Ridho Manusia Suatu Tujuan Yang Tak Akan Tercapai

Saudara-saudariku yang Allah rahmati, ingin disukai semua orang memang baik, ingin diterima semua orang memang bagus, namun semua hal yang kita niatkan dan perbuat jangan ditujukan untuk mencari orang agar ridho terhadap kita karena tujuan tersebut hanya sia-sia dan berdampak buruk bagi kita sendiri.

Saudara-saudariku yang Allah rahmati, sebaik apapun kita tentu kita tidaklah sempurna, kalau dikorek kekurangan atau aib akan nampak. Mungkin kita terlihat baik dan terhormat namun yakinlah orang-orang tersebut hormat karena Allah menyembunyikan aib kita, dosa-dosa kita, maksiat-maksiat kita, kebohongan-kebohongan kita dalam setiap pembicaraan. Mungkin kita terlihat paling baik dan ada sebagian orang yang mengagumi dan menghormati kita, namun ada sebagian lagi bermuka dua, di depan kita berbuat A di belakang kita ternyata sebaliknya, dan masih banyak contoh lainya.

Mungkin kita pernah berpikir setiap sikap, perbuatan atau keputusan kita akan diterima semua orang? cukup tautkan dan tujukan apapun itu hanya untuk meraih ridhonya Rabb manusia.

Perihal ini teringat sebuah perkataan dari seorang ulama besar, beliau Muhammad bin Idris bin al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin as-Sa’ib bin Ubaid bin Abd Yazid bin Hasyim bin al-Muththalib bin Abdu Manaf bin Qusyay bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ay bin Ghalib atau kita mengenal dengan nama Imam Syafi’i rahimahullah, beliau berkata:

“Ridho semua manusia adalah tujuan yang tidak mungkin digapai, tidak ada jalan untuk selamat dari omongan orang. Maka lihatlah kebaikan hatimu, peganglah dan biarkan manusia berbicara sekehendak mereka”.
[Manaqib Imam Syafi’i hlm. 90 oleh al-Aburri, Hilyatul Auliya’ 9/122 oleh Abu Nu’aim , Al-’Uzlah hlm. 76 oleh al-Khotthobi.]

Maka Suadara-saudariku, tujukan dan carilah ridho Allah bukan manusia, karena dengan mencari ridho Allah kita menjadi ikhlas, tidak peduli orang akan menyanjung kita atau tidak, menyukai kita atau tidak, mengagumi kita atau tidak, dan lainya, cukup tujukan, raih ridho Allah!

Saudara-Saudariku yang dirahmati Allah dalam hadits disebutkan,

عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ قَالَ كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رضى الله عنها أَنِ اكْتُبِى إِلَىَّ كِتَابًا تُوصِينِى فِيهِ وَلاَ تُكْثِرِى عَلَىَّ. فَكَتَبَتْ عَائِشَةُ رضى الله عنها إِلَى مُعَاوِيَةَ سَلاَمٌ عَلَيْكَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ »

Dari seseorang penduduk Madinah, ia berkata bahwa Mu’awiyah pernah menuliskan surat pada ‘Aisyah -Ummul Mukminin- radhiyallahu ‘anha, di mana ia berkata, “Tuliskanlah padaku suatu nasehat untuk dan jangan engkau perbanyak.” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pun menuliskan pada Mu’awiyah, “Salamun ‘alaikum (keselamatan semoga tercurahkan untukmu). Amma ba’du. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Barangsiapa yang mencari ridho Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barangsiapa yang mencari ridho manusia namun Allah itu murka, maka Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia.” {HR. Tirmidzi no. 2414 dan Ibnu Hibban no. 276. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih]

Dalam lafazh Ibnu Hibban disebutkan,

مَنْ اِلْتَمَسَ رِضَا اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رضي الله عنه وَأَرْضَى عَنْهُ النَّاسَ ، وَمَنْ اِلْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ

Barangsiapa yang mencari ridho Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan meridhoinya dan Allah akan membuat manusia yang meridhoinya. Barangsiapa yang mencari ridho manusia dan membuat Allah murka, maka Allah akan murka padanya dan membuat manusia pun ikut murka.

Di dalam riwayat lain, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَرْضَى النَّاسَ بِسَخَطِ اللهِ وَكَلَهُ اللهُ إِلَى النَّاسِ وَمَنْ أَسْخَطَ النَّاسَ بِرِضَا اللهِ كَفَاهُ اللهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ

Artinya: “Barangsiapa mencari keridhoan manusia dengan membuat Allah murka, maka ia diserahkan oleh Allah kepada manusia. Dan barangsiapa membuat manusia murka dengan keridhoan Allah, maka Allah akan mencukupinya dari kejahatan manusia.” [HR. Ibnu Hibban no.277 (I/510)].

Dan Sejatinya kita tidak diperintahkan untuk mencari ridho manusia karena kita diperintahkan untuk senantiasa mencari keridhoan Allah dan Rasul-Nya sebagaimana firman Allah :

[وَاللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَقُّ أَنْ يُرْضُوهُ} [التوبة: 62}

Allah dan Rasul-Nya yang lebih berhak untuk mereka cari keridhoan-Nya [QS 9:61]

Sungguh ini merupakan nasehat yang sangat berharga bagi kita dari syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, betapa banyak orang yang tatkala mengambil tindakan dan keputusan maka yang menjadi pertimbangan utama adalah sikap manusia kepadanya, apakah mereka akan ridho dengan keputusannya ataukah tidak…?

Saudara-saudariku…  Asy Syaikh Sholih Al-Fauzan, “Hati setiap insan dalam genggaman, Allah yang dapat membolak-balikkan sekehendak Dia. [Al Mulakhosh fii Syarh Kitab Tauhid, hal. 267]

Mari perhatikan niat, amal, perbuatan, dan sikap kita dalam setiap hal, jangan sampai untuk mencari ridho manusia.

Semoga Allah memberi taufik pada kita untuk selalu mengedepankan ridho Allah daripada ridho manusia.Wallahul muwaffiq.

Leave a Reply

Daftar Kajian Tashfiyah
PENDAFTARAN PESERTA WISMA MUSLIM UPI BANDUNG
Dauroh Kitab Bulughul Maram: “Peringatan Terhadap Akhlak Yang Buruk” Al-Dauroh Kitab Bulughul Maram: “Peringatan Terhadap Akhlak Yang Buruk” Bersama Al-Ustadz Firanda Andirja, M.A
INFO KAJIAN GEGERKALONG (Sabtu 24 SAFAR & Ahad 25 Safar 1437)