Adab Ke Kamar Kecil – Tidak Boleh Menyentuh Kemaluan Ketika Kencing (Bagian 4)

Para pembaca yang semoga Allah rahmati, adab selanjutnya ketika didalam kamar kecil atau kakus yaitu tidak boleh menyentuh atau memegang kemaluan dengan tangan kanan ketika kencing dan tidak menggunakannya saat beristinja’ (bercebok/membersihakan) dengan air, sebagaimana dalam riwayat,

dari Abu Qatadah Radhiyallahu’anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا بَالَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَمُسُّ ذَكَرَهُ بِيَمِيْنِهِ وَلاَ يَسْتَنْجِ بِيَمِيْنِهِ.

“Jika salah seorang di antara kalian kencing, janganlah ia menyentuh kemaluannya dengan tangan kanannya. Dan jangan pula ia beristinja’ (cebok/membersihkan) dengan tangan kanannya.” [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 250)], Sunan Ibni Majah (I/113 no. 310), ini adalah lafazh darinya. Diriwayatkan pula dalam Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/254 no. 154), Shahiih Muslim (I/225 no. 267), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/53 no. 31), Sunan at-Tirmidzi (I/12 no. 15), Sunan an-Nasa-i (I/25)]

Selanjutnya dalam perihal beristinja’ (cebok/membersihkan) dapat dengan menggunakan air atau menggunakan minimal tiga batu (istijmar). Perihal lain terakit beristinja’ (cebok/membersihkan) dengan menggunakan air lebih utama daripada menggunakan batu sebagaimana menjadi pendapat Sufyan Ats Tsauri, Ibnul Mubarok, Imam Asy Syafi’i, Imam Ahmad dan Ishaq.[Shahih Fiqh Sunnah, 1/88-89]

Karena dengan menggunakan air dapat lebih bersih, sebagaimana dalam riwayat yang menunjukkan istinja’ (cebok/membersihkan) dengan air yaitu dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, beliau mengatakan,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا خَرَجَ لِحَاجَتِهِ أَجِىءُ أَنَا وَغُلاَمٌ مَعَنَا إِدَاوَةٌ مِنْ مَاءٍ . يَعْنِى يَسْتَنْجِى بِهِ

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar untuk buang hajat, aku dan anak sebaya denganku datang membawa seember air, lalu beliau beristinja’ dengannya.”[HR. Bukhari no. 150 dan Muslim no. 271]

Sedangkan riwayat yang menunjukkan perihal istinja’ (cebok/membersihkan)  dengan minimal tiga batu yaitu riwayat dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا اسْتَجْمَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَجْمِرْ ثَلاَثاً

Jika salah seorang di antara kalian ingin beristijmar (istinja’ dengan batu), maka gunakanlah tiga batu.”[HR. Ahmad 3/400]

Terkait hal ini untuk sebagian orang sering datang perasaan was-was bila setelah kencing, misal was-was air kencing terpercik ke celana. Maka dalam perihal ini kita dapat memerciki kemaluan dan celana menggunakan air setelah kencing untuk menghilangkan perasaan was-was, sebagaimana dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu’anhu mengatakan,

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- تَوَضَّأَ مَرَّةً مَرَّةً وَنَضَحَ فَرْجَهُ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu dengan satu kali – satu kali membasuh, lalu setelah itu beliau memerciki kemaluannya.”[HR. Ad Darimi no. 711.]

Kemudian perihal di beberapa tempat yang menyediakan tisu dalam hal untuk membersihkan bila setelah buang hajat, hal ini diperbolehkan, dengan beberapa syarat yaitu [Lihat Kifayatul Akhyar, hal. 34] :

  1. Benda tersebut suci,
  2. Bisa menghilangkan najis, dan
  3. Bukan barang berharga seperti uang atau makanan dan lainnya.

Semoga bermanfaat.

 

 

Referensi :

Kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Tim Tashfiyah LIPIA

[Artikel] 10 Adab Ketika Buang Hajat, Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc

Leave a Reply

Kajian Islam Ilmiah Syarah Kitab Arbai’n An’Nawawi 13 Desember 2017
Kajian Islam Ilmiah Syarah Kitab Arbai’n An’Nawawi 29 Nov 2017
Daftar Kajian Tashfiyah
PENDAFTARAN PESERTA WISMA MUSLIM UPI BANDUNG