Dalam Pencarian dan Penantian, Insan yang Masih Rahasia, Engkau Teristimewa.

Saudara-saudariku yang Allah rahmati, menikah merupakan dambaan setiap insan manusia, dan sebagaimana kita fahami bahwa menikah tak hanya suatu sarana menyalurkan cinta dan nafsu belaka tanpa menuai pahala dari Allah Ta’ala. Membangun dan menjadi keluarga yang bahagia, penuh dengan rasa cinta dalam rumah tangga merupakan impian dan idaman semua kita. Sungguh indah dan bahagia dapat bersanding dengan seorang yang kita dambakan. Maka tak heran jika ada sebagian dari kita yang memasang banyak kriteria diajukan demi mendapatkan pasangan yang diimpikan dan didambakan.

Mematok begitu banyak kriteria, memang bukanlah hal yang salah, karena setiap orang mengidamkan pasangan terbaik sebagai pasangan hidupnya demi kebahagiaan rumah tangga kelak. Namun, ingatlah bahwa kriteria-kriteria itu bukanlah harga mutlak, karena tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.

Ingatlah hal ini, antum tahu matahari dan bulan? tentulah tahu, hal ini diibaratkan matahari dan bulan, mereka sama-sama memiliki fungsi sendiri-sendiri. Bulan datang ketika malam tiba memberikan penerangan dalam kegelapan malam, demikianpun dengan matahari yang datang memberikan cahaya terbaiknya untuk menghangatkan bumi ini.

Jangan engkau cari dan harapkan seseorang yang sempurna…. karena harapan dan pencarian mu akan sia-sia…

“Apabila engkau mendamba seorang yang berbudi tanpa cela, mungkinkah kiranya gaharu menebarkan wanginya tanpa asap?” [Majma’ Al-Hikam wal Amtsal fi Asy-Syi’r Al-‘Arabi].

Alangkah lebih baiknya ketika kita menentukan kriteria calon pasangan kita tidak terlalu memaksakan.

Saudara-saudariku yang Allah rahmati, menikah bukan hanya sekedar ajang untuk memperbaiki diri atau meningkatkan ketaqwaan meskipun kita selalu mendengar “Ketika kamu ingin mendapatkan yang shalih, maka shalihahkan dulu dirimu.”, begitu juga sebaliknya, namun perihal memperbaiki diri dan meningkatkan ketaqwaan sudah tugas kita dan keharusan kita sebagai seorang hamba-Nya, bukan karena hanya untuk menikah saja, tapi tidak ada salahnya juga kita bisa jadikan momen ini sebagai momen untuk bangkit memperbaiki diri dan meningkatkan ketakwaan dengan tujuan hanya menggapai ridho Allah bukan hanya sekedar untuk mendapatkan pasangan, karena sebagaimana dalam sebuah riwayat, segala sesuatu tergantung niatnya,

ٍعَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” [HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits]

Maka hendaklah kita jangan memperkecil proses perbaikan diri kita, peningkatan ketaqwaan kita dan hal lainya hanya untuk mendapatkan pasangan tapi niatkanlah semuanya untuk menggapai ridho Allah.

Ketika gundah gulana itu menerpa diriku menanti engkau wahai insan teristimewa dan terbaik untuku.

Terkadang rasa itu hadir, resah, galau, gundah gulana ketika mencari dan menanti…

Memang adakalanya kita dapat menepis seluruh kegalauan hati, namun terkadang juga masih ada keresahan-keresahan yang menyibukkan pikiran kita.

Tenang, tidak usah resah…

Masalah jodoh itu rahasia ilahi,  segala sesuatu sejak awal terciptanya Qalam sampai tiba hari Qiyamat telah tertulis di Lauh Mahfudz, seperti disebutkan dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, di saat manusia masih berada dalam perut ibunya, “Kemudian diperintahkan malaikat untuk menuliskan rezekinya, ajalnya, amal perbuatannya, kebahagiaan atau kesengsaraannya…”

Jodoh termasuk rezeki seseorang. Dalam perihal ini, kita tidak diperintahkan untuk memikirkan tentang takdir tersebut, tapi diperintahkan untuk berusaha. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “…beramallah, masing-masing akan dimudahkan melakukan apa telah dituliskan baginya…” [HR. Muslim (no. 2647]

Pada hakikatnya, jodoh sudah ditetapkan. Namun permasalahnya bukan itu. Bahwa kita tetaplah dianggap berbuat keliru, bila kita tidak berusaha, karena yang dituntut oleh Allah dari kita adalah usaha, upaya, mencari sebab terjadinya, berikhtiar dan niat baik serta tulus. Jodoh tetap Allah yang menentukan. Ingatlah, kita hanya diperintahkan untuk berusaha bukan memikirkan takdir. Dengan upaya dan usaha yang benar serta niat yang tulus dan lurus hanya untuk menggapai ridho Allah, kita akan diberi pahala. Hasilnya, Allah yang menentukan.

Mari kita memperbaiki diri dan meningkatkan ketaqwaan dengan hanya meluruskan niat untuk menggapai ridho Allah dan harapan akan mendapatkan jodoh yang terbaik dan istimewa bagi kita. Sebagaimana kita sudah ketahui wanita baik akan dipertemukan dengan pria yang baik dan begitu juga sebaliknya, kita perlihara dan perkuat niat tulus selalu kita, mari pelihara kualitas ibadah, dan ketaqwaan kita serta tingkatkan dari waktu ke waktu. Sehingga saat indah itu tiba, kita dalam kondisi terbaik, dan pilihan kita juga lebih didasari oleh ketaqwaan, bukan atas dasar nafsu dan syahwat.

Tidak usah resah, namun bila masih ada rasa resah, gundah gulana mungkin hal itu terjadi karena masih adanya waktu luang yang tidak kita manfaatkan,

“Jiwa manusia memang senantiasa dalam salah satu dari dua keadaan, bisa jadi jiwa ini disibukkan dengan ketaatan kepada Allah, namun jika tidak, maka jiwa itu justru yang akan menyibukkan pemiliknya”. [Nashihaty Linnisaa, Ummu ‘Abdillah binti Syaikh Muqbil bin Hady Al-Waadi’i, cet. I, Dar Al-Atsar, th. 1426 H. hal. 20]

Maka dari itu, dalam momen ini mari kita sibukan dengan hal yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat kita salah satunya memperbaiki diri dan meningkatkan ketaqwaan kita, karena kriteria paling utama dalam memilih calon pasangan hidup harus terdapat satu syarat ini. Karena Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertaqwa.” [QS. Al Hujurat: 13]

Diamana ketaqwaan akan memberikan kebahagiaan dunia-akhirat bagi kita. Maka hendaknya kita berjuang untuk mendapatkan calon pasangan yang paling mulia di sisi Allah, yaitu seorang yang taat kepada aturan agama. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pun menganjurkan memilih istri yang baik agamanya,

تنكح المرأة لأربع: لمالها ولحسبها وجمالها ولدينها، فاظفر بذات الدين تربت يداك

“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” [HR. Bukhari-Muslim]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إذا جاءكم من ترضون دينه وخلقه فزوجوه إلا تفعلوه تكن فتنة في الأرض وفساد كبير

“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.”[HR. Tirmidzi]

Berikut ini beberapa hal yang dapat menyibukan kita dalam ketaatan adalah [1] :

  • Berusahalah menjadi pribadi yang senantiasa terus menerus memperbaiki diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih taat pada Allah serta Rasul-Nya.

Ingatlah janji Allah Ta’ala dalam firman-Nya. Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan mengingkari janji. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ
وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).” [QS. An-Nuur: 26].

  • Memperbaiki niat

Tanyakan pada diri sendiri apakah tujuan anda menikah? Karena beribadah? Menunaikan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Menyalurkan hasrat kondrat manusiawi?

Pasti akan didapat jawaban yang berbeda-beda. Sesuai dengan apa tujuan mereka menikah. Namun Allah Ta’ala telah berfirman dalam kitab-Nya,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” [Qs. Adz-Dzariat: 56]

Terkandung manifestasi dari tujuan diciptakannya manusia di muka bumi ini, yaitu untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karenanya, sudah sepantasnya dalam melaksanakan segala amalan yang kita kerjakan tentulah akan berpulang pada tujuan awal.

  • Bekali diri dengan ilmu

Ketika bahtera rumah tangga telah melaju jauh, berkibar bak kapal pesiar yang akan terus berjalan mengarungi samudra kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan. Dalam sebuah perjalanan mengarungi samudra pastilah terdapat berbagai ritangan dan hambatan. Ombak yang datang menghantam, hujan, angin, dan badai yang kapan saja mengancam. Oleh karenanya, nahkoda kapal haruslah siap kapanpun rintangan itu datang menghadang. Mustahil seorang nahkoda dapat mengendalikan kapalnya tanpa berbekal ilmu. Begitu pula dengan kita yang sedang menanti pasangan yang diidamkan. Persiapakanlah diri dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Agar senantiasa lebih siap dan bijak dalam mempersiapkan rumah tangga yang diidamkan bersama pasangan.

Semoga Allah Ta’ala mempermudah langkah kita untuk menuju ke jenjang pernikahan, mempertemukan kepada seseorang yang diidam-idamkan terbaik bagi kita dan teristimewa. Allahu a’lam

InsyaAllah akan ku padu kisah kasih cinta penuh keridhoaan….

Senantiasa dalam doaku…

Menyimpan rasa ingin segera bertemu…

Semoga pencarianku dan penantianku akan segera berakhir…

Inginku detik bahagia itu segera hadir…

Sungguh aku percaya…

Ketentuan-Mu ya Rabbi…

Jodoh, begitulah takdir…


Semoga bermanfaat,

Kita berusaha dan berupaya untuk engkau yang terbaik.


Pengembangan dari artikel :

[1] Ummu Shafiyyah Lia Wijayanti Wibowo, Antara Dilema dan Galau Menanti Jodoh, https://muslimah.or.id

 

Leave a Reply

Daftar Kajian Tashfiyah
PENDAFTARAN PESERTA WISMA MUSLIM UPI BANDUNG
Dauroh Kitab Bulughul Maram: “Peringatan Terhadap Akhlak Yang Buruk” Al-Dauroh Kitab Bulughul Maram: “Peringatan Terhadap Akhlak Yang Buruk” Bersama Al-Ustadz Firanda Andirja, M.A
INFO KAJIAN GEGERKALONG (Sabtu 24 SAFAR & Ahad 25 Safar 1437)