Mushtholah Hadits(1) – Muqaddimah

MUQADDIMAH

  • Cuplikan sejarah tentang perkembangan ilmu mushtholah dan tingkatan-tingkatan yang dilewatinya.
  • Karangan-karangan yang masyhur dalam ilmu mushtholah.
  • Definisi-definisi yang pertama.

CUPLIKAN SEJARAH TENTANG PERKEMBANGAN ILMU MUSHTHOLAH DAN TINGKATAN-TINGKATAN YANG DILEWATINYA.

Peneliti yang menyelidiki memandang bahwa asas-asas dan rukun-rukun yang mendasar bagi ilmu riwayat dan meriwayatkan khabar-khabar ternyata terdapat di dalam Al-Qur’an Al-Karim dan As-Sunnah An-Nabawiyyah. Telah disebutkan di dalam Al-Qur’an bahwa Allah Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti.[1]

Dan juga terdapat dalam As-Sunnah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

نضر الله امرء سمع منا شيئا فبلغه كما سمعه فرب مبلغ اوعى من سامع

“Allah mengelokkan rupa seseorang yang mendengar sesuatu dari kami kemudian ia menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya karena barangkali yang disampaikan menghafalkan dari yang mendengar.”[2]

Dan dalam riwayat yang lain :

فرب حامل فقه الى من هو افقه منه,و رب حامل فقه ليس بفقيه

“Dan barangkali orang membawa fiqih kepada orang yang lebih faqih darinya, dan barangkali orang yang membawa fiqih bukan seorang yang faqih.”[3]

Maka di dalam ayat dan hadits yang mulia ini merupakan dasar tetap dalam mengambil khabar-khabar dan tatacara prinsipnya dengan memberitakan dan menghafalnya serta ketelitian di dalam meriwayatkannya kepada yang lain.

Dan mengikuti terhadap perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah para sahabat radhiyallahu ‘anhum, mereka menjadi kukuh di dalam meriwayatkan khabar-khabar dan menerimanya. Apalagi jika mereka ragu-ragu tentang kejujuran orang yang meriwayatkannya. Maka muncul berdasarkan atas masalah ini, isnad dan nilainya di dalam menerima khabar-khabar orang yang membawanya. Terdapat di dalam muqaddimah shohih Muslim dari Ibnu Sirin; ia berkata : “Mereka dahulu tidak bertanya tentang isnad, tetapi tatkala terjadi fitnah mereka bertanya sebutkanlah rijal-rijal (para periwayat) kalian kepada kami. Maka dilihat jika ahlus sunnah maka diambil hadits mereka dan dilihat jika ahli bid’ah maka tidak diambil hadits mereka.”[4]

Dan berdasarkan hal itu yaitu bahwasanya khabar tidak akan diterima kecuali setelah mengetahui sanadnya maka telah lahir ilmu jarh (celaan terhadap rowi) dan ta’dil (pujian terhadap rowi), dan pembicaraan terhadap para rawi, juga pengetahuan muttashil (bersambung) dan munqathi’ (terputus) dari sanad-sanadnya, serta pengetahuan ‘ilal (penyakit) yang tersembunyi. Dan telah muncul pembicaraan pada sebagian rowi akan tetapi masih sedikit dikarenakan sedikitnya rowi-rowi yang dicela pada zaman yang pertama.

Kemudian para ulama meluaskan dalam hal itu sehingga muncullah pembahasan dalam beberapa ilmu yang berkaitan dengan hadits dari segi kaidahnya dan tatacara membawa dan menyampaikan hadits, juga pengetahuan nasikh dan mansukhnya, serta ghoribnya dan selain hal-hal tersebut. Dan tidaklah hal itu terjadi melainkan para ulama telah saling meriwayatkannya secara lisan.

Kemudian zaman pun berkembang, dan ilmu-ilmu ini menjadi ditulis dan dicatat, tetapi pada tempat yang berpisah-pisah dari kitab-kitab yang dicampur dengan ilmu-ilmu yang lainnya, seperti ilmu ushul, ilmu fiqih dan ilmu hadits semisal kitab ar-risalah dan kitab al-umm karya Imam Asy-Syafi’i.

Dan akhirnya ketika ilmu-ilmu telah matang dan isthilah-isthilah telah tetap serta telah berdiri sendiri setiap disiplin ilmu dari selainnya, hal itu adalah pada abad keempat hijriyah. Para ulama memisahkan ilmu mushtholah di dalam kitab yang tersendiri.. Dan orang yang pertama kali memisahkan secara tersendiri dalam bentuk karangan adalah al-Qodhi Abu Muhammad al-hasan bin ‘Abdurrahman bin Khilad ar-Romahurmuzi yang wafat tahun 360 H, dengan kitabnya “Al-Muhaddits al-Faashil baina ar-Roowii wa al-Waa’ii”. Selanjutnya saya akan menyebutkan karangan-karangan yang paling masyhur dalam ilmu mustholah semenjak menjadi karangan yang tersendiri sampai zaman kita sekarang ini.

Diterjemahkan dari : Taisir Musthalahul Hadits

Penerjemah : Abu Abdirrahman


[1] QS. Al-Hujuraat:6

[2] At-Tirmidzi -kitab al Ilmi- dan ia berkata tentang hadits itu hasan shohih.

[3] Sumbernya sama tapi ia (At Tirmidzi) berkata haditsnya hasan. Dan diriwayatkan juga oleh Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad.

[4] Muqaddimah shohih Muslim

3 Comments

  1. Hartoyo Abu Shalih December 11, 2010

Leave a Reply

Daftar Kajian Tashfiyah
PENDAFTARAN PESERTA WISMA MUSLIM UPI BANDUNG
Dauroh Kitab Bulughul Maram: “Peringatan Terhadap Akhlak Yang Buruk” Al-Dauroh Kitab Bulughul Maram: “Peringatan Terhadap Akhlak Yang Buruk” Bersama Al-Ustadz Firanda Andirja, M.A
INFO KAJIAN GEGERKALONG (Sabtu 24 SAFAR & Ahad 25 Safar 1437)