Iri yang terpuji ? Adakah?

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Para pembaca yang dirahmati Allah, sebgaimana ktia ketahui kata iri, dengki atau hasad suatu istilah yang hampir sama yang mempunyai arti menginginkan hilangnya nikmat dari orang lain, hasad seperti inilah yang tercela. Adapun hasad yang di boleh kan adalah apa yang disebut oleh para ulama dengan ghibthoh. Sebagai mana dalam sebuah riwayat,

الله مالاً فسلَّطه على هلكته في الحقِّ, ورجل آتاه الله حكمةً فهو يقضي بها, ويعلمها الناس». رواه البخاريومسلم.

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud semoga Allah meridhainya, dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Tidak boleh hasad [1] kecuali pada dua perkara; yaitu seseorang yang telah Allah karuniakan padanya nikmat harta yang melimpah kemudian harta itu ia gunakan dan habiskan untuk kebaikan, dan seseorang yang Allah berikan ilmu padanya, lalu ia amalkan dan dia gunakan untuk mengajari manusia”. [HR Bukhari dan Muslim]

[1]. Hasad adalah menginginkan hilangnya sebuah nikmat yang ada pada saudaramu seiman, dan perbuatan ini adalah sebuah keharaman dengan nash al-Qur’an dan sunnah, adapun yang di maksud dalam hadits ini adalah ghibthah yaitu kamu berangan angan dan menginginkan untuk dirimu memperoleh seperti apa yang diberikan Allah pada orang lain dari harta, keturunan, kedudukan, kehormatan, atau ilmu, yang mana akan kamu manfaatkan nikmat tersebut  untuk keta’atan dan berbuat kebaikan serta perkara terpuji lainnya yang di anjurkan.

Para pembaca yang di rahmati Allah, perihal ghibthoh ini Al imam Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah menjelaskan,

“Yang dimaksud hadits di atas adalah tidak ada keringanan pada hasad kecuali pada dua hal atau maksudnya pula adalah tidak ada hasad yang baik (jika memang benar ada hasad yang baik). Disebut hasad di sini dengan maksud hiperbolis, yaitu untuk memotivasi seseorang untuk meraih dua hal tersebut. Sebagaimana seseorang katakan bahwa hal ini tidak bisa digapai kecuali dengan jalan yang keliru sekali pun. Dimotivasi seperti ini karena adanya keutamaan jika seseorang menggapai dua hal tersebut. Jika jalan yang keliru saja ditempuh, bagaimana lagi jika jalan yang terpuji yang diambil dan mungkin tercapai. Intinya masalah ghibtoh ini sejenis dengan firman Allah,

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَات

Berlomba-lombalah dalam kebaikan.”[QS al-Baqarah: 148]

Karena musobaqoh yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah berlomba-lomba dalam kebaikan, siapakah nantinya yang terdepan.

Kemudian Al Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan,

“Para ulama membagi hasad menjadi dua macam, yaitu hasad hakiki dan hasad majazi. Hasad hakiki adalah seseorang berharap nikmat orang lain hilang. Hasad seperti ini diharamkan berdasarkan kata sepakat para ulama (baca: ijma’) dan adanya dalil tegas yang menjelaskan hal ini. Adapun hasad majazi, yang dimaksudkan adalah ghibthoh. Ghibthoh adalah berangan-angan agar mendapatkan nikmat seperti yang ada pada orang lain tanpa mengharapkan nikmat tersebut hilang. Jika ghibthoh ini dalam hal dunia, maka itu dibolehkan. Jika ghibthoh ini dalam hal ketaatan, maka itu dianjurkan.

Sedangkan maksud dari hadits di atas adalah tidak ada ghibtoh (hasad yang disukai) kecuali pada dua hal atau yang semakna dengan itu.”[Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, Dar Ihya’, Beirut, 1392, 6/97]

Semoga bermanfaat.

Referensi :

Buku Terjemahan [Hadits-Hadits Pilihan Seputar Agama Dan Akhlak] Syaikh Muhammad bin Ali al-Jamaah, Pen. Abu Umamah Arif Hidayatullah

[Artikel] Hanya Boleh Hasad pada Dua Orang, Al Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Leave a Reply

Daftar Kajian Tashfiyah
PENDAFTARAN PESERTA WISMA MUSLIM UPI BANDUNG
Dauroh Kitab Bulughul Maram: “Peringatan Terhadap Akhlak Yang Buruk” Al-Dauroh Kitab Bulughul Maram: “Peringatan Terhadap Akhlak Yang Buruk” Bersama Al-Ustadz Firanda Andirja, M.A
INFO KAJIAN GEGERKALONG (Sabtu 24 SAFAR & Ahad 25 Safar 1437)