Ushul Fiqih (1) – Definisi dan Faedahnya

أصول الفقه

Ta’rifnya (Definisinya) :

Ushuul fiqih didefinisikan menjadi dua bagian :

Pertama : Ditinjau dari dua kata penyusunnya artinya dengan ditinjau dari kata ushuul dan kata fiqih.

Maka الأصول jamak dari أصل (ashlun) yaitu perkara yang dibangun di atasnya perkara yang lainnya, sehingga termasuk hal tersebut adalah asal dinding yaitu pondasinya dan asal pohon yang dahan-dahannya bercabang darinya, Alloh Ta’ala berfirman :

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Alloh telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. {Ibrohim : 24}.

Sedangkan الفقه (fiqih) secara bahasa adalah الفهم (faham) dan di antaranya Firman Alloh Ta’ala :

وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي- 27 يَفْقَهُوا قَوْلِي-28

Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku. {Thoha : 27-28}.

Dan secara ishthilah adalah ma’rifah (mengetahui) hukum-hukum syari’at agama yang bersifat amaliyah dengan dalil-dalilnya yang terperinci.

Maka maksud ucapan kami : Ma’rifah (mengetahui/pengetahuan), ialah ilmu dan zhon karena sesungguhnya mengetahui hukum-hukum yang bersifat fiqih terkadang yakin dan terkadang zhon sebagaimana dalam kebanyakan dari masalah-masalah fiqih.

Dan maksud ucapan kami : Hukum-hukum syar’iyyah (syari’at agama), ialah hukum-hukum yang diambil dari syari’at (Al-qur’an dan As-sunnah) seperti wajib dan haram, sehingga keluar dengan ucapan kami itu hukum-hukum ‘aqliyyah (yang berdasarkan akal) seperti pengetahuan bahwa keseluruhan itu lebih besar daripada sebagian dan juga keluar darinya hukum-hukum ‘aadiyyah (yang berdasarkan kebiasaan) seperti pengetahuan turunnya embun pada malam yang dingin apabila cuaca cerah.

Dan maksud ucapan kami : Amaliyyah (yang bersifat amalan), ialah perkara yang tidak berkaitan dengan i’tiqod (keyakinan) seperti sholat dan zakat. Sehingga keluar dengan ucapan kami itu perkara yang berkaitan dengan i’tiqod seperti mentauhidkan Alloh dan mengetahui asma dan shifat-Nya. Maka hal tersebut tidak dinamakan fiqih secara ishthilah.

Dan maksud ucapan kami : Dengan dalil-dalilnya tafshiiliyyah (yang  terperinci), ialah dalil-dalil fiqih yang disertakan dengan masalah-masalah fiqih yang terperinci, sehingga keluar dengan ucapan kami itu ushuul fiqih dikarenakan hanya membahas padanya itu tentang dalil-dalil fiqih ijmaaliyyah (yang bersifat global).

Kedua : Ditinjau dari keadaannya sebagai sebuah nama yang utuh bagi disiplin ilmu yang tertentu ini (yaitu ushuul fiqih), maka didefinisikan sebagai suatu ilmu yang membahas tentang dalil-dalil fiqih yang bersifat global dan bagaimana menggunakan dalil-dalil tersebut serta keadaan orang yang menggunakan dalil itu.

Maka maksud ucapan kami : Ijmaaliyyah (yang bersifat gobal), ialah kaidah-kaidah yang bersifat umum. Misalnya ucapan seseorang: Perintah untuk wajib dan larangan untuk pengharaman serta sahnya suatu perkara menunjukkan terjadinya/suksesnya perkara tersebut. Sehingga keluar dengan ucapan kami itu dalil-dalil tafshiiliyyah (yang terperinci). Maka dalil-dalil tafshiiliyyah itu tidak disebutkan dalam ushuul fiqih kecuali dengan maksud tamtsil (pemisalan) untuk kaidah.

Dan maksud ucapan kami : Dan bagaimana menggunakan dalil-dalil tersebut ialah mengetahui bagaimana menyimpulkan hukum-hukum dari dalil-dalilnya (dalil-dalil fiqih) dengan mempelajari hukum lafazh-lafazh dan penunjukkannya dari umum dan khusus, mutlak dan muqoyyad, naasikh dan mansukh serta selain yang demikian itu, karena sesungguhnya dengan memahaminya ia bisa menyimpulkan dari dalil-dalil fiqih itu hukum-hukumnya.

Dan maksud ucapan kami : Dan keadaan orang yang menggunakan dalil itu, ialah mengetahui keadaan orang yang mengambil manfaat darinya yaitu mujtahid, dinamakan mustafiid karena sesungguhnya ia menyimpulkan dengan sendirinya hukum-hukum dari dalil-dalilnya karena ia telah mencapai martabat ijtihad. Maka mengetahui mujtahid, syarat-syarat ijtihad dan hukumnya serta seperti yang demikian itu adalah dibahas dalam ushuul fiqih.

Faedah ushuul fiqih :

Sesungguhnya ushuul fiqih adalah suatu ilmu yang mulia kedudukannya dan sangat penting serta melimpah faedahnya. Faedahnya adalah memungkinkan untuk mendapat suatu kemampuan yang dengannya seorang mujtahid bisa menyimpulkan hukum-hukum syari’at dari dalil-dalilnya di atas asas-asas yang selamat.

Dan orang yang pertama kali mengumpulkannnya sebagai disiplin ilmu yang tersendiri adalah al-Imam Asy-Syafi’i Muhammad bin Idris رحم الله تعالى , kemudian para ‘ulama mengikuti beliau dalam hal itu, maka mereka pun menyusun karangan yang beragam mengenai ushuul fiqih yaitu berupa prosa, bait sya’ir, mukhtashor (ringkasan) dan mabsuuth (karya tulis yang panjang) sehingga menjadi satu disiplin ilmu yang tersendiri yang memiliki wujudnya dan cirinya.

Diterjemahkan dari kitab :  Al-Ushul min Ilmil Ushul

Penerjemah : Abu Abdirrahman

No Responses

Leave a Reply

Daftar Kajian Tashfiyah
PENDAFTARAN PESERTA WISMA MUSLIM UPI BANDUNG
Dauroh Kitab Bulughul Maram: “Peringatan Terhadap Akhlak Yang Buruk” Al-Dauroh Kitab Bulughul Maram: “Peringatan Terhadap Akhlak Yang Buruk” Bersama Al-Ustadz Firanda Andirja, M.A
INFO KAJIAN GEGERKALONG (Sabtu 24 SAFAR & Ahad 25 Safar 1437)