِشَةُ، هَذَا جِبْرِيْلُ يَقْرَأُ عَلَيْكِ السَّلاَمَ. قَالَتْ: قُلْتُ: وَعَلَيْهِ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ، تَرَى مَا لاَ نَرَى.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata: “Wahai Aisyah, ini ada Jibril, dia titip salam untukmu.” Aisyah berkata: “Aku jawab, wa ‘alaihissalam wa rahmatullah (semoga keselamatan dan rahmat Allah tercurah untuknya), engkau dapat melihat apa yang tidak kami lihat.” [HR. al-Bukhari, no. 2217, Muslim, no. 2447]

hadist lainya,

عَنْ غَالِبٍ قَالَ: إِنَّا لَجُلُوْسٌ بِبَابِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ إِذْ جَاءَ رَجُلٌ فَقَالَ: حَدَّثَنِيْ أَبِيْ عَنْ جَدِّيْ قَالَ: بَعَثَنِيْ أَبِيْ إِلَى رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: اِئْتِهِ فَأَقْرِئْهُ السَّلاَمَ. قَالَ: فَأَتَيْتُهُ فَقُلْتُ: أَبِيْ يُقْرِئُكَ السَّلاَمَ. فَقَالَ: عَلَيْكَ وَعَلَى أَبِيْكَ السَّلاَمَ.

Dari Ghalib rahimahullah ia berkata: Sesungguhnya kami pernah duduk-duduk di depan pintu (rumah) al-Hasan al-Bashri rahimahullah, tiba-tiba seseorang datang (kepada kami) dan bercerita: Ayahku bercerita dari kakekku, ia (kakekku) berkata: Ayahku pernah mengutusku untuk menemui Rasulullah rahimahullahlalu ia berkata: Datangilah beliau dan sampaikan salamku kepadanya. Ia (kakekku) berkata: Maka aku menemui beliau dan berkata: Ayahku titip salam untukmu. Maka beliau menjawab: “Wa ‘alaika wa ‘ala abikassalam (semoga keselamatan tercurah kepadamu dan kepada ayahmu).” [Hadits hasan. Lihat:Misykat al-Mashabih, no. 4655, Shahah Abi Dawud, no. 5231]

Nah begitu, kenapa nitip salam dikatakan sunnah.

Terakhir, mungkin karena kebiasaan tapi mari rubahlah kebiasaan kurang baik ini, apa itu?

Baik, inilah kebiasaan kita, kalau saya pribadi sering menemukan di email, SMS, Chat di BBM, FB, WA, LINE dan twitter karena belum pernah dengar kata ini kalau lagi bertemu dan kalau lagi telepon-teleponan (belum kebayang kata ini diucapkan), kata singkatan Ass (untuk=ng maksudnya bukan dalam bahasa english), Ass.wr.wb, ws.rb atau ws (kaya nama resto ya hehe…).

Penulis nasihatkan, lebih baik dan sangat keren ditulis atau diketik lengkap, karena salam adalah doa dan memiliki keutamaan serta makna yang baik maka lebih baik tidak disingkat-singkat .

Semoga bermanfaat.

Kali ini bahasanya cukup gaul, kemuda-mudaan gitu (berati yang nulis sudah kebapak-bapakan dong)

Edisi khusus.

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Daftar Kajian Tashfiyah
PENDAFTARAN PESERTA WISMA MUSLIM UPI BANDUNG
Dauroh Kitab Bulughul Maram: “Peringatan Terhadap Akhlak Yang Buruk” Al-Dauroh Kitab Bulughul Maram: “Peringatan Terhadap Akhlak Yang Buruk” Bersama Al-Ustadz Firanda Andirja, M.A
INFO KAJIAN GEGERKALONG (Sabtu 24 SAFAR & Ahad 25 Safar 1437)