Etika Berteman

Hati-hatilah dengan teman yang buruk.

Syaikh Bakr Abu Zaid Rahimahullah berkata,

Sebagaimana kebiasaaan orang tua bisa menurun [1], maka adab yang buruk pun bisa menular [2]. Manusia ibarat serombongan burung yang ditetapkan secara natural untuk saling menyerupai satu sama lain. Maka, hati-hatilah bergaul dengan orang seperti itu, karena bisa menjad malapetaka, sesungguhnya menolak lebih mudah dari pada menghilangkan. Dengan demikian, pilihlah sahabat dan teman yang bisa membantumu dalam pencarian ilmu, mendekatkan dirimu kepada Tuhanmu, yang sesuai dengan kemuliaan tujuan dan maksudmu. Karena itu, bersikaplah selektif dalam memilih teman[3].

Syaikh Al-Utsaimin menjelaskan, kata-kata ini (Perkataan Syaikh Bakr) diambil dari sabda Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman dalam sabda beliau :

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.”[4]

Maka, kamu wajib memilih teman yang baik yang bisa menunjukanmu pada kebaikan dan menjelaskannya kepadamu, mendorongmu untuk melakukannya menjelaskan keburukan kepadamu dan memperingatkanmu darinya. Hati-hatilah dengan teman yang buruk karena agama seseorang tergantung agama kawannya. Berapa banyak manusia lurus ditakdirkan Allah memiliki setan dari jenis manusia, hingga ia bisa memalingkan dirinya dari sikap istiqomah. Banyak juga manusia buruk yang dimudahkan Allah memiliki seseorang yang menunjukannya pada kebaikan dengan sebab pertemanan. [7]

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’adi rahimahullah menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan permisalan pertemanan dengan dua contoh (yakni penjual minyak wangi dan seorang pandai besi). Bergaul bersama dengan teman yang shalih akan mendatangkan banyak kebaikan, seperti penjual minyak wangi yang akan memeberikan manfaat dengan bau harum minyak wangi. Bisa jadi dengan diberi hadiah olehnya, atau membeli darinya, atau minimal dengan duduk bersanding dengannya , engkau akan mendapat ketenangan dari bau harum minyak wangi tersebut. Kebaikan yang akan diperoleh seorang hamba yang berteman dengan orang yang shalih lebih banyak dan lebih utama daripada harumnya aroma minyak wangi. Dia akan mengajarkan kepadamu hal-hal yang bermanfaat bagi dunia dan agamamu. Dia juga akan memeberimu nasihat. Dia juga akan mengingatkan dari hal-hal yang membuatmu celaka. Di juga senantiasa memotivasi dirimu untuk mentaati Allah, berbakti kepada kedua orangtua, menyambung silaturahmi, dan bersabar dengan kekurangan dirimu. Dia juga mengajak untuk berakhlak mulia baik dalam perkataan, perbuatan, maupun bersikap. Sesungguhnya seseorang akan mengikuti sahabat atau teman dekatnya dalam tabiat dan perilakunya. Keduanya saling terikat satu sama lain, baik dalam kebaikan maupun dalam kondisi sebaliknya.  Jika kita tidak mendapatkan kebaikan-kebaikan di atas, masih ada manfaat lain yang penting jika berteman dengan orang yang shalih. Minimal diri kita akan tercegah dari perbuatan-perbuatn buruk dan maksiat. Teman yang shalih akan senantiasa menjaga dari maksiat, dan mengajak berlomba-lomba dalam kebaikan, serta meninggalkan kejelekan. Dia juga akan senantiasa menjagamu baik ketika bersamamu maupun tidak, dia juga akan memberimu manfaat dengan kecintaanya dan doanya kepadamu, baik ketika engkau masih hidup maupun setelah engkau tiada. Dia juga akan membantu menghilangkan kesulitanmu karena persahabatannya denganmu dan kecintaanya kepadamu.[5]

Sedangkan dengan teman yang buruk, Syaikh As Sa’di rahimahulah juga menjelaskan bahwa berteman dengan teman yang buruk memberikan dampak yang sebaliknya. Orang yang bersifat jelek dapat mendatangkan bahaya bagi orang yang berteman dengannya, dapat mendatangkan keburukan dari segala aspek bagi orang yang bergaul bersamanya. Sungguh betapa banyak kaum yang hancur karena sebab keburukan-keburukan mereka, dan betapa banyak orang yang mengikuti sahabat-sahabat mereka menuju kehancuran, baik mereka sadari maupun tidak. Oleh karena itu, sungguh merupakan nikmat Allah yang paling besar bagi seorang hamba yang beriman yaitu Allah memberinya taufik berupa teman yang baik. Sebaliknya, hukuman bagi seorang hamba adalah Allah mengujinya dengan teman yang buruk. [6]

Kebaikan seseorang bisa dilihat dari temanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” [8]

Semoga bermanfaat.

Referensi:

[1] Dalam hal ini ada sebuah hadits maudhu, lihat al-ilal al-Mutanahiyah (2/123,127), Syarh al-Ihya (5/348) (Syaikh Bakr)

[2] Syarh al-Ihya (1/74) (Syaikh Bakr)

[3] Muhadarat Islamiyyah, Muhammad Khidr Husein (125-136) (Syaikh Bakr)

[4]HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628

[5] Bahjatu Quluubil Abrar, 148

[6] Bahjatu Qulubil Abrar, 185

[7] Al Allamah Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, “Syarah Hilyah Thalibil Ilmi,  p136-137″ . Akbar Media :Jakarta.2013.

[8] HR. Abu Daud dan Tirmidzi, Silsilah Ash-Shahihah, no. 927

Leave a Reply

Kajian Islam Ilmiah Syarah Kitab Arbai’n An’Nawawi 13 Desember 2017
Kajian Islam Ilmiah Syarah Kitab Arbai’n An’Nawawi 29 Nov 2017
Daftar Kajian Tashfiyah
PENDAFTARAN PESERTA WISMA MUSLIM UPI BANDUNG