Bahasa Arab (3) – Pembagian Kalam

UNSUR-UNSUR KALAM

Kemudian Ibnu Aajurruum rohimahullohu Ta’ala berkata:

وَأَقْسَامُهُ ثَلَاثَةٌ : اسم وَفِعْلٌ وَحَرْفٌ جَاءَ لِمَعْنًى

(Dan unsur-unsur kalam ada tiga: isim [kata benda], fi’il [kata kerja], dan huruf yang mempunyai kepada suatu makna [kata depan/kata sambung]).

Apabila ada orang yang bertanya: Apa dalilnya bahwa unsur-unsur kalam ada tiga? Apakah terdapat di dalam Al-Qur’an, As-Sunnah, ‘ijma atau qiyas yang menunjukkan bahwa unsur-unsur kalam terdiri dari tiga unsur?

Kita menjawab: Tidak ada di dalam Al-Qur’an, As-Sunnah, ijma’ atau qiyas yang menunjukkan bahwa unsur-unsur kalam ada tiga, karena dalil-dalil ini hanya kita perlukan dalam menetapkan hukum-hukum syari’at, sedangkan nahwu tidak memerlukan hal ini.

Tetapi para ulama mempunyai dalil terhadap pembatasan unsur-unsur kalam menjadi tiga, yaitu penelaahan dan penelitian, yakni bahwasanya para ulama rohimahumulloh menelaah dan meneliti kalam orang Arab, maka mereka menemukan bahwasanya kalam tidaklah keluar dari tiga unsur ini: isim (kata benda), fi’il (kata kerja), dan huruf (kata depan/kata sambung). Kata Ibnu Hisyam rohimahullohu Ta’ala: Kalaulah disana ada unsur yang keempat tentulah mereka (para ulama) telah mengetahuinya.

Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rohimahulloh Ta’ala mengatakan bahwa isim mencakup:

  • Isim yang murni
  • Dan isim fi’il.

Isim-isim fi’il (menurut Ibnu ‘Aqil rohimahullohu Ta’ala di dalam “syarhul alfiyyah” 2/314) adalah lafazh-lafazh yang menempati kedudukan fi’il-fi’il di dalam penunjukkan kepada maknanya dan amalannya (beramal seperti amalan fi’il). Dan memiliki tiga makna:

  • Bermakna fi’il amr: seperti aamiin bermakna kabulkanlah.
  • Bermakna fi’il madhi: seperti syattaana bermakna iftaroqo (berpecah-belah).
  • Bermakna fi’il mudhori’: seperti wai bermakna aku takjub.

Adapun perbedaan antara isim fi’il dengan fi’il (kata kerja): bahwa isim fi’il walaupun menunjukkan kepada makna fi’il, akan tetapi tidak menerima alamat/tanda fi’il.

Asy-Syaikh Muhammad bin Muhyiiddiin berkata di dalam kitabnya “At-Tuhfatu As-Saniyyah” :

Isim secara bahasa: Apa-apa yang menunjukkan kepada yang dinamakan.

Isim menurut ishthilah para ahli nahwu: Kata yang menunjukkan kepada suatu makna pada zatnya dan tidak berhubungan dengan waktu. (Ini adalah ta’rif birrosmi atau bilhaqiiqoh).

Contohnya: Muhammadun, Qoo-imun, al-kitaabu, dst.

Isim terbagi menjadi tiga:

  1. Muzhhar (isim zhohir) seperti Zaidun, dll.
  2. Mudhmar (isim dhomir) seperti huwa, dst.
  3. Mubham (isim isyarat, isim maushul, isim istifham dan isim syarat) seperti: haazhaa, al-ladzii, dst.

Fi’il secara bahasa: Al-hadatsu (kejadian).

Fi’il menurut ishthilah para ahli nahwu: (Ini adalah ta’rif birrosmi atau bilhaqiiqoh) yaitu kata yang menunjukkan kepada suatu makna pada zatnya, dan berhubungan dengan salah-satu dari tiga waktu, yaitu masa lampau, sekarang, dan akan datang.

Contohnya: kataba, yaktubu, uktub, dll.

Fi’il ada tiga macam:

  1. Fi’il madhi: Apa-apa yang menunjukkan kepada kejadian yang terjadi pada waktu yang sebelum waktu pembicaraan, seperti kataba, fahima, dst.
  2. Fi’il mudhori’: Apa-apa yang menunjukkan kepada kejadian yang terjadi pada waktu pembicaraan atau setelahnya, seperti yaktubu, yafhamu, dst.
  3. Fi’il amr: Apa-apa yang menunjukkan kepada kejadian yang dituntut hasilnya setelah waktu pembicaraan, seperti uktub, ifham, dst.

Huruf secara bahasa: Ath-Thorofu (sisi).

Huruf secara ishthilah para ahli nahwu: (Ini adalah ta’rif birrosmi atau bilhaqiiqoh), yaitu kata yang menunjukkan suatu makna pada selainnya. Menurut syaikh Al-‘Utsaimin yaitu apa-apa yang tidak memiliki makna pada zatnya, dan hanya muncul maknanya pada selainnya.

Contohnya: “Lam” pada lam yadhrib. Maka lam maknanya nafi, dan tidak muncul kecuali pada fi’il setelahnya.

Huruf juga terbagi menjadi tiga:

  1. Huruf yang masuk bersekutu kepada isim dan fi’il, seperti “hal” pada kalimat hal qooma Zaidun? Dan hal Zaidun Qoo-imun?.
  2. Huruf yang khusus masuk ke dalam isim saja, seperti huruf “ba” pada kalimat marortu bizaidin.
  3. Huruf yang khusus masuk ke dalam fi’il saja, seperti “lam” pada kalimat lam yadhrib Zaidun.

Akan tetapi menurut Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rohimahulloh Ta’ala, ta’rif (definisi) isim, fi’il dan huruf dengan ta’rif birrosmi atau dengan hakekatnya adalah sulit bagi para pemula dan juga faedahnya sedikit. Dan Ibnu Aajurruum rohimahullohu Ta’ala memandang karena kitabnya yang ringkas dan untuk para pemula maka beliau tidak memberikan ta’rif birrosmi tetapi membatasinya dengan ta’rif bilhukmi dan alamat.

Oleh karena ini, maka ketahuilah tanda-tanda isim, fi’il dan huruf yang kalau kita menemukan tanda/alamat ini, kita mengetahui bahwasanya ini isim, fi’il atau huruf.

Dikumpulkan oleh Abu Abdirrohman Djeni dari kitab At-Ta’liiqoot Al-Jaliyyah dan At-Tuhfatu As-Saniyyah.

2 Comments

  1. Ummu Hudzaifah September 4, 2010

Leave a Reply

Daftar Kajian Tashfiyah
PENDAFTARAN PESERTA WISMA MUSLIM UPI BANDUNG
Dauroh Kitab Bulughul Maram: “Peringatan Terhadap Akhlak Yang Buruk” Al-Dauroh Kitab Bulughul Maram: “Peringatan Terhadap Akhlak Yang Buruk” Bersama Al-Ustadz Firanda Andirja, M.A
INFO KAJIAN GEGERKALONG (Sabtu 24 SAFAR & Ahad 25 Safar 1437)