Kondisi Hati Para Penikmat-Penikmat Dosa

Saudara-saudariku yang di rahmati Allah, sungguh khawatirlah dan waspada bila kita masuk atau sudah ada dalam kondisi seperti ini, yaitu dimana hati kita menjadi penikmat-penikmat maksiat karena hati telah menjadi keras atau mati. Diantara tanda hati sakit yang menonjol adalah pemiliknya tidak merasa terluka akibat tindakan-tindakan kemaksiatan yang dilakukan, dia malah menikmati dosa-dosa yang menjerumuskan dari jauhnya Rahmat Allah.

Pada hati yang hidup atau maksiat adalah luka bagi hati namun sebaliknya pada hati yang keras atau mati malahan maksiat tersebut adalah nutrisi hati yang tidak bermanfaat dan akan terus membuatnya semakin keras menuju kematian hati.

Semakin terjerumus maka hati lambat laun akan keras dan mati, karena pada hakikatnya setiap maksiat bila terjadi pada hati yang hidup tentu sang pemilik hati akan merasakan kesakitan karena luka tersebut dan segera bertaubat memohon ampunan kepada Allah sebagai obat paling manjur agar hatinya kembali hidup dengan sehat.

Saudara-saudariku yang Allah rahmati, ingatlah hal ini bahwa hati yang sehat dan hidup tentu akan merasa sakit dan terluka dengan kemaksiatan, sehingga hal ini melahirkan taubat dan inabah kepada Rabb-nya ‘azza wa jalla. Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala,

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya” [QS. Al A’raaf: 201]

Allah berfirman ketika menyebutkan karakter orang beriman,

والذين إذا فعلوا فاحشة أو ظلموا أنفسهم ذكروا الله فاستغفروا لذنوبهم ومن يغفر الذنوب إلا الله ولم يصروا على ما فعلوا وهم يعلمون

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui” [QS. Ali Imran: 135].

Dimana ketika mereka bermaksiat, mereka mengingat Allah ‘azza wa jalla, ancaman dan siksa yang disediakan oleh-Nya bagi pelaku kemaksiatan, sehingga hal ini mendorong mereka untuk beristighfar kepada-Nya.

Mari kita bersegera kembali ke jalan yang lurus dan bertaubat, karena bila tidak segera meninggalkan kondisi tersebut dengan penyakit hati tersebut justru akan menyebabkan terjadinya kontinuitas keburukan, seperti yang dikemukakan oleh al-Hasan rahimahullah ketika menafsirkan firman Allah,

كلا بل ران على قلوبهم ما كانوا يكسبون

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka” [QS. Al Muthaffifin: 14].

Beliau mengatakan,

هو الذنب على الذنب حتى يعمى القلب أما سليم القلب فيتبع السيئة الحسنة والذنب التوبة

“Hal itu (rahn) adalah dosa di atas dosa yang membutakan hati. Adapun hati yang salim justru akan melahirkan perbuatan yang baik setelah dulunya berbuat buruk, melahirkan taubat setelah dulunya berbuat dosa.”

Mari kita evaluasi bersama hati kita, evaluasi ini sangat perlu, sebisa mungkin kita memperhatikan kondisi hatinya setiap saat, jangan sampai menjadi hati yang keras atau mulai mengeras sehingga nantinya akan menjadi keras dan sulit menerima kebenaran, berikut tanda-tanda yang harus kita waspadai, berikut beberapa ciri-ciri atau patokan yang harus kita waspadai,

  • Berpaling dari nutrisi hati yang bermanfaat dan justru beralih kepada racun yang mematikan.

Sebagaimana tindakan mayoritas manusia yang berpaling dari al-Quran yang dinyatakan Allah sebagai obat dan rahmat dalam firman-Nya,

وننزل من القرآن ما هو شفاء ورحمة للمؤمنين

Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman…” (QS. Al Isra: 82).

Mereka justru berpaling mendengarkan dan melakukan hal-hal yang menumbuhkan kemunafikan dalam hati mereka, menggerakkan syahwat dan mengandung kekufuran kepada Allah ‘azza wa jalla. Pada kondisi ini, hamba mendahulukan kemaksiatan karena kecintaannya kepada sesuatu yang dimurkai oleh Allah dan rasul-Nya.

  • Condong kepada kehidupan dunia, merasa senang, nyaman dan tenteram dengannya, tidak merasa bahwa sebenarnya dia adalah pengembara di kehidupan dunia, tidak mengharapkan kehidupan akhirat dan tidak berusaha mempersiapkan bekal untuk kehidupannya kelak disana.
  • Bermalas-malasan dalam mengerjakan kebaikan dan ketaatan, serta meremehkan suatu kemaksiatan.
  • Tidak terpengaruh hatinya dengan ayat-ayat al-Qur’an yang dibacakan.

Seharusnya, hati yang sehat dan hidup akan bergetar jika dibacakan ayat-ayat al-Qur’an atau diingatkan akan Allah Azza wa Jalla . Allah Azza wa Jalla berfirman yang artinya:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Rabb-lah mereka bertawakkal. [al-Anfal/8:2]

  • Tidak terpengaruh hatinya dengan berbagai ujian, musibah dan cobaan yang diberikan oleh Allah Azza wa Jalla .

Allah berfirman yang artinya:

أَوَلَا يَرَوْنَ أَنَّهُمْ يُفْتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٍ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لَا يَتُوبُونَ وَلَا هُمْ يَذَّكَّرُونَ

Dan tidakkah mereka (orang-orang munafiq) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran? [at-Taubah/9:126]

  • Tidak merasa takut akan janji dan ancaman Allah Azza wa Jalla
  • Tidak tenang hatinya dan selalu merasa gundah
  • Bertambahnya dan meningkatnya kemaksiatan yang dilakukannya.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik [ash-Shaf/61:5]

  • Kemaksiatan akan melemahkan hati dari keinginannya untuk bertaubat.

Maka keinginan untuk bermaksiat semakin menguat, dan keinginan untuk bertaubat semakin melemah sedikit demi sedikit, hingga akhirnya keinginan untuk bertaubat itu hilang sama sekali dari hatinya. Kemaksiatan adalah sebab terhinanya seorang hamba di sisi Allah, serta sebab jatuhnya kedudukan hamba di sisi-Nya. Perihal ini sebagaimana sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ » . فَقَالَ بِهِ هَكَذَ

Sesungguhnya seorang Mukmin itu melihat dosa-dosanya seolah-olah dia berada di kaki sebuah gunung, dia khawatir gunung itu akan menimpanya. Sebaliknya, orang yang durhaka melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya, dia mengusirnya dengan tangannya –begini–, maka lalat itu terbang” [HR. At-Tirmidzi, no. 2497]

Ibnu Abi Jamrah rahimahullah menjelaskan hadits,

السبب في ذلك أن قلب المؤمن منور فإذا رأى من نفسه ما يخالف ما ينور به قلبه عظم الأمر عليه والحكمة في التمثيل بالجبل أن غيره من المهلكات قد يحصل التسبب إلى النجاة منه بخلاف الجبل إذا سقط على الشخص لا ينجو منه عادة

Sebabnya adalah, karena hati seorang Mukmin itu diberi cahaya. Apabila dia melihat pada dirinya ada sesuatu yang menyelisihi hatinya yang diberi cahaya, maka hal itu menjadi berat baginya. Hikmah perumpamaan dengan gunung yaitu apabila musibah yang menimpa manusia itu selain runtuhnya gunung, maka masih ada kemungkinan mereka selamat dari musibah-musibah itu. Lain halnya dengan gunung, jika gunung runtuh dan menimpa seseorang, umumnya dia tidak akan selamat.” [Tuhfatul Ahwadzi 7/169, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, Beirut, Syamilah]

Saudara-saudariku yang Allah rahmati, mari kita berusaha untuk selalu istiqomah dalam ketaatan.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

‘Ya Muqollibal Quluubi Tsabbit Qolbiy ‘Alaa Diinika’.

Artinya: “Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” [HR. At-Tirmidzi no.3522, imam Ahmad IV/302, Al-Hakim I/525. Lihat Shohih Sunan At-Tirmidzi no.2792].

Marilah kita selalu mengingat sabda Nabi Shallallahu’alahi wa sallam ini dalam sanubari kita,

كن في الدنيا كأنك غريب أو عابر سبيل

Hiduplah di dunia ini seakan-akan engkau orang asing atau orang yang sekedar menumpang lewat” [HR. Bukhari].

Wallahul muwaffiq.

Leave a Reply

Kajian Islam Ilmiah Syarah Kitab Arbai’n An’Nawawi 13 Desember 2017
Kajian Islam Ilmiah Syarah Kitab Arbai’n An’Nawawi 29 Nov 2017
Daftar Kajian Tashfiyah
PENDAFTARAN PESERTA WISMA MUSLIM UPI BANDUNG