Penjelas Wahyu yang ada dalam al-Qur’an adalah As sunah serta pemahaman para sahabat dan qiyas

Saudara-saudariku yang dirahmati Allah, pada postingan kali ini masih diambil dari kitab karya Syaikh Abdul Aziz bin Marzuq ath-Tharifi , insyaAllah akan menyajikan salah satu bab pembahasan dari kitab  yaitu seputar aqidah dan bab yang di bahas adalah berjudul Penjelas wahyu yang ada dalam al-Qur’an adalah dengan sunah serta pemahaman para sahabat dan qiyas yang benar atas keduanya, mari kita membaca dan menyimaknya secara seksama.

Tidak boleh mengartikan Islam dan menjelaskan maksud Allah yang ada di dalam ajaran Islam tersebut melainkan Allah sendiri di dalam kitabNya dan sunah NabiNya shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Tidak ada yang lebih mulia di kalangan manusia di banding dengan Nabinya Allah tabaraka wa ta’ala, namun, dengan itu, tetap saja tugasnya hanya sebagai penyampai wahyu dari Rabbnya. Seperti yang di jelaskan dalam firmanNya:

﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلرَّسُولُ بَلِّغۡ مَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَۖ ٦٧﴾.  [ آل عمران : 67]

Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu“.  (QS al-Maa’idah: 67).

Kewajiban Nabi hanya menyampaikan dan menjelaskan wahyu tersebut, sebagaimana perintah Allah azza wa jalla dalam firmanNya:

﴿وَمَا عَلَى ٱلرَّسُولِ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ٥٤﴾. [ النور : 54]

Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang“. (QS an-Nuur: 54).

Kemudian, penjelasan tersebut juga datangnya dari Allah subhanahu wa ta’ala. Allah sendiri yang mengatakan dalam firmannya:

﴿فَإِذَا قَرَأۡنَٰهُ فَٱتَّبِعۡ قُرۡءَانَهُۥ ١٨ ثُمَّ إِنَّ عَلَيۡنَا بَيَانَهُۥ ١٩﴾ [ القيامة : 18- 19]

Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya“.  (QS al-Qiyaamah: 18-19).

Kemudian, di antara wahyu yang Allah turunkan adalah sunah yang diberikan kepada NabiNya, Allah ta’ala berfirman:

﴿وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ ٣ إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٞ يُوحَىٰ ٤ ﴾. [ النجم : 3 –  4 ]

Dan tiadaklah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. (Namun) ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”.  (QS an-Najm: 3-4).

Apabila Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam di tanya tentang sebuah persolaan, maka bila dirinya sudah mempunyai jawaban sebelumnya dari Rabbnya, beliau jawab akan tetapi, jika belum maka beliau menunggu turunya wahyu terlebih dahulu.

Selanjutnya, orang yang paling dekat pemahamannya dengan nabinya adalah para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Yang mana, pemahaman mereka tentang al-Qur’an merupakan hujah. Oleh karena itu, barangsiapa ada yang mengatakan: ‘Sesungguhnya ada orang yang mempunyai syari’at tandingan bagi Allah di dalam agama ini, di dalam menghalalkan atau mengharamkan’. Maka sungguh, dirinya telah ikut serta bersama Allah di dalam membuat hukumNya. Dan ini merupakan kekufuran dan kesyirikan yang tidak ada perpedaan pendapat di kalangan para ulama tentangnya.

Dan Tidaklah Allah ta’ala menurunkan kitabNya, kecuali pasti di dalam firmanNya tersebut mempunyai makna yang di inginkanNya. Dan maksudNya tersebut tidak boleh di tafsirkan kecuali oleh Dirinya serta orang di kalangan makhlukNya yang telah di ijinkan. Dan bagi orang yang ingin melakukan hal tersebut, agar bisa beristinbat dengan apa yang ada di dalam al-Qur’an, dengan catatan harus terpenuhi dua syarat:

Pertama: Penafsirannya tidak keluar dari lisan arab serta bahasanya, baik di dalam susunan kalimat maupun perkalimatnya.

Kedua: Tidak menyelisihi makna yang telah tetap di dalam al-Qur’an secara gamblang.

Maka segala sesuatu yang disandarkan kepada Allah azza wa jalla, maka itu dari Allah. Sungguh sebelumnya telah tersesat ahli kitab dengan membebani dirinya di luar batas kemampuannya untuk mencari hukum, berpaling dari yang jelas kemudian menyelami yang samar. Sebagaimana yang di jelaskan oleh Allah azza wa jalla didalam firmanNya tentang ahli kitab:

﴿وَإِنَّ مِنۡهُمۡ لَفَرِيقٗا يَلۡوُۥنَ أَلۡسِنَتَهُم بِٱلۡكِتَٰبِ لِتَحۡسَبُوهُ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَمَا هُوَ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ وَمَا هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ ٧٨﴾.[ ال عمران : 78]

Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, Padahal ia bukan dari Al kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, Padahal ia bukan dari sisi Allah. mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui“.  (QS al-Imaraan: 78).

Mereka bersilat lidah, memutar-mutar lidahnya ketika membaca al-Kitab, bukan dengan yang lainnya, itu supaya kamu menyangka kalau yang sedang di bacanya itu sebagian dari al-Kitab, dikarenakan kedekatannya dengan al-Kitab, sebagai penekanan didalam kesesatan.

Semoga bermanfaat.

Referensi :

فصول في العقيدة [الرّسالة الشّاميّة] ,

الشيخ عبد العزيز بن مرزوق الطريفي

Pembahasan Seputar Aqidah, Syaikh Abdul Aziz bin Marzuq ath-Tharifi, Diterjemahkan : Abu Umamah Arif Hidayatullah

Leave a Reply

Daftar Kajian Tashfiyah
PENDAFTARAN PESERTA WISMA MUSLIM UPI BANDUNG
Dauroh Kitab Bulughul Maram: “Peringatan Terhadap Akhlak Yang Buruk” Al-Dauroh Kitab Bulughul Maram: “Peringatan Terhadap Akhlak Yang Buruk” Bersama Al-Ustadz Firanda Andirja, M.A
INFO KAJIAN GEGERKALONG (Sabtu 24 SAFAR & Ahad 25 Safar 1437)