Bagi Engkau Wahai Para Calon Suami dan Calon Istri, Hendaklah Persiapkan Ilmu Mendidik Anak

Saudara-saudariku yang di rahmati Allah, sebagaimana kita ketahui dalam setiap hal perlu ada persiapan, begitu juga ketika akan mengaruhi bahtera rumah tangga dan menikah, kita perlu mempersiapkan semampu kita dengan penuh ikhtiar dan optimis, persiapan ini adalah pijakan pertama kita sebelum melangkah kedalam gerbang rumah tangga, yaitu baik calon suami dan calon istri harus mempersiapkan dirinya masing-masing untuk menjadi suami dan istri serta menjadi seorang ayah atau ibu kelak. Kenapa harus di persiapakan? karena ketika menjadi seorang suami dan istri tentulah ada ilmu nya dalam mengarunginya begitu pula mejadi seorang ayah atau seorang ibu bukan hanya sekedar menjadi ayah atau ibu tapi disana harus faham ilmu membesarkan dan mendidik anak dengan benar maka tentu hal ini harus dipersiapkan .

Seorang ulama ditanya : ” Wahai Imam bagaimanakah engkau mendidik anakmu?” ia menjawab : “Aku mendidik anakku sebelum aku menikah.” Maksudnya adalah ia telah mempersiapkan dirinya dengan keshalihan pribadinya, selalu mendekatkan dirinya kepada Allah Ta’ala, selalu menjaga diri apa-apa yang Allah Ta’ala haramkan untuk dikerjakan, sehingga diharapkan nantinya anak yang Allah Ta’ala takdirkan baginya pun akan memiliki pribadi yang shalih dengan adanya benih keshalihan yang telah ia siapkan. [1]

Hal ini berlaku baik bagi laki-laki dan perempuan, maka persiapkanlah sebaik mungkin.

Lantas bagaimana dengan kita? hendaknya kita dari sekarang mulai mempersiapkan sebaik mungkin dengan ikhtiar yang maksimal, dari mulai proses menjadikan diri lebih baik, evaluasi diri, memahami proses pernikahan yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As Sunnah, belajar ilmu bagaimana menjadi seorang suami ataupun seorang istri, belajar dari sekarang bagaimana menjadi seorang ayah dan ibu kelak, belajar bagaimana membangun keluarga yang sakinah, bersiap untuk menjadi teladan bagi anak-anakmu kelak, serta ilmu bagaimana membesarkan dan mendidik anak dengan baik dan benar.

Saudara-saudariku yang Allah rahmati, bagaimana mungkin seorang ayah dan ibu bisa mendidik anaknya menjadi orang yang baik, kalau dia sendiri tidak memiliki kebaikan  tersebut dalam dirinya?

Ungkapan Arab mengatakan:

فاقِدُ الشَّيْءِ لا يُعْطِيْهِ

“Sesuatu yang tidak punya tidak bisa memberikan apa-apa”[Dinukil oleh syaikh al-Albani dalam kitab “at-Tawassul, ‘anwaa’uhu wa ahkaamuhu” (hal. 74)].

Saudara-saudariku mari persiapkan dengan penuh ikhtiar dan ke-istiqomahan untuk mempersiapkanya,

Allah Ta’ala berfirman,

{وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً}

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam (semua) urusannya” (QS. ath-Thalaaq:4)

Persiapkanlah dari sekarang, karena tentulah kita menginginkan anak-anak kita kelak menjadi pribadi yang baik.

Seorang penyair mengungkapkan makna ini dalam bait syairnya:

Anak kecil itu akan tumbuh dewasa di atas apa yang terbiasa (didapatkannya) dari orang tuanya

Sesungguhnya di atas akarnyalah pohon itu akan tumbuh. [Kitab Adabud dunya wad diin hal. 334]

Serupa dengan syair di atas, ada pepatah arab yang mengatakan:

“Barangsiapa yang ketika muda terbiasa melakukan sesuatu maka ketika tua pun dia akan terus melakukannya”. [Dinukil dan dibenarkan oleh syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin dalam “Majmu’atul as-ilah tahummul usratal muslimah (hal. 43)].

Bagaimanapun untuk engkau wahai saudara ku, calon suami yang shalih, ingatlah hal ini :

Allah ta’ala berfirman :

يا أيها الذين آمنوا قوا أنفسكم وأهليكم نارا وقودها الناس والحجارة عليها ملائكة غلاظ شداد (التحريم : ٦)

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah Malaikat-malaikat yang kasar dan keras”. [At Tahrim : 6]

Dan diriwayatkan dari Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu bahwa perihal ayat ini mengandung makna :

“Beramallah dalam ketaatan kepada Allah, jagalah diri kalian dari kemaksiatan kepada-Nya, dan perintahkanlah anak-anak kalian untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Maka dengan itulah kalian menjaga (diri kalian dan keluarga) dari api neraka”.

Kemudian dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu berkata tentang makna ayat ini :

“Ajarkan diri kalian dan keluarga kalian akan kebaikan, ajarkanlah adab kepada mereka”.

Ingatlah wahai saudaraku perkataan Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhu,

“Didiklah anakmu karena kamu akan ditanya tentang tanggungjawabmu, apakah sudah kamu ajari anakmu, apakah sudah kamu didik anakmu dan kamu akan ditanya kebaikanmu kepadanya dan ketaatan anakmu kepadamu.”

Wahai calon ayah, perhatikanlah perkataan dari Imam Ibnu Qayyim rahimahullah beliau berkata,

“Barangsiapa yang tidak mengajarkan hal-hal yang bermanfaat kepada anaknya dan membiarkan begitu saja, berarti dia telah mendurhakai anaknya. Betapa banyak anak-anak yang rusak dikarenakan ulah ayah-ayah mereka sendiri yang membiarkan mereka begitu saja, tidak mengajarkan kepada mereka kewajiban-kewajiban dan sunnah-sunnah dalam agama Islam yang harus ia kerjakan. Mereka telah menyia-nyiakan anak mereka sewaktu kecil, sehingga mereka tidak bermanfaat untuk diri mereka sendiri dan mereka pun tidak bisa memberikan manfaat sedikit pun disaat orang tuanya sudah lanjut usia. Sebagaimana celaan sebagian orang tua yang dilontarkan kepada anaknya dan si anak menjawab, “Wahai ayahku, sesungguhnya engkau telah mendurhakaiku di saat aku masih kecil, maka setelah besar aku pun mendurhakaimu. Engkau telah menyia-nyiakanku sewaktu aku masih kecil maka aku pun menyia-nyiakan engkau ketika engkau sudah lanjut usia.”

Dan teruntuk saudariku yang Allah rahmati, untuk engkau wahai calon istri yang shalihah, engkau wanita yang dimuliakan oleh Allah,

Seorang penyair dalam bait syairnya:

الأم مدرسة إذا أعددتَها

أعددتَ شَعْباً طَيِّبَ الأعراق

Ibu adalah sebuah madrasah (tempat pendidikan) yang jika kamu menyiapkannya

Berarti kamu menyiapkan (lahirnya) sebuah masyarakat yang baik budi pekertinya. [Dinukil oleh syaikh Shaleh al-Fauzan dalam kitab Makaanatul mar-ati fil Islam hal. 5]

Saudara-saudariku yang Allah rahmati, ingatlah baik-baik, perkara membesarkan dan mendidik anak bukanlah tanggung jawab suami saja atau istri saja tapi keduanya mempunyai kewajiban penuh bermitra untuk membesarkan, mendidik dengan baik dan benar sera memberikan kasih sayang terhadap mereka.

Saudara-saudariku hamba-hamba Allah yang Allah rahmati, sesungguhnya memperhatikan pendidikan anak-anak adalah perkara yang sangat penting dan agung.

Wajib bagi kita untuk melihat, memperhatikan dan mengintrospeksi diri akan perkara penting ini. Khususnya pada zaman sekarang yang begitu besar gelombang fitnah dan begitu asingnya nilai agama.

Terkait hal ini Syaikh Bakr Abu Zaid berkata: “Anak-anak adalah amanah (titipan Allah Ta’ala) kepada kedua orang tua atau orang yang bertanggungjawab atas urusan mereka. Maka syariat (Islam) mewajibkan mereka menunaikan amanah ini dengan mendidik mereka berdasarkan petunjuk (agama) Islam, serta mengajarkan kepada mereka hal-hal yang menjadi kewajiban mereka, dalam urusan agama maupun dunia. Kewajiban yang pertama (diajarkan kepada mereka) adalah: menanamkan ideologi (tentang) iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab suci, para Rasul, hari akhirat, dan mengimani takdir Allah yang baik dan buruk, juga memperkokoh (pemahaman) tauhid yang murni dalam jiwa mereka, agar menyatu ke dalam relung hati mereka. Kemudian mengajarkan rukun-rukun Islam pada diri mereka, (selalu) menyuruh mereka mendirikan shalat, menjaga kejernihan sifat-sifat bawaan mereka (yang baik), menumbuhkan (pada) watak mereka akhlak yang mulia dan tingkah laku yang baik, serta menjaga mereka dari teman pergaulan dan pengaruh luar yang buruk.

Inilah rambu-rambu pendidikan (Islam) yang diketahui dalam agama ini secara pasti (oleh setiap muslim), yang karena pentingnya sehingga para ulama menulis kitab-kitab khusus (untuk menjelaskannya)…Bahkan (metode) pendidikan (seperti) ini adalah termasuk petunjuk para Nabi dan bimbingan orang-orang yang bertakwa (para ulama salaf)”. [Kitab Hiraasatul fadhiilah hal. 122]

Janganlah sia-siakan Istrimu dan anak-anakmu kelak wahai saudaraku.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ

“Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa karena ia telah menyia-nyiakan orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.” [HR. An-Nasa’i dan Al-Hakim]

Terakhir untuku wahai saudara-saudariku yang dirahmati Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كلكم راع، وكلكم مسئول عن رعيته، فالأمير راع، وهو مسئول عن رعيته، والرجل راع على أهل بيته، وهو مسئول عنهم، والمرأة راعية على بيت بعلها وولده، وهي مسئولة عنهم، والعبد راع على مال سيده، وهو مسئول عنه، فكلكم راع مسئول عن رعيته

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Pemimpin negara adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Seorang wanita adalah pemimpin bagi anggota keluarga suaminya serta anak-anaknya dan ia akan ditanya tentang mereka. Seorang budak adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia akan ditanya tentang harta tersebut. Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang yang dipimpinnya.” [HR. Bukhari 893 dan Muslim 1829]

 

Semoga Bermanfaat.


Referensi

[1] Najmi nin Umar Bakkar. 2011.100 Kiat Bagi Orang Tua Agar Anak InsyaAllah jadi Shalih dan Shalihah

[2] Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni. Ibu, Sungguh Begitu Mulia Peranmu.  https://muslim.or.id/2734-ibu-sungguh-begitu-mulia-peranmu.html#_ftn7

 

Leave a Reply

Kajian Islam Ilmiah Syarah Kitab Arbai’n An’Nawawi 13 Desember 2017
Kajian Islam Ilmiah Syarah Kitab Arbai’n An’Nawawi 29 Nov 2017
Daftar Kajian Tashfiyah
PENDAFTARAN PESERTA WISMA MUSLIM UPI BANDUNG